First Love To My Husband

First Love To My Husband
Menyambung Sayap Patah



Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah Allahu Akbar Lahaula Walakuata Illa billaahil aliyil adziim.


Hal yang selama ini paling dinanti sekaligus menakutkan buat Wawa terjadi.


Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah Allahu Akbar Lahaula Walakuata Illa billaahil aliyil adziim.


Kini ia harus berbagi suami dengan orang lain. Wawa terus berdzikir dalam setiap kesedihannya. Itulah yang selalu diajarkan oleh almarhum ayahnya.


Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah Allahu Akbar Lahaula Walakuata Illa billaahil aliyil adziim.


Air matanya terus mengalir mencoba mengikhlaskan." Ini bukan salah mas Arman, juga bukan salah mbak Nina. Ini adalah takdir. Yaa Allah, kuatkan lah hamba mu ini." Batinnya menangis.


****


[ Keluarlah jika Febri sudah tidur! Mas ingin bicara denganmu.]


Nina segera keluar dari kamar Febri setelah membaca pesan itu.


"Duduk!" Sorot mata Arman membuat Nina ingin segera menghindar, tapi mata itu jujur, sangat ia rindukan.


"Mau ngomong apa mas? Udah malem, aku ngantuk nih!"


"Apa yang dikatakan Febri tadi benar?! Lalu mengapa kamu bilang kalau kamu sudah menikah saat di rumah sakit kemaren?!"


Nina hanya menundukkan kepala tanpa berani menjawab. Perlahan air matanya jatuh membasahi pipi.


"Aku butuh jawaban Nina...!" Suara Arman melunak. Ia mengusap air mata dan punggung Nina perlahan hingga memberi ketenangan.


"Mas cuma tanya apa aku sudah menikah! Aku menjawab jujur mas! Aku memang sudah menikah denganmu tiga puluh lima tahun yang lalu. Dan kamu belum menceraikan ku bukan?!"


Nina bicara di sela Isak tangisnya.


"Maaf, mas salah. Teruslah bercerita hingga mas bisa tahu apa yang terjadi denganmu."


Arman mengusap kepala Nina dan menjatuhkan ke bahunya yang bidang.


"Aku tidak pandai berbisnis sepertimu mas. Sesuai petunjuk mu, aku menjual semua aset untuk menutup jejak mu. Kecuali rumah, di sana banyak kenangan kita. Kemudian aku tertipu investasi bodong." Nina masih sesenggukan. Arman mencium rambutnya yang sudah mulai memutih untuk menguatkan Nina kembali bercerita.


"Imbalan apa?" Tanya Arman penuh selidik.


"Ia ingin tinggal di rumah kita. Tapi ia tidak pernah meminta sepeserpun untuk biaya Febri. Toh Febri juga tinggal di sana, biarlah..."


"Dan sertifikatnya kamu kasih Eva?"


"Tentu saja tidak! Aku masih menyimpannya. Sekarang, beritahu aku! Kenapa mas tidak pernah kembali?!"


"Maafin mas ya, waktu itu mas benar-benar pengen menghapus jejak. Mas pikir, kamu bisa hidup mewah dengan semua aset yang mas tinggalkan. Dan mas ga mau membawa kamu dalam masalah mas. Jadi mas bersembunyi di pulau terpencil. Mas merubah nama, dan akhirnya menikahi Wawa. Seorang gadis kampung anak ulama di desa itu. Dia juga selalu menyuruh mas untuk mencari mu. Tapi kami tak pernah punya uang lebih untuk berangkat ke kota. Sampai akhirnya kedua orang tuanya meninggal. Wawa menjual semua tanah warisan kecuali rumah ayahnya. Uang itulah yang mas gunakan sebagai modal mendirikan Warna Tape Industries. Awalnya mas mendirikan di kota X, dengan tiga karyawan. Kemudian berkembang dan berkembang. Lalu mas membuka lagi di kota ini. Dan omsetnya ternyata lebih banyak di kota ini. Jadi, di sini pusatnya. Dan yang di kota X jadi perusahaan cabang."


"Mas hebat! Kenapa memilih tape industries? Dan bagaimana nasib ketiga karyawan mas pertama itu?"


"Semua tempat perbelanjaan membutuhkan solo tape, doble tape. Tapi tidak banyak yang berpikir ke situ. Jadi saingan juga sedikit. Kalau karyawan mas, yang satu sudah meninggal dan mas sudah memberikan haknya pada ahli waris. Yang satu jadi supir keluarga mas, karena kemampuannya tidak bisa ditingkatkan. Tapi mas sudah anggap keluarga. Dan yang satu menjadi Direktur Utama di perusahaan cabang. Dua tahun lagi dia pensiun. Perusahaan pusat dipegang anak saya Arga."


Keduanya sudah terlihat akrab dan tidak canggung.


"Sudah malam, sebaiknya kita tidur. Ingat umur, ga boleh sering begadang." Arman tersenyum dengan tangan masih merangkul punggung istri pertamanya.


"Maafin mas ya?!" Ucapnya sambil mencium keningnya.


Nina tersenyum dan bangkit.


"Kalau begitu, aku duluan ya mas." Ia hendak menuju kamarnya, tapi Arman menarik tangannya.


"Kamarmu terlalu dekat dengan kamar Febri! Di kamar mas aja! Kita masih suami istri kan? Untuk sementara Febri jangan dikasih tau dulu kalau kita orang tua kandungnya. Biar dia ga manja! Aku ingin dia berubah!"


"Iya mas, terserah kamu aja! Yang penting dia sudah memanggilku ibu. Aku sudah sangat bahagia."


"Tapi kalau dia tau kita sekamar, gimana?"


"Dia boleh tau kalau kita suami istri! Hanya itu!


Ceklek.


Arman mengunci pintu, dan kini sayap patah telah tersambung kembali.