
Hana mulai bingung di rumah sakit sendirian. Ibunya sudah mulai berjualan di pajak pagi. Sementara sang nenek di rumah. Hana tidak mau neneknya yang sudah mulai renta itu terlalu capek jika harus tidur di rumah sakit.
Flash back
Ia juga sudah banyak menghabiskan uang Arga."Bagaimana cara bayarnya?" Batinnya. Tapi tetap saja Hana harus gerak cepat untuk kesembuhan ayahnya.
Kini sang ayah sudah susah bergerak dan akan lumpuh jika tidak segera diambil tindakan. "Ah, biarlah. Besok aku akan bilang ke mas Arga. Mudah-mudahan ia mau dicicil. Walau entah sampai kapan baru bisa lunas." Pikirnya.
Hana segera mengizinkan dokter untuk mengambil tindakan. Ibu dan nenek pun hanya mengikut keputusan Hana.
"Ma, semua biaya sudah ditanggung mas Arga. Mama ga perlu khawatir tentang hal itu." Hana mencoba menenangkan mamanya, padahal ia sendiri bingung harus ngomong apa nanti sama pemilik gold card yang kini dipegangnya.
Keesokan harinya...
[Assalamu'alaikum mas Arga.]
Hana memberanikan diri untuk memulai obrolan dengan sang penyelamat.
[ Wa'alaikumsalam sayang. VC aja ya, mas kangen."]
Arga segera mengalihkan ke panggilan vidio. Hana sendiri jadi salah tingkah, bingung merapikan jilbab yang memang sudah rapi.
"Halo sayang, sendirian aja? Gimana kondisi om Nanang?"
"Udah mendingan, tuh lagi istirahat." Hana mengarahkan kamera ke arah ayahnya.
"Loh, kok ruangannya kayak gitu sayang? Bukannya semalam di VVIP?"
"Hana sengaja minta pindahin ke ruangan biasa, soalnya semalam untuk operasi syaraf terjepit saja sudah habis lima puluh juta. Jadi ga papa ruang inapnya diganti, yang penting obatnya lancar."
"Loh, kok gitu sih! Sayang..., kamu harus kasih yang terbaik buat orang tua kamu. Ga boleh pelit. Entar mas transfer lagi."
"Bukan gitu mas..., ini juga masih banyak saldonya. Saya ga enak sama mas. Mas baru saya kenal, tapi udah baik banget. Nanti kalo Hana udah kerja, Hana janji bakalan nyicil hutang ."
"Eeit, kamu lupa kalo kita udah jadian? Dan bentar lagi aku bakal ngelamar kamu. Kamu siapkan honey?"
Hana hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Ga papa mas, ayah juga udah mendingan kok. Hana mau minta izin buat narik uang lagi untuk beli bed terapi sesuai saran dokter."
"Lakukan apapun yang terbaik menurutmu honey. Nanti kalo udah balik ke rumah, kabari mas ya."
"Insya Allah mas. Udah dulu ya mas, ada dokter. Makasih banyak loh sebelumnya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam honey. Keep smile okey?!"
Arga masih senyum sendiri setelah mematikan ponselnya. Ia segera ke luar ruangan dan menemui Aca.
"Ca, hari ini gue sedang bahagia. Jadi tolong buat pengumuman bahwa seluruh karyawan aku traktir makan siang di kantin depan."
"Menang tender lu Ga ? Kok gue ga tau?!"
"Bawel! Cepetan! Jam makan siang hampir tiba nih!"
"Siap bos!" Jawab Aca segera melaksanakan perintah.
Di kantin, Arga sudah memilih meja pas di tengah. Setelah semua karyawan berkumpul, Arga pun berdiri. "Hari ini saya mentraktir kalian semua, karena saya akan segera melepas masa lajang saya. Saya mohon do'anya semoga jalan saya lurus sampai hari H nanti. Terima kasih. Silahkan nikmati makan siangnya."
Riuh teriakan yang mendo' akan bos mereka. Ada yang dengan tulus, ada yang karena senang dapat traktiran, ada juga yang hanya pengen kelihatan care sama si bos.
Berbeda dengan Aca yang merah padam. Ia yang memang selalu duduk dekat Arga jadi salah tingkah.
"Bisa juga lu serius sama cewek Ga?!" Ucapnya menutupi kekalutannya.
"Bisa dong! Lu nya aja dulu ga mau diajak serius!" Jawabnya enteng.
"By the way, kapan lu mau kenalin ke gue?"
"Ntar kalo udah resmi, gue bawa ke kantor biar pada kenal."
"Aku tunggu momennya." Jawab Aca dengan senyum mengembang walau hatinya hancur berkeping-keping.