First Love To My Husband

First Love To My Husband
Kehangatan Nenek



"Assalamu'alaikum nek..." Hana menghambur ke pelukan nenek yang sedang menyapu halaman pagi itu.


" Wa'alaikumsalam cah ayu. Kok ndak nelpon dulu? Lah... sama siapa nduk? Calon kamu?" Tanyanya segera setelah melihat Arga menyembul keluar.


"Assalamu'alaikum nek. Saya Arga, calon suaminya Hana." Jawab Arga sambil mencium punggung tangan nenek. Tentu saja diikuti oleh tatapan heran dari Hana.


"Walah ganteng e... sopan lagi. Mari masuk leh.Pasti capek kan?" Sambut nenek dan bahkan meninggalkan Hana di luar. Arga hanya melirik Hana sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Eet dah. Siapa cucunya? Ditinggal aja. Tuh cowok juga kebangetan, main ngaku aja. Kenal juga baru semalem!" Gerutu Hana dalam hati.


"Taruh barang-barangmu di kamar belakang ya leh. Punya Hana di kamar nenek. Nanti kalo udah resmi baru boleh satu kamar. Bentar nenek ke dapur dulu ya." Ucap sang nenek panjang lebar.


" Iya nek, makasih ya udah nerima Arga dengan baik di sini." Kata Arga dengan senyum manisnya. Nenek hanya tersenyum dan mengangguk, dan melenggang ke dapur.


"Apaan si loh? Main ngaku-ngaku!" Sewot Hana.


"Apaan? Emang kamu mau, nenekmu tau, kalo kamu dianter sama orang yang ga kamu kenal? Ntar jantungan loh! Mau?" Sahut Arga enteng.


Hana berpikir sejenak. "Awas aja kalo u manfaatin kebaikan nenek gue." Ancam Hana sambil mengepalkan tinjunya.


Hana terus mengubah panggilannya ke Arga karena kebingungannya.


"Oke honey." Jawab Arga tersenyum sambil masuk ke kamarnya.


"What? Honey? Eh..." Hana segera menyusul hendak meng-gampar sumber suara tadi. Tapi...


"Eet, kamar kamu di depan sama nenek nduk...!Pamali!" Seru nenek ketika melihat Hana hendak masuk ke kamar calon cucu menantunya itu.


"Kelihatannya Hana udah ga sabar nek, pengen cepet dihalalin." Goda Arga.


"Ya udah, jangan digantung kelamaan. Biar nenek bisa cepet punya cicit." Sahut nenek di luar dugaan.


"Lah, emang kamu ga berani ngomong sama ayahnya Hana langsung?" Tanya nenek heran.


"Bukan itu nek! Tapi ngomong sama Hana yang susah. Dia tetep belum mau nerima lamaran saya." Sahut Arga dengan wajah memelas.


"Stop! Ini sudah keterlaluan. Nek.., Hana ga kenal sama cowok ini...!" Seru Hana.


"Tu kan nek...Hana tetep ngerasa belum ngenalin saya. Padahal kitakan udah pacaran lama. Masak belum mau dilamar juga?" Ucap Arga membuat Hana semakin kesal dan berlalu ke kamarnya.


"Dasar cowok aneh!" Umpatnya.


"Ya udah, taruh tasmu dan kita bicarakan ini sambil minum teh di ruang keluarga ya le..." Ucap nenek yang bingung dengan dua sejoli di hadapannya. Arga mengangguk dan segera menyusul nenek ke ruangan yang dimaksud barusan.


Hana melintasi keduanya dan tak mau ambil pusing dengan obrolan keduanya. Ia ingin segera mandi dan mengisi perutnya yang kosong.


"Jadi gimana nek, kalo saya ngelamarnya di sini aja?" Rayu Arga pada sang nenek.


"Uhuk." Hana hampir tersedak mendengarnya dari dapur yang memang ga jauh dari tempat Arga bicara.


"**Mas Arga..., cepetan makan! Entar lauknya Hana abisin loh!"


"Udah sana, makan dulu. Nanti kita bicarakan bertiga ya." Ucap nenek lembut.


"Ngomong apa barusan?Jangan ngadi-ngadi deh!Dasar aneh!" Serbu Hana ketika Arga duduk di sebelahnya.


"Ssst, makan dulu. Ntar tersedak loh." Jawab Arga santai.


Hening. Hanya suara sendok yang berdenting. Namun dalam hati Hana bergemuruh menahan sesuatu yang hampir meledak. Hatinya berdebar saat seorang Arga mendampinginya makan. Untuk pertama kali ia sedekat ini dengan orang asing yang menurutnya cukup ganteng. Perawakan yang tinggi kekar, kulit bersih, rambut hitam lebat, bibir penuh, hidung bangir, alis tebal dan sorot mata yang tajam membuat Hana selalu mengalihkan pandangan darinya karena tak tahan dengan desiran hatinya. Sebenarnya sosok Arga adalah pria impian banyak wanita pada umumnya, termasuk Hana. Tapi ia belum mengenalnya lebih jauh, dan tidak berani mempertaruhkan masa depannya.