
Dengan bersatunya orang-orang muda berbakat, seperti Arga, Rendi, Aca dan Febri di Warna Group, membuat perusahaan kini berkembang pesat. Bahkan dengan memanfaatkan teknologi, mereka mampu menembus pasar Asia Tenggara. Hal itu juga membuat Hana termotivasi untuk segera menyusul. Walau usaha Hana tidak masuk dalam cakupan Warna Group, namun ide-ide Hana selalu menambah deretan ide brilian lainnya.
Singapura adalah negara lain pertama yang menjadi batu loncatan bagi Warna Group. Di sana tape Made In Indonesia milik Warna Group diterima dengan baik. Birokrasinya juga tidak ribet. Dalam setahun, eksport ke Singapura mencapai angka yang fantastis.
Konveksi Hana juga mulai merambah ke sana. Banyaknya pesanan masker di masa pandemi membuka peluang bagi Hana menembus Australia dan Singapura. Awalnya hanya masker, kemudian merambah ke baju bedah. Dan terus meluas. Bersaing harga dan kemahiran melobi menjadi senjata andalan untuk memasuki pasar internasional.
Di samping perkembangan karir Aca yang kian melejit, ada duka mendalam. Reno kembali berselingkuh dengan art barunya. Padahal sudah susah payah ia menaruh kepercayaannya kembali, namun Reno membuatnya pupus.
Suatu hari selesai meeting, Aca merasa bangga atas hasil yang dicapai. Ia mendapat tender besar. Aca meraih ponselnya ingin memberitahukan kabar gembira ini pada suaminya. Dan ingin membuka usaha kecil untuk Reno sebagai hadiah karena menang tender besar dan agar Reno tidak bosan di rumah.
Namun yang Aca dapatkan adalah rekaman cctv rumah yang mengejutkan.
Reno memangku art itu dengan mesra di ruang keluarga. Terlihat Reno begitu bergairah menjilati telinga wanitanya.
Mata Aca mulai berkaca menyaksikan semua itu. Saat bersamaan kepala staf keuangan datang untuk mengucapkan selamat.
"Kenapa, Ca?"
Di kantor Aca tidak suka panggilan formal. Ia lebih suka membaur bersama yang lain.
"Ga papa. Aku cuma ga nyangka aja, kalo kitalah pemenang tender kali ini."
"Kita rayain yok! Hang out bareng yang lain!"
"Okey! Dimana?"
"Udah... ikut aja, tujuan belakangan!"
Aca bersenang-senang bersama teman-temannya, mencoba melupakan sesak di dadanya.
"Kenapa sih Ca? Bawaannya diem mulu!"
Aca hanya tersenyum dan kembali menuangkan minuman di gelasnya.
"Stop Ca! Ini udah gelas ke tiga!"
Rangga mencoba mengingatkan.
"Biarin si bos seneng Ngga, mungkin capek dari kemaren lembur terus!"
Sahut Della.
Mereka pesta sampai larut malam. Satu persatu temannya pamit pulang, namun Aca tetap bertahan dengan terus menenggak minuman. Sampai akhirnya ia tak sadarkan diri dengan kepala menunduk di meja beralaskan kedua tangannya.
Hanya Rangga yang masih menemaninya. Rangga segera memesan kamar untuk Aca, karena tidak mungkin mengantar Aca tengah malam ke rumahnya dengan keadaan mabuk.
"Bisa-bisa gue kena gampar Reno, kalo gue antar ke rumah!" Batin Rangga.
Rangga memapah Aca ke kamar hotel, dan akan menelponnya besok pagi saja setelah Aca sadar. Namun saat hendak pergi Aca malah menarik baju Rangga hingga jatuh menimpa Aca.
Aca tidak bicara apapun, namun tangannya terus masuk ke dalam kemeja Rangga, memeluk pinggang hingga mereka semakin mepet.
"Aca..., sadarlah! Kamu sedang mabuk!"
Rangga mencoba melepaskan tangan Aca, tapi Aca malah mengecup dan membuat tanda merah di leher Rangga. Aca juga menekan pinggang Rangga ke bawah, sehingga pusaka itu kandas dengan perut Aca. Rangga bergetar mencoba menangkis setiap rangsangan dari Aca. Sampai akhirnya, ia pun beranjak mengunci pintu lalu kembali menerkam Aca.
"Maafkan aku Ca..., kamu sungguh sulit dikendalikan."
