
Setelah mengetahui perselingkuhan suaminya dengan Clara, Aca cenderung lebih dingin dan irit bicara pada Reno. Hal ini ia lakukan untuk meredam emosinya. Karena jika ia bicara bisa sampai kemana-mana dan pasti akan terjadi pertengkaran. Dalam kondisi dompet kosong dan tekanan akan suatu penghianatan dari Reno, cepat atau lambat pasti akan terjadi. Namun Aca lebih sering berdzikir dalam hati sesuai petunjuk dari Hana kemarin. Bahwa dzikir adalah cara terbaik untuk meredam emosi. Bagaimana pun, Aca yang datang mengganggu hubungan sejoli yang tadinya memang sudah terajut indah. Mungkin memang sudah takdir.
Reno yang menyadari perubahan sikap Aca, selalu memberikan perhatian lebih dan memulai obrolan lebih dulu pada istri cantiknya.
"Neng..., besok udah harus bayar kontrakan ya? Neng masih ada simpanan?"
"Ada. Kemaren dipinjami temen."
Jawab Aca singkat.
"Syukurlah, untuk bulan ini kita selamat."
Reno lega karena tidak tidur di kolong jembatan.
"Tapi aa' harus cari uang buat bayar! Cuma dikasih waktu dua minggu buat ngembaliinnya! Terus dua minggunya lagi harus bayar kontrakan buat bulan depannya."
Aca berbohong. Karena sebenarnya Hana tidak minta Aca untuk mengembalikannya.
"Iya, aa' akan berusaha."
Jawab Reno lesu. Ia menyesali pernah mempercayai Clara sepenuhnya, hingga menanda tangani semua berkas tanpa membacanya lebih dulu. Bukan! Bukan karena rasa percaya! Tapi karena libido yang memuncak setiap kali melihat Clara. Entah mengapa setelah menikahi Aca, Clara terlihat lebih menarik di mata Reno.
"Kenapa a', Inget Clara? Kangen ma dia?"
Pertanyaan Aca segera menyadarkan Reno bahwa Aca sudah mencium perselingkuhannya dengan Clara.
"Apaan sih neng...? Aa' mikir mau kerja apa?"
"Gawat, Aca sudah tahu. Pantes sikapnya berubah!" Batin Reno berdebar.
"Apa kita jualan nasi goreng aja ya di depan? Masakan neng enak."
Reno memeluk pinggang Aca dari belakang mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Em... boleh dicoba tuh a'. Tapi, itu artinya neng yang kerja dong? Aa' ngapain?"
"Ya bantuin neng. Apa aja aa' bantuin, asal diajari ya."
Reno mengendus leher Aca dan mengeratkan pelukannya.
"A...' apaan sih? Neng kan lagi cuci piring!"
"Nanti biar aa' yang nyuci...!"
Reno meraih tangan Aca yang masih penuh dengan sabun dan menghidupkan kran air, membasuh tangan istrinya dan membalikkan tubuh Aca dengan sekali gerakan dan menyambar bi**r Aca lembut.
Reno memang sangat romantis di mata Aca. Emosinya yang sudah mulai terpancing, kini larut dalam buaian Reno.
Aca mendorong pelan dada Reno, membuat sela diantara mereka.
"Pumpung belum punya anak neng..., belum ada kesibukan juga... Anggap aja ini berkah dibalik kesulitan kita."
Reno kembali menyambar bi**r Aca dan melum**nya. Semakin menggebu dan bertambah liar.
Udah sah ya... udah bebas tuh!😅🥰
Tubuh Aca sudah gemetar merespon setiap sentuhan Reno. Bahkan ketika Reno hendak membopongnya ke kamar, Aca menggelengkan kepalanya. Memberi isyarat agar Reno segera menuntaskannya walau mereka masih berada di dapur. Reno cepat tanggap dengan respon Aca yang sudah membuatnya merasa tak karuan.
Pagi itu, dapur menjadi saksi bisu atas pergulatan pasangan muda yang sangat energik.
****
Aca mencoba jualan nasi goreng di depan rumahnya. Kini ia dan suaminya mencoba kehidupan yang sangat sederhana. Bagi Aca tidak terlalu sulit, karena sebelum bekerja di Warna Group, ia juga seorang gadis biasa. Tapi berbeda dengan Reno yang sebelumnya adalah seorang CEO.
Pernikahannya yang belum genap setahun, sudah mendapat cobaan yang begitu berat. Tabungan Aca selama bekerja di Warna Group telah ia investasikan untuk perusahaan apartemen ternama. Dan enam bulan ke depan baru akan mendapatkan income. Dia menguras semua tabungan karena berpikir hidupnya akan serba kecukupan dengan bersama Reno. Tanpa berpikir bahwa Reno bisa menjadi sebangkrut ini.
[Assalamu'alaikum mbak Aca. Jadi terima tawaran kami ga?]
Aca hanya membaca tanpa membalas chat dari Hana. Ia tidak ingin meninggalkan tanah kelahirannya. Di sini kedua orang tuanya dimakamkan. Tapi tawaran Hana bisa membuat ia mengatasi kesulitannya dengan cepat. Dilema.
[ Mbak... gimana...?]
[Mbak masih bingung Han.]
[ Mbak harus bangkit! Ayolah mbak! Kanca Medan tinggal finishing. Rumah dinas untuk mbak pun udah jadi. Mobil udah standby.]
[ Sebenarnya mbak udah ada inves, tapi belum cair. Sementara mbak jualan nasgor nih di depan rumah. Buat nyambung hidup. By the way, makasih ya bantuannya kemarin, bisa buat modal jualan mbak. Kalo ada rezeki nanti mbak ganti.]
[ Ga usah diganti mbak.., Hana ikhlas! Tapi beneran nih ga mau diambil tawarannya? Sayang loh mbak. Walau pabrik baru, Hana yakin tempatnya pas buat dagang. Kemungkinan besar berkembang pesat. Apalagi di bawah pimpinan mbak Aca yang udah profesional.]
[ Iya Han, mbak udah feeling prospek ke depannya. Tapi mbak mau coba mandiri. Sekalian mengajarkan Reno hidup sederhana, biar dia mengerti arti hidup yang sebenarnya.]
[ Oh..., okey mbak. Hana paham. Moga jualan nasgornya lancar ya mbak... Moga juga ke depannya bisa berkembang jadi cafe atau restauran. Good luck mbak!]
[ Makasih ya Han. Sering-sering telpon mbak ya. Biar mbak makin semangat.]
[ Siap mbak! Harus tetap semangat💪 biar jadi pengusaha kuliner yang handal.]
[😄 Aamiin. Makasih do'anya.]
[Sama-sama mbak...]
Aca meletakkan hapenya dan kembali berkutat membuatkan pesanan pelanggan. Sementara Reno menjadi pelayan di resto kaki limanya. Setidaknya teman-temannya tak mungkin mampir makan di sini. Reno menghilang bak ditelan bumi di antara kalangan CEO muda.