First Love To My Husband

First Love To My Husband
Harus Bangkit



Beradaptasi di rumah mertua yang bagi Hana sangat mewah membuat ia terlihat kaku. Ia sering membantu bersih-bersih, kadang menyiram bunga, ataupun ke dapur. Hana lebih suka bergabung dengan para pembantu dari pada harus intens dengan mertuanya. Ia terlihat dekat dengan Wawa hanya ketika menjenguk Arga di rumah sakit.


Sungkan. Itulah yang ia rasakan. Apalagi jika ada Arman di rumah. Ia tidak ingin mengganggu kemesraan mertuanya saat berdua. Tadinya Arman dan Wawa membiarkan saja agar Hana betah tinggal di sana. Sampai suatu hari....


"Hana, kamu kuliah ya?!" Mau?"


"Mau ma. Tapi..., Hana cari kampus dekat rumah sakit aja ya ma, biar tiap hari bisa tetep jenguk mas Arga."


"Boleh. Mama seneng dengernya. Kamu mau ambil jurusan apa?"


"Pengennya sih kedokteran, biar bisa ngobatin mas Arga, tapi..., disekitar situ ga ada jurusan kedokteran. Komputer semua kayaknya."


Disekitar rumah sakit banyak terdapat UNIKOM Swasta. Bertabur seperti jamur.


"Papa dukung! Tapi, papa pengen kamu masuk ke perusahaan papa. Belajar bisnis. Jadi nanti, kamu bisa bergantian memimpin perusahaan dengan Arga saat Arga ada kendala. Seperti saat ini. Papa sudah semakin tua nak."


"Tapi Hana ga ngerti apa-apa soal bisnis pa. Takutnya perusahaannya malah tambah....."


Hana tidak berani meneruskan kata-katanya. Ia ingat saat Arga ga mau nginep di rumah, malah justru nginep di rumah sakit sampai detik ini. Benar kata orang tua, ucapan adalah do'a.


"Papa akan atur samua. Tapi, apa kamu tidak keberatan dengan syarat yang akan papa ajukan?"


"Syarat apa pa?"


"Kamu kuliahnya ambil malam saja. Pagi sampai sore ngantor kaya karyawan yang lain."


"Baik pa."


"Dan, kamu akan jadi asisten sekretaris di sana. Kamu juga ga boleh bilang kalau kamu istrinya Arga. Bilang aja kalau kamu ponakan papa. Jadi kalau di kantor, panggil om atau pak saja."


Deg, Hana mengangguk. "Begitu rendahkah aku, sampai papa mertuaku malu menganggap ku ada."


"Mas... apaan sih pake syarat kayak gitu segala? Mama ga setuju!"


"Sayang..., Aca itu sekretaris yang hebat! Papa pengen dia bisa mengajari Hana dengan baik. Mama tau kan... kalau Aca itu cinta mati sama Arga? Kalau dia tau Hana ini istrinya, pasti dia ga mau ngajari Hana. Bisa-bisa dia malah berusaha menyingkirkan Hana."


"Oh... jadi demi keselamatan Hana toh?! Kalau gitu, mama setuju!"


Hana pun tersenyum mengetahui bahwa ayah mertuanya ternyata sangat menyayanginya dan juga sangat teliti.


"Saya terima syaratnya pa. Kapan saya mulai bekerja?"


"Setelah kamu masuk kuliah. Karena setelah bekerja nanti, waktumu akan banyak tersita. Belum lagi nengokin Arga."


"Baik pa. Secepatnya Hana akan daftar kuliah. Di kantor boleh pakai hijab kan pa?"


"**Boleh. Papa malah seneng. Kamu sesuaikan aja nanti pakaiannya. Oh ya, kamu juga ga boleh bilang ke siapapun tentang keadaan Arga sekarang! Kalo ada yang nanya, bilang aja Arga di luar negeri. Okey?"


"Dalam dunia bisnis, lawan tidak boleh tau kalau kita dalam kondisi lemah. Kamu harus ingat! Itu pelajaran pertama dari kantor papa."


"Hana ngerti pa."


"Bagus! Seneng dengernya. Papa istirahat dulu ya. Kamu harus siap-siap capek kayak papa nanti kalo sudah bekerja**."


"Iya pa."


"Mama juga masuk ya, kamu istirahat sana! Udah malem."


"Iya ma, bentar lagi."


Pasangan yang sudah tak muda lagi itu bergandeng mesra meninggalkan menantu kecilnya.


"Mertuaku... udah tua pun masih mesra...aja." Batin Hana sambil tersenyum melihat kemesraan mereka.


****


Pagi hari, Hana pamit pulang ke rumah orang tuanya untuk mengambil beberapa berkas untuk masuk kuliah. Diantar oleh mang Didi, supir kepercayaan keluarga yang sudah dianggap seperti saudara.


"Mang Didi, nanti Hana mau nginep. Mang Didi pulang aja ya, kasian mama Wawa."


"Iya neng."


Mobil melaju normal.


Tiba-tiba, Hana minta berhenti saat melintasi sebuah pohon yang ia tabrak bersama Arga. Ia memperhatikan pohon itu dengan seksama. Mengelilinginya, dan menyentuh kulit pohon yang mulai pulih.


"Bahkan pohon ini sudah berangsur pulih! Kapan kamu akan sembuh mas? Kenapa belum ada tandanya sama sekali?"


Hana menitikkan air mata sambil terus mengelus kulit pohon bekas tabrakan itu. Mang Didi pun menatap pilu dan menangis tanpa suara. Kemudian kembali melaju saat hati mulai tenang.


****


Hana terkejut melihat kondisi kamarnya yang sudah berubah. Bahkan kini sudah terpasang AC di sana.


Nenek sudah pulang ke rumahnya. Ayah juga sudah tidak memakai kursi roda lagi. Tapi mamanya masih tetap berjualan di pajak pagi. Dan tentu saja belum pulang di jam segini.


"Ma, nanti kala Hana udah kerja, Hana akan kirim uang hasil keringat Hana sendiri. Mama ga perlu capek-capek lagi kayak sekarang."


Ayah mengambil alih pekerjaan rumah, seperti menyapu, jemur pakaian, cuci piring, dan lain sebagainya. Tapi masak tetap sang mama. Karena citra rasanya tak terkalahkan. Ayah belum boleh bekerja yang berat oleh istri tercintanya.


"Yaa Allah... dibalik musibah ini, Engkau memberi kebahagiaan yang lain. Ayah...sekarang ayah sudah tidak terbaring seperti dulu..."


Mang Didi sudah pamit pulang setelah minum kopi bersama ayah. Hana menunggu mama di teras bersama ayahnya.