
"Mas, kalo kita buat usaha di rumah nenek gimana? Halaman belakang nenek cukup luas, dan jalannya juga udah ada."
Rumah nenek berada di pertigaan jalan.
"Kuliah kamu gimana ?"
"Daring lagi mas....!"
"Usaha apa ya? Buka cabang lagi aja honey!"
"Mana bisa buka industri di pemukiman kampung! Mereka pasti akan keganggu dengan setiap prosesnya."
Arga nampak berpikir mencoba mengerti pola pikir warga desa.
"Distribusi aja gimana? Tempat nenek strategis tuh! Dekat kota A dan kota B."
Usul Arga kemudian.
"Distribution of Warna? Good idea! Itu juga ga perlu tempat yang begitu luas dong ya, jadi sebelahnya bisa untuk laundry. Gimana?"
"Istri pintar."
Arga memegang dagu istrinya dan cup, bibir Hana sudah basah dibuatnya.
"Mas..., sabar dulu! Aku belum selesai ngomong!"
Hana mendorong pelan suaminya yang ingin terus menempel. Namun Arga malah merangkul pinggang belakang istrinya sehingga mereka semakin dekat.
"Ngomong aja, mas dengerin kok."
Arga mulai mengendus bagian leher dan mengeratkan tangannya membuat konsentrasi Hana buyar.
"Kita bawa Rendi dan istrinya ya? Di sana kita ga kenal siapapun."
Kata Hana dengan suara yang mulai tak karuan.
"Hmm.. nanti kita tanya Rendi, moga dia mau ya sayang..."
Arga membopong Hana ke tempat peraduan. Ia sudah gemas dengan ******* istrinya.
"Cowok ini benar-benar meresahkan. Sebenarnya masih banyak yang ingi ku bahas, tapi ah..."
Hana masih mencoba berpikir, namun justru ******* yang keluar dari mulutnya.
"Pemanasan yang liar. Ayolah mas...aku sudah... ga tahan..."
Hana terus menggigit bibir bawahnya mencoba bertahan dari serangan lawannya. Tapi ia tak tahan, dan balik menyerang. Arga senang dengan lawan yang semakin agresif. Hingga beberapa saat mereka saling menyerang. Dan keduanya meraih kemenangan dengan kepuasan batin yang indah.
****
"Rend, kami berencana pindah ke kota X. Kamu dan istrimu ikut ya?!"
"Saya rundingan dulu sama istri ya mas. Saya ga mau ambil keputusan sendiri."
"Ya. Bilang juga ke istrimu, setiap kami pulang ke sini, kalian boleh ikut. Sampai sini kalian bebas tugas alias cuti. Jadi kalian juga bisa menemui keluarga. Ok?"
"Jangan lama-lama ya kasih kabarnya! Sekarang kita ke kantor."
"Baik mas."
Rendi mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Arga memang trauma dengan kecepatan.
****
Aca memergoki kemesraan pasutri di ruangan Arga, yang kebetulan tidak dikunci.
"Kalian?!"
Arga menghentikan luma***nya. Dan menatap tajam ke arah Aca.
"Lain kali, kalo mau masuk ketok dulu!"
"Lu pacaran sama sepupu lu sendiri? Edan!"
"Kita sudah menikah setahun yang lalu."
Jawab Arga enteng sambil merangkul pinggang istrinya. Hana hanya tersenyum kuda menatap Aca.
"Menikah?! Setahun?! Jadi... selama ini.... Hana, kenapa kau membohongiku?"
"Papa Arman yang minta mbak, maaf."
"Aca, sekarang kamu taukan, kalo berhijab juga bisa cantik? Lihat Hana! Mungkin kau bisa belajar darinya."
Arga mencoba mengingatkan alasan mereka putus.
"Aku mengerti Arga, aku cuma mau ngasih undangan ini ke kamu."
"Mbak juga mau nikah?"
"Iya dong...! Emang gue ga laku apa?! Kalian dateng ya?!"
"Insya Allah mbak..."
"Kok insya Allah sih?"
"Karena kepastian hanya milik Allah mbak. Kita hanya bisa berencana."
"Oh... tapi usahain dateng ya!"
"Insya Allah mbak."
Aca menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar jawaban Hana. Dan Arga hanya tersenyum menyaksikan obrolan dua wanita beda generasi dan beda pemikiran. Tapi mereka sama-sama cerdas dan menarik. Dan keduanya pernah ada dalam hatinya.
"Ya udah, aku keluar dulu. Kalian lanjutin deh yang tadi. Jangan lupa kunci pintu!"
Aca keluar kemudian menyembul kembali sambil menunjuk ke arah pintu. Mengingatkan mereka untuk menguncinya.
Arga pun bergegas dan melotot pada Aca agar segera berlalu dan langsung mengunci pintu. Menghampiri istrinya dan menyeringai nakal. Hana hanya bisa pasrah dengan keadaan yang tak mungkin sanggup ia lawan. Di usia produktifnya, Hana memang cenderung ingin melakukannya lebih dan lebih.