First Love To My Husband

First Love To My Husband
Rindu Hana



Setelah kepergian Hana, Arga lebih sering mengunjungi Disti, istri sirinya. Sabtu sore, selepas Agatha pulang sekolah, ia mengajaknya ke rumah Disti. Kadang saat Agatha tidak libur pun ia sempatkan jalan malam setelah menidurkan Agatha. Dan sudah kembali saat Agatha pulang sekolah keesokan harinya. Hal itu membuatnya lelah. Ingin sekali ia membawa Disti ke rumahnya. Tapi rumah ini adalah milik Hana. Rumah peninggalan nenek Hana yang sudah ia renovasi.


"Dis..., kamu pindah ke kota mas ya. Biar mas ga kejauhan."


"Terus bapak gimana tuan?"


"Sampai kapan sih kamu panggil aku tuan terus....?"


Disti tertunduk diam.


"Ayolah... apa belum ada cinta di hatimu untuk mas?"


"Maaf tuan, tapi sepertinya cinta mbak Hana terlalu besar untuk ku saingi."


"Kok Hana?! Di sini cuma ada kita! Kenapa bawa-bawa Hana?! Lagian kamu juga belum pernah bertemu dengannya!"


"Tapi dia mengizinkanmu untuk menemui ku, walaupun hatinya terluka tuan."


"Dia tidak mau suaminya berdosa."


"Tapi dia juga tidak rela berbagi."


"Dan dia sudah mengabaikan aku, Dis!"


Arga tak habis pikir dengan sikap wanitanya. Disti membela Hana, dan Hana selalu mengingatkan untuk menemui Disti. Apakah sebagai lelaki dia sangat tidak berharga? Bukankah seharusnya mereka berebut mencuri perhatian? Ini kebalik! Justru Arga yang pontang-panting mengemis cinta sana-sini.


"Bukan mengabaikan! Tapi, mungkin dia merasa tidak berarti di hadapan suaminya. Orang bilang, istri akan merasa menjadi wanita paling jelek sedunia, apabila suaminya selingkuh."


"Tapi aku tidak akan selingkuh jika Hendra tak menjebak kita! Sebelumnya aku tak pernah melakukan hal yang menyakitinya! Dan sekarang, mas udah terlanjur jatuh cinta padamu sayang."


"Mbak Hana sebelumnya juga tidak pernah mengabaikan tuan bukan?! Akulah penyebab renggangnya hubungan kalian!"


"Sudahlah Disti..., ini sudah takdir! Kita berdua adalah wayang yang harus melakoni peran ini. Kamu mau yah pindah!"


"Baik, tapi dengan satu syarat. Pertemukan aku dengan mbak Hana. Aku ingin minta maaf."


"Itu berarti, mas harus jemput Hana dulu dong!"


"Harus! Memang itu tujuannya! Mbak Hana sudah membuatmu mencintaiku. Dan aku pun akan membuat tuan kembali jatuh cinta padanya."


"Okey, tapi setelah itu panggil aku mas!"


"Deal!"


Mereka berjabat tangan.


"Pa... besok-besok kalo Gatha libur ke rumah eyang aja kenapa. Jangan ke rumah bunda terus...!"


"Gatha sayang..., rumah eyang kan lebih jauh... Jadi kalo cuma libur Minggu doang, capek sayang. Minimal libur tiga hari, baru bisa."


"Kan papa bisa telpon Bu guru buat izin tiga hari kayak waktu pertama ke rumah bunda!"


"Suka pa.... Tapi Gatha kangen sama mama. Kita juga udah lama... banget ke rumah nenek Wawa. Liburnya ke rumah bunda... terus."


"Emang Gatha lebih kangen sama eyang atau sama nenek?"


"Sama. Tapi, Gatha kangen... banget sama mama. Pasti dedek di perut mama sekarang udah gedek. Gatha pengen elus perut mama..."


"Emang mama lagi hamil?!"


"Eh...eh... anu pa. Gatha ga tau! Tapi mama sekarang udah gendut. Kayak orang hamil. Papa sih ga mau VC sama mama...."


Gatha ingat pesan eyangnya untuk merahasiakan kehamilan Hana.


"Hana gendut? Kayak orang hamil? Oh my God. Apa dia masih secantik dulu?"


