First Love To My Husband

First Love To My Husband
Febri Menikah



Sebentar lagi pernikahan Febri. Nina menemani putrinya untuk mempersiapkan segalanya. Itu berarti Arman hanya menghabiskan waktu bersama Wawa.


Pekerjaan yang melelahkan seolah hilang jika sudah berada di samping Wawa. Arman ingin menghabiskan masa tua bersama istrinya, tanpa beban pekerjaan kantor seperti saat ini. Tapi ia belum menemukan orang yang tepat untuk menggantikannya.


"Febri dan Arga sudah punya kesibukan sendiri. Aku harus mencari orang sendiri. Tapi siapa? Sejauh ini hanya Aca yang pantas! Reno juga sudah bangkrut."


Arman menelpon Aca, sekedar mencari info. Dan Aca langsung menerima karena Arman memintanya langsung jadi direktur utama di kantor pusat. Jadi ia tidak perlu malu dengan teman sekantornya, karena ia sudah berada di pucuk pimpinan. Ia juga akan tetap berada di kota kelahirannya. Hanya pindah ke rumah dinas saja.


Sebenarnya bukan hanya itu, Aca sudah cukup lelah menjalani hidup sederhana sebagai penjual nasi goreng.


Tapi pelajaran buat Reno belum berhenti sampai di sini. Di rumah baru yang besar, Aca tidak membayar art. Ia mengerjakan semua bersama Reno. Kalau masak, mereka lebih sering beli dan pakaian juga di laundry.


Sampai suatu saat Aca sering lembur, dan Reno pun merengek minta dicarikan art. Reno juga sering meminta Aca untuk memasukkannya ke Warna Group. Tapi Aca menolaknya karena Arman tidak mau berurusan dengan Reno. Arman tidak pernah bermusuhan dengan Reno, tapi Arman tau benar sifat Reno yang bisa merugikan perusahaan.


Akhirnya Aca mengabulkan satu permintaan Reno, yaitu membawa art ke rumahnya.


Sebelumnya Arman telah memberi tahu bahwa rumah dinasnya dipasang cctv, kecuali bagian kamar dan kamar mandi. Dan itu sudah terhubung di ponsel Aca sehari setelah Aca bergabung kembali ke Warna Group.


****


Pernikahan Febri pun tiba. Arman bersama Nina, menjadi wali untuk putri satu-satunya.


"Aku belum mengenal calon suami Febri. Apakah ia bisa membacakan Ar-Rahman seperti saat Arga menikah dulu? Aku tidak seyakin Nanang! Aku sendiri tidak tau bagaimana kelayakan anakku. Apa aku pantas memintanya dari calon mantuku, sementara Febri sudah tidak suci lagi?"


Batin Arga terus bergulat. Ia bahkan terlihat lebih grogi dibanding calon mempelai.


"Aku akan menyerahkan tanggung jawab atas putriku terhadapmu. Apa kamu bersedia?"


"Dengan senang hati om."


"Apa kamu mengerti tanggung jawab seorang suami?"


Ronald tersenyum menyaksikan keraguan calon mertuanya.


Tanyanya kemudian.


"Hmm, sebenarnya om pengen pendamping terbaik buat Febri. Bisa membimbingnya menuju jalan yang diridhoi Allah. Om tidak akan menuntut secara finansial."


"Febri sudah banyak berubah om! Aku meliriknya sejak masih SMA. Tapi dulu aku tak yakin dengan sifatnya. Sekarang bahkan ia sudah berjilbab. Perlahan akan saya benahi om. Dia juga sudah mengatakan tentang masa lalunya. Dan saya bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Apa itu belum cukup?"


Arman tersenyum lega mendengar jawaban sang mantu.


"Sekarang panggil papa aja. Papa sudah lega. Ayo kita mulai ijab kabulnya!"


Beberapa menit kemudian Febri sudah menjadi seorang istri. Di sini hanya keluarga dan kerabat terdekat saja yang diundang. Mereka berniat untuk merayakannya bulan depan di sebuah hotel ternama, dengan mengundang semua kolega bisnis. Kecuali mantan-mantan Febri. Tentu saja demi kenyamanan semua.


Febri memberi tugas lebih pada dua designer di butiknya.


" Satu-satunya saudara perempuanku sedang hamil. Aku tidak ingin merepotkan dia. Aku akan pergi bulan madu. Aku ingin kalian mempersiapkan pernikahanku dengan baik. Inget, semuanya! Daftar tamu yang mau diundang sudah aku serahkan pada Aca. Jadi, selain undangan, kalian semua yang handle."


"Baik non, kami hanya akan menelpon untuk konfirmasi."


"Jangan sampai ada yang terlewat ya!"


"Siap non! Budget berapa non?"


"Dua ratus!"


" Kami berdua dapat bonus baju ya non..."


"Of course! Kalian sudah seperti saudara."


Febri pergi bersama suaminya meninggalkan kesibukan biasanya dan membuat kesibukan baru bersama suami tercinta. Walau sudah kepala tiga, tapi kecantikan Febri yang menurun dari Nina mampu membuat Ronald tergila-gila. Bahkan sejak SMA dulu. Ia bangga bisa memiliki Febri seutuhnya.