Saat Rangga mendekat Aca sudah melucuti pakaiannya sendiri, tanpa sehelai benang pun tubuh Aca terekspose sempurna. Namun ternyata Aca tertidur dengan kondisi yang menggemaskan.
Rangga sudah tak bisa mengontrol emosinya. Meski Aca tak brutal lagi, namun libidonya sudah terlanjur naik. Dan ia mencumbui tubuh Aca yang sesekali menggeliat dan mengerang merasakan setiap sentuhannya. Dengan mata terpejam Aca menikmati permainan Rangga.
Pagi hari, Aca mendapati tubuh polosnya tertutup selimut. Memperhatikan kamar tempat ia berada.
"Ini bukan rumah! Di mana aku?"
Aca memperhatikan sekujur tubuhnya yang sudah penuh tanda merah keunguan.
"Apa Reno juga di sini?"
Batinnya lagi.
"Pagi Ca?"
Rangga baru keluar dari kamar mandi menyapa dengan senyuman.
"Kamu yang mulai, Ca. Tadi malam kamu mabuk berat, jadi ku antar kemari. Tapi saat mau pergi..., kamu malah menarik ku. Dan... nih!"
Rangga menunjukkan tanda merah di lehernya bekas Aca tadi malam.
"Maaf Ngga, aku ga nyadar! Kamu harus menutupinya Ngga, kalo istrimu tau bisa runyam!"
"Lah terus, kamu sendiri gimana? Punya kamu lebih banyak."
Aca yang masih duduk ditutupi selimut terdiam.
"Kita nginep dulu aja di sini beberapa hari, sampai tanda ini menghilang. Aku akan alasan keluar kota. Dan kamu?"
Usul Rangga.
"Aku memang males pulang ke rumah. Reno sudah berulang kali selingkuh!"
"Walau sudah bukan siapa-siapa?"
Tanya Rangga heran.
"Hmm, abis meeting semalam aku melihat rekaman cctv. Reno gitu lagi sama art ku."
"Tapi, itu rumah dinas kamu, Ca!"
"Aku tau! Aku akan menuntut cerai dan mengusirnya!"
"Aku mendukungmu Ca!"
Rangga duduk di tepi ranjang.
"Nanti jadi istri ke dua ku aja ya!"
Rangga menepuk bahu Aca. Dan Aca langsung memukulnya dengan bantal. Tanpa sadar selimut yang tadinya ia pegang melorot dan menampakkan bagian atas tubuhnya. Aca kembali menarik selimutnya dan berlari ke kamar mandi.
Karena buru-buru Aca sampai lupa membawa handuk ataupun baju. Akhirnya ia mengeluarkan kepalanya untuk meminta bantuan.
"Ngga, ambilin handuk sama baju ya!"
Rangga segera meletakkan ponselnya dan segera memberikan kimono handuk untuk Aca.
"Pakai ini aja. Bajumu bau alkohol."
Sesaat kemudian Aca keluar.
"Ngga, aku pulangnya gimana?"
"Kita nginep di sini dulu sampai bekas itu memudar."
"Ya, tapi ga lucu kalo ga punya baju."
"Nanti aku akan keluar membelikannya. Tapi sebelumnya.., boleh aku mengatakan sesuatu?"
Aca menganggukkan kepala.
"Semalam kamu luar biasa!"
Rangga berbisik di telinga Aca menimbulkan desiran aneh. Aca tersipu malu dengan sikapnya tadi malam yang tidak bisa ia ingat sepenuhnya.
"Maaf, aku hanya mabuk! Tak ingat semuanya."
Aca mencoba membela diri.
"Aku bisa mengingatkanmu kembali."
Rangga meraih pinggang ramping itu dan memangku Aca persis seperti perlakuan Reno pada art nya.
Namun kimono itu sedikit terbuka saat Rangga mendudukkannya asal. Tanpa pakaian dalam, karena Aca tidak membawa ganti. Rangga pun mulai tak tahan dengan pemandangan yang indah itu. Aroma sabun yang masih melekat dengan rambut basah menambah kesegaran Aca.
Ia segera menyusupkan tangannya ke dalam. Aca mencoba mencegah tapi tangan Rangga lebih sigap dan berhasil membuka tali kimono Aca.
"Ini ga bener Ngga..!"
Suara Aca malah seperti ******* di telinga Rangga. Ia melum** bukit kemb*r yang begitu menantang. Hingga pergulatan itu pun terjadi lagi.