
Hendra ingin memasuki kantornya, namun dihadang oleh security.
" Apa-apaan ini? Kamu mau saya pecat?!"
Hardik Hendra segera.
"Maaf pak! Kami hanya menjalankan perintah!"
Mereka tentu telah mengenal Reno sebagai pemilik awal perusahaan.
" Perintah siapa yang lebih berkuasa dariku hah?!"
Hendra berang.
"Pemilik perusahaan ini telah kembali! Kami akan patuh hanya padanya saja."
Hendra masih tercengang.
"Selamat siang tuan Hendra."
Reno yang memang sudah menunggunya dari tadi muncul dan membuat Hendra tersenyum sinis.
"Heh jangan sok kaya kamu Ren... Kamu udah kere sekarang. Masih berani datang ke kantorku!"
Ucapnya yang belum menyadari keadaanya.
"Maaf tuan Hendra, saya sudah membeli perusahaan anda semalam. Ini cek yang belum sempat anda terima."
Jawab Reno tetap sopan. Hendra menyobek cek dari Reno tanpa membacanya.
"Aku tidak pernah menjual perusahaan ini! Pergilah! Jangan berimajinasi jadi orang kaya!"
"Ini surat jual belinya. Anda sudah menandatangani semalam!"
Reno menunjukkan copy surat jual beli dan yang asli sudah dia amankan untuk mencegah segala kemungkinan.
"Terimalah cek ini. Karena hanya inilah satu-satunya harta anda yang tersisa."
Reno menulis ulang dan menyerahkan kembali selembar cek itu.
Hendra membaca nominal yang tertera sebesar seratus juta rupiah. Ia baru sadar bahwa Reno yang telah menjebaknya semalam bersama wanita-wanita penggoda. Tapi ia tak habis pikir bahwa ia akan terjebak dalam acara yang diadakan teman lamanya, Arman.
"Arman! Mengapa kau ikut campur?!"
Batinnya geram.
"Kau menjebak ku! Curang!"
"Aku hanya meniru caramu. Tapi setidaknya, aku menyisakan seratus juta untukmu. Dan kau tidak akan benar-benar jadi gelandangan bukan?"
[ Halo, pa. Perusahaan kita sudah berpindah tangan. Apa yang papa lakukan.]
Suara Clara terdengar panik.
"Sudahlah! Jangan banyak tanya! Papa sedang pusing!"
[ Gimana ga tanya? Clara dilarang masuk sama security!]
"Apa? Perusahaan mu juga?!"
[ Maksudnya?]
"Papa juga dihadang di sini! Ini ulah mantan pacarmu!"
Hendra mematikan ponselnya sebelum Clara selesai bicara.
"Apa-apaan kamu Ren?! Kenapa kau mengambil semua asetku?!"
Berang Hendra hendak memukul Reno namun ditahan oleh security yang pernah ia gaji.
"Tidak! Aku hanya mengambil hak ku! Selebihnya diambil tuan Arman."
Jawab Reno enteng.
"Arman? Tapi kenapa? Tidak mungkin! Wawa pasti melarangnya melakukan hal curang!"
"Itu karena kau telah melukai hati putri dan menantu kesayangannya."
"Siapa putrinya?"
Hendra hanya tahu Hana sebagai menantunya.
"Febri! Dia adalah putri pertama tuan Arman."
"Tidak mungkin! Bagaimana Wawa bisa punya anak liar seperti Febri!"
"Itu bukan urusan mu. Sekarang pergilah. Ini bukan kantormu lagi."
Reno masuk meninggalkan Hendra yang murka.
"Reno.... tunggu pembalasanku!"
Teriak Hendra sambil meremas selembar cek yang baru ia terima, namu tak berani membuangnya karena mungkin bisa berguna nanti.
****
Febri geram merasa tak dianggap. Setelah tahu ayahnya mengadakan pesta tanpa mengundang dirinya dan suami. Terlebih dia tau bahwa ibu kandungnya juga tak diajak oleh Arman.
"Pa, kenapa ga ngundang aku ke pesta semala?"
[ Maaf Feb, itu bukan pesta biasa.]
"Maksud papa, aku ga layak untuk hadir di pesta itu?!"
[ Bukan itu...! Itu pesta jebakan untuk Hendra. Jika kamu ikut, pasti akan terbawa emosi dan rencana papa bisa gagal.]
"Om Hendra? Jebakan apa sih?"
[ Perusahaan X kini sudah menjadi milikmu. Anggap saja sebagai kompensasi atas hilangnya calon cucuku dari rahimmu dulu.]
"Terus Clara gimana? Bukankah dia pimpinan di perusahaan X saat ini?"
[ Pecat saja, beri pesangon. Selesai! Dia juga sama jahat seperti ayahnya. Segera kunjungi kantor barumu! Papa sedang membersihkan sedikit kekacauan di sini. Kamu terima beres aja.]
"Baik. Secepatnya pa. Makasih ya pa..."
[ Ingat, jangan terlalu capek! Kau juga harus segera memberi cucu untukku!]
"Iya pa... lagi diusahakan..."
Akhirnya Reno balik ke kandang asal. Setelah melalui evaluasi diri yang cukup panjang. Aca telah menyadarkan dari kekeliruannya. Dan ia tak mau jatuh ke lubang yang sama.
Nasehat Wawa selalu terngiang di telinga Arman. Untuk memberikan sebagian laba perusahaan X yang suaminya rebut untuk kegiatan sosial dengan nama Hendra sebagai donatur untuk mengurangi dosa keduanya. Karena menurut Wawa, Arman juga salah dalam hal ini. Tapi kemauan keras Arman membuatnya tak berkutik. Ia mencoba memberikan jalan tengah. Agar Hendra juga masih mendapat haknya meskipun tanpa ia ketahui.