
Setelah hujan datang pelangi. Begitulah hubungan Aca dan Reno. Kini wajah Aca nampak berseri, bergandengan mesra dalam pesta Febri. Banyak juga yang menggunjing, kalau kini Reno telah menjadi gembel. Tapi tampilan Reno yang mewah seolah membungkam prasangka lawan bisnisnya. Tentu saja berkat Aca yang begitu baik dan memperhatikan penampilan suaminya.
"Ternyata Reno masih berdiri kokoh! Tidak oleng seperti yang diberitakan."
Bisik salah satu kolega Warna Group.
"Selamat malam tuan Adrian, senang berjumpa dengan anda."
Sapa Aca yang mendengar suaminya menjadi bahan gunjingan.
"Malam nona Aca. Suatu kehormatan besar bisa bertemu dengan anda. Nona bersama .... Reno?"
"Ya, dia suami saya. Maaf kemarin kami tidak mengundang anda."
"Oh ya, ga papa. Maaf, saya kira nona masih lajang."
"Tidak, kami menikah sudah hampir setahun."
"Hi Ren, apa kabar?"
Sapa Deni agak kaku.
"Baik Den. Mana istrimu?"
"Dia ga bisa ikut. Lagi hamil tua. Lu kapan nyusul?"
"Ini lagi proses. Bentar lagi nyusul. Kami tinggal dulu ya, mau nemuin Febri."
Sahut Reno tak ingin berlama-lama.
"Oh, silahkan."
Deni malu akan perbuatannya di masa lalu yang begitu merendahkan Reno.
****
"Kamu kayaknya dekat banget sama Deni a'."
"Iya, dulu saat aku berjaya. Setelah aku terpuruk, dialah yang menawariku jadi OB. Tapi, lumayanlah. Ketimbang teman-teman yang lain. Bahkan ada yang pura-pura ga kenal."
"Sabar ya a'. Aku akan membantumu bangkit kembali. Yang penting, aa' harus bisa jaga kepercayaan ku."
Aca mengusap punggung suaminya lembut.
"Makasih ya neng. Aa' bersyukur... punya istri sebaik kamu."
Reno mengecup lembut kening istrinya seraya berjalan menuju Febri.
"Kau terlihat sangat cantik Feb!"
Aca memuji Febri yang kini terlihat lebih muda darinya.
"Makasih ya Ca. Ga nyangka, sekarang kita bisa berada di payung yang sama."
Febri masih sangat ingat, bagaimana ia dan Aca dulu sering bertengkar memperebutkan Arga. Tapi kini, mereka malah bergabung ke Warna Tape Industries dan mengembangkannya bersama.
"Itulah hidup, Feb. Kita ga tau kedepannya gimana."
Mereka saling berpelukan.
"Benar! Kita tidak tau tentang masa depan. Aku yang dulu sangat disegani, kini tersingkir dengan sendirinya. Tapi mungkin, masa depanku bersama anak dan istriku bisa tergambar jelas. Suatu saat nanti. Aamiin"
Do'a Reno dalam hati.
"Nih, buat lu."
Aca menyerahkan kotak kecil yang bahkan bisa masuk di sakunya.
"Thank's ya. Enjoy the dish."
"Yes of course. Enjoy your night."
Aca berbisik dan segera berlalu. Febri hanya tersenyum mendengar bisikan temannya.
Aca tidak punya kewajiban untuk mengelilingi para tamu. Meskipun ia sudah dianggap keluarga,tapi kondisinya yang tengah hamil muda mengharuskannya untuk tidak terlalu capek. Ia juga sangat memilih makanan supaya tidak mual.
"Masuk yok a', neng capek!"
"Baiklah, kita pamit dulu sama Arga ya."
Mereka menghampiri Arga dan Hana yang sedang berbincang dengan rekan bisnisnya.
"Han, mbak masuk dulu ya! Udah pegel."
"Iya mbak. Jangan terlalu capek! Istirahatlah."
"Mari pak Arga, saya permisi dulu."
"Silahkan mas Reno."
