First Love To My Husband

First Love To My Husband
Pertemuan



Hana baru saja lulus SMA, ia berniat untuk mengunjungi nenek a di kampung.


" Ma, liburan ini aku ke rumah nenek ya? Kangen."


Bujuk Hana pada sang mama.


"Boleh, tapi naik KA aja ya, jangan bus. Lebih aman. Kapan kamu mau berangkat? "Tanya sang mama.


" Entar sore deh ma, biar pagi udah di sana. Pasti nenek seneng dapat kejutan."


" Berarti belum telpon nenek?" Hana hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan mamanya.


"Terserah kamu deh, tapi langsung kasih kabar ya kalo dah nyampe. Salam juga buat nenek." Sahut mama langsung bergegas untuk menyiapkan oleh - oleh untuk bunda tercinta. Sementara Hana hanya mengangguk dan tersenyum riang karena akan segera bertemu neneknya.


Dengan kereta malam, ku pulang sendiri... Mengikuti rasa rindu...


Pada kampung... halamanku...


Pada ayah yang menunggu...


Pada ibu... yang selalu... menyayangiku...


"Lah padahal mau jumpai nenek, kok malah lagunya gitu. " gumamnya dalam hati.


" Kok ga diterusin lagunya? Suara kamu ternyata enak juga." Suara bariton di sampingnya membuyarkan lamunan Hana.


"Duh, gue lupa kalo satu bangku sama ni cowok." Hana salah tingkah dan hanya bisa tersenyum.


"By the way, kita belum kenalan loh. Gue Arga." Sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum manis.


"Hana." Jawabnya singkat tanpa menyambut uluran tangan di sebelahnya.


"Kakap nih cewek."Batinnya Sambil tersenyum.


" Kamu ga makan?" Tanya Arga membuat Hana menoleh.


" Em..." Hana memperhatikan sebentar pedagang yang lalu - lalang di kereta.


" Bang, sini! Kasih dua potong ya, sama airnya satu." Aroma burung goreng mendominasi hidungnya. Ia sengaja hanya memesan satu air karena di dilihatnya Arga sudah memegang botol air mineral.


" Nih." Hana menyerahkan sepotong untuk pria yang baru dikenalnya.


"Thank's. " Ucap Arga seraya tersenyum.


" Manis juga ni cewek." Batinnya.


Saat Hana mencari lembaran rupiah di dompetnya, Arga sudah lebih dulu membayarnya.


" Eh... kok-" Hana tidak menyelesaikan ucapannya.


" Udah, gapapa. Gue kan cowok, masak dibayarin?"


" Beneran cuek" Batin Arga sambil memperhatikan gaya tidur Hana.


"Oops." Arga menangkap kepala Hana yang tiba - tiba meluncur ke bahunya.


"Akhirnya..." Batin Arga senang.


Arga melewati stasiun tujuannya karena bahunya masih dipakai Hana. Ia terus memainkan gawainya. Memberi kabar pada orang kepercayaannya, menunda kedatangannya.


" Han..honey...😍, bangun Han. Udah stasiun terakhir nih." Orang yang melihatnya pasti mengira kalau mereka dua sejoli, dengan cara Arga membangunkan Hana.


Hana mulai membuka matanya, dan segera meluruskan kepalanya.


" Maaf, saya ketiduran." Kata Hana sambil membenahi jilbabnya.


" Duh...malunya..." Gumamnya Hana.


" It's ok." Jawab Arga tersenyum.


Arga juga menunjukkan sikap cuek tapi tetap mengikuti arah gadis itu. Ia selalu berjalan di belakang Hana.


Hana nampak kebingungan. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menoleh ke kanan dan kiri.


" Mas, bisa minta tolong ga? Hp saya lowbat. Pesenin taxi online ya? Please..." Hana memberanikan diri meminta bantuan Arga. Padahal dia sudah lupa nama cogan yang sempat menjadi sandaran tidurnya tadi.


" Em... alamatnya dek?" Arga mengotak - atik gawainya sambil melirik Hana.


" Jln. Sisingamangaraja nomor sepuluh." Jawab Hana singkat.


" Duh... kok manggilnya jadi mas - adik sih? Tadikan gue cuma lupa namanya! " Hana masih canggung berdekatan dengan orang asing. Tapi ya, dia memang butuh pertolongan.


" Duduk dulu yok, sambil nunggu. Atau mau sarapan dulu?" Ajak Arga yang mau tak mau harus diikuti oleh Hana.


" Ga ah, nanti sarapan di rumah nenek aja." Jawab Hana.


Arga hanya manggut-manggut.


" Oh... ternyata ke rumah nenek." Gumamnya mengerti.


" Libur sekolah?" Tanya Arga mengakrabkan diri, yang harusnya sejak di kereta tadi ia mulai.


" Ya, dah tamat. Jadi bisa puas ke rumah nenek. Mama juga ga batasi waktunya." Jawab Hana mulai panjang.


" Emang ga ngelanjut? " Tanya Arga lagi.


" Em... belum ada rencana. Mungkin tahun depan. Itu pun kalo mau." Jawab Hana asal.


" Lanjut tenda biru aja, sama mas..." Goda Arga. Dan merekapun tertawa bersama.


" Taxinya udah datang, kita searah. Sekalian aja yah." Pinta Arga. Awalnya Hana terkejut, lalu kemudian mengangguk setuju.