First Love To My Husband

First Love To My Husband
Berbagi



Kesembuhan Arga kini dirayakan di panti X.Ia sudah bisa berjalan sendiri, namun belum boleh beraktifitas di kantor.


Banyak anak yang berkumpul berebut menyalami keluarga Arga. Mereka menyambut dengan suka cita. Arga sudah tidak asing dengan mereka.


Febri dan Nina juga ikut dalam acara amal tersebut.Tapi Arman meminta mereka mengenakan pakaian muslimah untuk pertama kalinya.


Mereka meminta bantuan Hana sebelum berangkat ke panti. Ia memilihkan jilbab yang simpel dengan bahan yang adem.


"Gampang kan makeknya?"


Kata Hana setelah selesai memakaikan pada mama Nina dan Febri.


"Iya, makasih ya dek... Mudah-mudahan betah."


Ucap Febri sambil tersenyum.


"Harus betah mbak! Kalo buka aurat, nanti di neraka papa juga kena imbasnya loh!


"Kok papa? Kan gue udah baligh? Udah nanggung dosa sendiri dong?!"


"Tapi papa sebagai kepala keluarga juga dapat dosa karena tidak mampu membimbing anaknya."


"Walau pun anaknya yang ngeyel?"


"Iya! Tapi kalo anak sholeha bisa ajak orang tuanya ke surga. Hayo... mau ngajak papa ke surga atau nyeret ke neraka?"


"Aku malu ma kamu dek. Mbak udah dewasa, tapi minim ilmu agama. Ajarin mbak terus ya dek..."


"Insya Allah mbak... Hana juga masih terus belajar kok. Yok berangkat! Udah ditungguin!"


Hana dan Febri bergandengan.


****


Arman selalu berada di dekat Arga, untuk segala kemungkinan karena putranya masih belajar berjalan.


Sementara Nina dan Wawa membagikan souvernir untuk anak-anak di sana. Febri dan Hana mengatur antrian bersama penjaga panti.


"Makasih buk..."


"Sama-sama... Belajar yang rajin ya..."


Tak lupa Wawa mengusap kepala anak-anak panti.


"Kenapa harus di usap kepalanya War?"


"Biar mereka merasakan kasih sayang kita, dan kelak... rambut mereka akan jadi peneduh dari panasnya matahari."


"Oh... gitu!"


Tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam, "Hana?!"


Ia mendekat, dan Hana pun memeluknya.


"Nia... ngapain di sini?"


Mereka satu sekolah saat SMP. Nia tak pernah punya uang untuk pergi ke kantin. Dan Hana juga sangat suka membaca. Hal itulah yang membuat mereka sering bertemu di perpustakaan sekolah. Ya, walau pun pengunjungnya kadang hanya mereka berdua. Karena sebagian teman-temannya sudah punya android dan tinggal tanya sama si pintar Google.


"Aku memang tinggal di sini, Han."


"Sejak kapan?"


"Sejak rumahku terbakar. Ibuku meninggal dalam kebakaran itu. Aku membawa adik-adikku ke kota ini awalnya untuk mencari paman ku. Tapi aku bertemu pak Arman dan membawaku kemari."


"Maaf, aku tidak mendengarnya. Aku pikir, kamu pindah sekolah waktu itu!"


"Dulu kita masih anak-anak. Wajar kalau kita belum paham. Kamu kok bisa bareng keluarga pak Arman?"


Hana menunjuk pada suaminya dengan senyum bahagia.


"Udah marriage? Enak ya, aku masih bingung cari kerja."


"Mau kerja apaan?"


"Aku cuma tamatan paket C, susah cari kerja! Sarjana aja banyak yang nganggur! Ya, sementara bantu ibu panti aja."


"Kalo kerjanya agak jauh, mau?"


"Kasian adik-adik aku dong Han. Mau yang Deket sini aja deh!"


"Ok, nanti saya akan bantu. By the way, kenalin nih kakak ipar."


"Hmm kirain lupa sama mbak!"


Sahut Febri sewot.


"Maaf mbak, udah lama ga jumpa!"


"Nia kan? Kamu bisa setrika ga?"


"Ya bisa dong mbak, anak panti mah kalo kerjaan rumah paling jago!"


"Good job. Mbak akan buka laundry disekitar sini. Dan kamu yang kelola. Mau?"


"Mau mbak. Tapi saya belum pernah pake mesin cuci."


"Hana, mbak besok udah harus balik ke kantor cabang. Masalah yang lain, bisa kamu urus kan?"


"Bisa mbak! Tapi kalo mbak pulang besok, kapan laundry mau dibikin?"


"Pas di pertigaan itu adalah rumah mama Nina yang dulu. Sekarang kosong. Kamu atur ya?!"


"Siap bos!"


Pertemuan membawa berkah. Teman lama tertolong. Omset bertambah. Begitulah silahturahmi seharusnya. Bukan mengejek orang yang jelek, bukan juga merendahkan orang yang susah. Bangkit bersama. Bergandengan.


Seperti kata D'MASIV


Kita disini bersama sama


Melewati indah dunia


Dipayungi sinar mentari


Tak ada lagi yang kita takuti


Kita bersama seperti kawan


Takkan ada yang mampu mengalahkan


Di bawah langit yang sama kita


Bergandengan saling menajaga


Di atas bumi yang sama kita


Bergandengan saling menjaga


Bersama teman aku gembira


Karena kita semua saudara


..............