
Semakin lama bersama dengan Arga, Hana malah semakin cinta dan ga bisa lepas dari Arga. Hana tak pernah merasa bosan mendampingi suaminya. Cintanya semakin bertambah dan bertambah.
Agatha kini sudah masuk sekolah dasar. Meski anak big bos, Agatha dididik untuk mandiri dan tidak manja.
Hana juga tidak mau melepas tanggung jawabnya begitu saja. Ia tetap mengantar jemput Agatha bersama supir keluarga.
Namun saat pulang, mobilnya selalu penuh bak angkutan umum. Hana memberi tumpangan pada anak-anak sekitar rumahnya. Kalau pergi hanya satu dua saja yang menumpang, yang memang sudah menunggu di jalan. Hana tidak mau menunggu karena takut Agatha terlambat.
Saat hari sedang terik, Hana juga sering membelikan mereka ice cream. Anak-anak senang dengan sikap Hana. Tapi Agatha sering merasa cemburu dengan sikap mamanya.
"Ma, sebenernya anak mama Gatha apa mereka sih?"
Tanya Agatha sesampai di rumah.
"Loh, kok nanyaknya gitu sayang?"
"Iya, mama ga pernah marah sama mereka. Tapi sama Agatha sering! Mama lebih sayang sama mereka!"
Agatha memanyunkan bibirnya. Tapi hal itu malah membuat Hana gemas melihatnya.
"Kamu kalo marah kayak papa ya."
Hana jongkok mengimbangi putrinya, meletakkan kedua tangannya ke pipi cubi anaknya.
"Sayang...., mereka di rumah juga pasti kena marah sama mama mereka, kalo mereka nakal. Gatha pernah ga dimarahi sama mamanya temen-temen Gatha?"
Agatha menggelengkan kepalanya, belum mengerti maksud mamanya.
"Sayang..., setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Misalnya, mama biarin Gatha main hape terus. Nanti Gatha ga sempet ngerjain pr er, terus di sekolah kena marah bu guru. Agatha malu ga?"
"Malu dong ma!"
"Nah, makanya mama marah kalo Gatha main hape terus! Mama marah pasti ada sebabnyakan? Itu karena mama sayang sama Gatha. Gatha sayang ga sama mama?"
"Sayang dong ma!"
"Kalo sayang, mama mo dikasih apa?"
"Kasih cium."
Agatha langsung bergelayut manja dan menghadiahi ciuman berkali-kali.
****
Arga menemani Rendi untuk bertemu klien. Mereka bertemu di hotel bintang lima tempat Arga menginap.
Selesai meeting, Arga menyambar minuman dari pramusaji dan menuju kamarnya. Pramusaji itu tersenyum puas karena telah melaksanakan tugas dengan baik. Ia tinggal meminta bayaran lebih pada seseorang yang mengawasinya dari tadi. Seseorang yang menyuruhnya menambahkan perangsang di minuman lawan bisnisnya.
"Kalo bisnismu terlalu kuat untuk dihancurkan, aku akan mulai dengan rumah tanggamu!"
Batinnya puas, setelah melihat Arga menenggak minuman itu.
"Maaf tuan, saya sudah melakukan tugas saya!"
"Bagus! Ini untukmu!"
Terima kasih tuan.
"Ya tuan, ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Bisakah kau mencari pera**n untukku?"
"Maaf tuan, itu sangat sulit!"
"Aku akan membayar lebih untuk itu."
Pramusaji itu menimbang-nimbang amplop yang tadi ia terima. Dan membayangkan amplop yang lebih tebal dari itu.
"Baik tuan, akan saya usahakan."
"Suruh gadis itu merapikan tempat tidur di kamar no XX, aku akan menunggumu di sini."
Hendra tidak mau terlihat mencolok.
"Baik tuan."
Tak beberapa lama, pramusaji itu menemui Hendra dan kembali meminta bayaran.
"Kamu yakin, dia masih pera**n?"
"Yakin tuan. Dia gadis baik-baik. Saya juga tidak memberi tau apa yang tuan inginkan."
"Good job! Ini untukmu."
Hendra berlalu, menuju kamar no XX tempat Arga berada. Sekedar melintas, ingin tau gadis seperti apa yang telah ia kirimkan untuk Arga. Ia melihat seorang gadis mengetuk kamar Arga dari jauh.
"Kau akan masuk perangkap ku, Arga!"
Batin Hendra senang.
"Pak Hendra?! Anda di sini juga?"
Sapa Rendi mengejutkan. Kamar Rendi bersebelahan dengan Arga. Tapi ia belum menyadari bahaya yang mengincar bosnya.
"Iya pak Rendi. Tadi habis ketemu klien. Pak Rendi sendirian?"
Tanya Hendra berbasa-basi.
"Tidak! Saya bersama tuan Arga."
Rendi tidak tau latar belakang Hendra. Sehingga tidak menaruh rasa curiga. Yang ia tau, Hendra pebisnis handal yang masih eksis walau usianya sudah paruh baya.
"Benar-benar kompak ya! Kemana-mana bersama."
"Ha ha ha, bisa aja pak Hendra."
Mereka ngobrol cukup lama, dan akhirnya Hendra pamit kembali ke kamarnya.
"Aneh, kamarnya di ujung sana kok sampek ke sini! Abis ngapain pak Hendra?"
Batin Rendi yang berpikir kalo pak Hendra habis nemuin seseorang. Tapi ia tak mau ambil pusing, karena ia juga butuh istirahat.