
I am a big big girl
In a big big world
It's not a big big think
If you leave me
But I do do will
But I do do feel
Miss you much
Miss you much
Begitulah Febri selalu bernyanyi untuk menguatkan dirinya sendiri. Om Rangga sudah memecatnya, dengan alasan takut ketahuan istrinya. Om Hendra meninggalkannya. Om Radit sudah menetap di luar negri. Arga juga kandas. Bagaimana ia harus melanjutkan hidupnya tanpa penghasilan? Tanpa orang-orang yang selalu mensuplainya? Mamanya juga pasti akan marah jika tahu ia sudah jadi pengangguran.
"Pasti mama akan memintaku untuk segera menggaet om tajir lagi. Tapi fisikku masih lemah. Dan pasti tidak menggairahkan. Tante Nina..., aku harus gimana?" Febri memeluk Tante Nina yang notabene adalah teman mamanya, tapi selalu ada buatnya.
"Kamu di sini aja dulu. Tante akan tungguin kamu sampai pulih!" Jawab Nina yang belum berani mengatakan kalau dia sebenarnya ibu kandung Febri.
"Tante...,ini apartemennya om Arman! Kalau dia tau, aku sudah tidak hamil lagi, dia pasti akan mengusirku."
"Kok gitu?"
"Ya.., karena dia tau, kalo aku cuma menjebak putra kesayangannya."
"Emang, om Arman sayang banget ya sama putranya itu?"
"Ya jelaslah tan....,secara anak satu-satunya."
"Kamu juga anak papamu nak. Dia juga pasti akan sayang sama kamu. Dan nyelamatin hidup kamu." Batinnya.
Tiba-tiba Arman berada di tengah-tengah mereka karena dia membawa kunci cadangan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka bersamaan.
"Apa aku goda om Arman aja ya tan? Pasti hidup ku mewah nanti." Bisik Febri pada Nina
PLAK
Nina spontan menampar pipi anak kandungnya yang selama ini sangat ia sayangi. Arman pun kaget dan menatap aneh pada Nina.
"Tante! Apaan sih!" Seru Febri sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
"Maaf-maaf. Ada nyamuk! Tante spontan aja tadi." Nina masih belum berani mengatakan kenyataan. Tapi Arman tahu kalau itu bukan tamparan untuk nyamuk.
"Udah makan belum? Ni om bawain makanan." Kata Arman mencairkan suasana.
"Ih.. om baik banget deh! Febri jadi makin kesemsem nih." Febri menghampiri Arman dan bergelayut manja di lengan Arman.
Arman dan Nina saling tatap dan menggeleng. Bagaimanapun Febri adalah tanggung jawab mereka dunia akhirat.
"Maaf om. Febri ga tau lagi harus gimana. Sekarang Febri cuma pengangguran."
"Om akan kasih kamu pekerjaan di perusahaan cabang. Tapi, kamu harus lebih menonjolkan kecerdasan, bukan keganjenan! Ingat, sekali om dengar kabar miring tentangmu. The end!"
"Serius om?! Jadi Arga bakal jadi atasan aku dong!"
"Dan... dengan satu syarat mutlak, kamu ga boleh godain om atau pun Arga. Do you understand?!"
"Hemm." Febri mengangguk mengerti. Ia tidak ingin bermain dengan singa. Arman memang sangat ditakuti di kalangan pebisnis lain. Walaupun ia melepaskan Arga sebagai pucuk pimpinan, tapi bayang-bayang Arman ada di belakangnya.
"Oh iya Nina, apa suamimu tidak keberatan kamu menginap di sini?" Arman mengalihkan pembicaraan, agar suasana kembali adem.
"Emang suami Tante udah kembali ya?" Jawab Febri menyela. Dan Nina hanya mengangguk dengan senyum tertahan.
"Akhirnya...setelah tiga puluh tahun lebih menanti, akhirnya pulang juga. Selamat ya tante...! Besok-besok kenalin ke Febri ya...?!"
"Maksudnya...?" Arman mencoba mencerna omongan Febri.
"Jadi suaminya Tante Nina udah merantau lama....banget. Mulai anak tante Nina masih di dalam perut, sampek anaknya dewasa belum juga kembali. Kasian ya om hidup tanteku ini. Udah suaminya ga pulang-pulang. Anaknya juga di luar negeri udah lama banget. Sabar ya tante. Anggap aja Febri jadi anak tante. Febri seneng kok."
Nina yang tadinya hanya mendengar sambil tatapannya sering bertemu pada Arman, kini memeluk Febri.
"Nak Febri mau manggil tante ibu?" Tanyanya ragu.
"Boleh! Ibu Nina..."
"Sudah! Makan dulu, keburu dingin. Febri, habis makan kamu minum obat. Kamu harus banyak istirahat." Arman sudah menyimak semuanya. Dan ada banyak hal yang akan ia bahas bersama Nina.
"Semoga pengaruh obat membuat Febri cepat tertidur." Batin Arman.
Setelah selesai makan malam, Nina menemani Febri di kamarnya. Sementara Arman nonton TV, walaupun pikirannya ga karuan.
[ Assalamu'alaikum dek]
[ Wa'alaikumsalam mas. Mas dimana? Ga ada Arga, ga ada mas, sunyi di rumah. Cepat pulang ya mas.]
Lama Arga tidak membalas chat dari istrinya. Tapi akhirnya, ia membalasnya juga.
"Masalah ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Wawa harus tau segalanya." Batin Arman.
[ Sayang.... mas udah nemuin Nina dan anak mas. Mas boleh ga malem ini kumpul sama mereka dulu. Soalnya putri mas baru ketimpa musibah. Tapi, kalo kamu ga bolehin, mas pulang sekarang.]
[ Alhamdulillah mas. Akhirnya....Ya udah, mas selesain masalah putri kita dulu. Aku ga papa kok. Ada simbok juga di rumah. Secepatnya kenalin ke aku ya mas...]
[ Makasih sayang... kamu memang the best.]
[ Mas bisa aja...Udah dulu ya mas...,Wawa ngantuk. Assalamu'alaikum.]
[ Wa'alaikumsalam sayang.]
Arman lega setelah memberi tahu istrinya. Ternyata pengakuan itu tak sesulit yang ia bayangkan. Itu karena Wawa adalah wanita istimewa.