"Ya pa..., besok ke rumah eyang ya... please..."


"Iya, besok kita ke rumah eyang. Sekalian jemput mama. Mudah-mudahan mama udah sembuh ya!"


"Hore...! Besok jumpa mama...!"


Agatha terus tersenyum ceria, setelah mendapat jawaban positif dari ayahnya. Sambil memainkan boneka di tangan dan mengajaknya bicara seperti teman dekatnya.


Ada sesuatu yang Arga tangkap dari senyuman Agatha.


"Senyum itu sudah lama hilang. Maafkan ayah nak. Ayah telah merenggut senyummu dengan membiarkan mama pergi."


"Hana, dulu senyumnya sama persis seperti senyum Agatha, kini juga hilang bagai ditelan bumi."


"Apa aku terlalu menyakitimu, honey?! Bukankah kau tau alasanku! Bukankah kau juga yang memberi izin untuk menemui Disti. Aku rindu masa-masa bersamamu honey."


Arga sadar, betapa menggodanya Disti. Tapi ia tidak bisa setulus Hana yang selalu memaafkan dan melayani dengan kelembutan. Terlebih saat Arga lumpuh, ia tahu benar bagaimana Hana berjuang untuk membangkitkan gairahnya. Merawatnya dengan penuh cinta. Belum tentu juga jika Disti bisa merawatnya seperti yang telah Hana lakukan padanya.


"Aaaah.. kenapa aku jadi memikirkan Hana begini?! Ah, sudahlah! Mungkin aku memang harus menjemput Hana dan segera mempertemukannya dengan Disti. Setelah itu, Disti akan menjadikannya suami seutuhnya dengan panggilan mas, bukan tuan lagi."


Terpejam juga. Arga tertidur di samping Agatha yang memeluk erat bonekanya. Mbok Ginem yang biasa menemani Agatha tidur, tidak berani membangunkan tuannya. Ia beranjak tidur di kamarnya sendiri.


Pagi hari, Gatha sarapan dengan candaan manja pada mbok Ginem. Bercerita, kalau papa akan mengantarnya menemui mama dan menjemput mama kembali setelah pulang sekolah. Mbok pun merasa senang mendengarnya. Agatha memang terbiasa sarapan dengan para art, karena Arga jarang menemaninya. Arga hanya menemani Agatha saat makan malam saja. Karena ia sering bolak-balik ke rumah Disti.


Agatha juga membiasakan diri atas hilangnya jasa antar jemput sekolah dari mamanya. Kini hanya supir yang melakukan semua itu. Ia merasa ingin makan ice cream bersama teman-teman yang sering ditraktir oleh mamanya. Kejadian yang dulu sering membuatnya marah, karena merasa mamanya berbagi kasih dengan yang lain, kini justru sangat ia ulang kembali.


"Ma..., Gatha kangen... banget sama mama. Nanti papa mau nganterin Gatha ke sana. Gatha pengen dipeluk mama....."


Ia memandang ke luar jendela. Sementara supir yang mengantarnya hanya bisa memperhatikan kesedihan bocah kecil yang kehilangan sosok ibunya. Ia tidak mengerti, dengan masalah rumah tangga tuannya. Tapi ia sering mendengar kata bunda dari tuan dan putrinya. Dan ia tahu itu bukanlah Hana. Majikan yang sangat cantik menurutnya. Cantik luar dalam.


Memang tidak dipungkiri, semua karyawan lelaki di Warna Distribution, mengidamkan istri seperti Hana. Jika memiliki istri seperti Hana, mereka beranggapan bahwa tidak akan ada masalah yang berarti dalam rumah tangganya. Karena sikap Hana yang selalu mementingkan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan pribadi.


Tapi ternyata masalah juga bisa menghampiri rumah tangga Arga yang sudah memiliki wanita setulus Hana. Semua karyawan mulai kasak-kusuk dengan kondisi ini. Wajar saja, karena rumah mereka bersebelahan dengan kantor dan laundry milik Hana.


Semua seolah menyalahkan Arga, namun tidak berani secara terang-terangan, karena Arga juga tidak pernah membuat kesalahan pada bawahannya. Ia membayar upah tepat waktu. Memperlakukan karyawan seperti teman dan kerabat. Tapi mereka juga rindu sosok Hana yang mengayomi. Wanita lembut yang kuat.