Arga mempersilahkan dengan manis. Ia lega, karena Reno sudah banyak berubah. Hal itu tergambar oleh wajah Aca yang kini selalu ceria.
"A..' aku pengen rujak."
"Sebentar aa' usahakan ya neng."
Reno bergegas. Meninggalkan Aca di kamar sendiri.
"Mas, bisa antar saya nemuin juru masaknya?"
Tanya Reno pada salah satu pelayan.
"Tentu! Mari tuan..."
Mereka berjalan menuju dapur.
Setelah Reno menjauhi dari kamar, Rangga yang dari tadi memperhatikan mengetuk pintu. Aca mengira suaminya kembali karena ada sesuatu yang tertinggal, tapi ia terkejut setelah melihat Rangga yang langsung menerobos masuk.
"Rangga! Apa yang kau lakukan?"
"Aku kangen Ca!"
"Keluarlah! Atau aku akan berteriak!"
"Teriaklah. Setelah itu semua orang akan tau tentang hubungan kita!"
"Hubungan apa yang kau maksud! Aku tidak merasa punya hubungan apapun denganmu!"
"Tapi aku merasa kita sangat spesial. Bahkan pak Arga yang pacaran denganmu selama enam tahun belum pernah menidu**mu bukan?! Akulah lelaki paling spesial itu!"
Plak
Aca menampar Rangga cukup keras. Tapi tidak menyiutkan nyali Rangga. Ia justru semakin mendekat hingga tubuh Aca rapat ke dinding. Rangga mengurung Aca dengan kedua tangannya.
"Stop Ngga, atau aku akan memecat mu!"
"Ini bukan kantor Ca. Kau tidak bisa memecatku atas kesalahan di luar kantor!"
"Reno sebentar lagi datang! Keluarlah!"
Aca mencoba berbagai cara.
"Kenapa kau belum juga bercerai? Malah semakin mesra. Aku cemburu Ca!"
Rangga mulai melu**t bibir Aca penuh gairah. Aca tidak bisa bergerak karena kedua tangannya dalam kuncian Rangga ke dinding. Aca kemudian menggigit bibir Rangga dengan sangat keras, hingga Rangga sedikit mundur dan merasakan asin karena darah dari bibirnya.
"Sepertinya kau begitu bersemangat, sampai bibirku berdarah."
Rangga menatap seperti ingin menerkam.
"Omong kosong! Keluarlah! Aku sedang hamil!"
Aca mencoba mengulur waktu dengan membuka obrolan menarik.
"Hamil? Apakah itu anakku?!"
"Mana mungkin! Usia kandungan ku sudah tujuh minggu!" Batin Aca.
"Keluarlah! Kita punya banyak waktu untuk membicarakannya. Ini bukan waktu yang tepat!"
Aca melunak untuk dapat mengusir Rangga dari kamarnya.
"Baiklah sayang. Jangan menghindari ku lagi ya!"
Rangga kembali melu**t bibir Aca beberapa saat dan pamit keluar.
Aca lega, bisa mengusir Rangga dengan cara halus. Walau ia adalah atasan Rangga, nyatanya hardikan tidak berhasil membuat Rangga ciut. Lagi pula tenaga Rangga tidak bisa dikalahkan oleh Aca. Lain kali ia harus berhati-hati dengan Rangga. Ia harus mencari cara untuk menghadapinya.
"Maaf, istri saya pengen rujak. Adakah diantara kalian yang bisa membuatkannya?"
Tanya Reno pada beberapa koki di sana.
"Saya bisa tuan. Tapi sebelumnya, saya mau tanya. Apa istri tuan sedang hamil?"
"Ya. Memang kenapa?"
"Biasanya orang hamil menyukai mangga muda. Saya akan memetiknya di halaman belakang."
"Baiklah, saya akan membantu."
Reno mengikuti orang yang bersedia membuatkan rujak untuk istrinya. Ia menunggu sampai prosesnya selesai. Dan membawanya sendiri ke kamar khusus untuk istri tercinta.