First Love To My Husband

First Love To My Husband
Aca



Arga baru saja selesai meeting ditemani sekretaris cantiknya. Ia adalah Aca. Teman kuliah sekaligus mantan pacarnya yang masih saja mengejarnya hingga sekarang.


"Ga, maksud kamu apa coba? Pergi ga bilang-bilang. Ditelpon juga ga bisa." Aca masih saja bersikap manja jika tidak ada karyawan lain.


"Sekarang, malah ngasih apartemen pula sama si Febri."


"Siapa yang ngasih apartemen?" Sahut Arga heran.


"Liat aja tuh status terupdate nya." Celetuk Aca cemberut.


Arga segera memeriksanya. Lalu bertanya pada papanya tanpa sepengetahuan Aca.


[ Papa cuma kasihan. Tidak baik menelantarkan wanita hamil. Masalah kamu sama Febri udah papa beresin. Cepat kamu bawa Hana ke rumah.]


Arga tersenyum puas dengan jawaban papanya.


"Tuh kan! Malah senyum-senyum ga jelas. Apa sih kurangnya gue dibanding Febri?"


"Aca, kamu tuh cantik, smart, seksi. Dan banyak... orang yang tergila-gila sama kamu. Kenapa sih kamu masih juga ngarepin gue?"


"Ya... karena, rasa itu masih ada Ga! Masa sih Lo ga ngerasa? Secepat itu Lo move on dari gue?"


"Maaf Ca, kita udah sering bahas ini. Dan gue udah nemuin bidadari surga gue!"


"Febri?"


Arga menggelengkan kepalanya. "Dia tidak pantas untukku. Keluarlah, gue mau istirahat!"


Aca langsung keluar. Bagaimanapun Arga adalah atasannya sekarang. Dia tidak mau dipecat karena kebawelannya. Ia membutuhkan pekerjaan ini, dan ia juga ga mau jauh dari Arga. Orang yang selalu ia cintai.


Sebelumnya Aca dan Arga adalah pasangan yang serasi. Mereka pacaran selama enam tahun. Sampai akhirnya Aca menjadi sekretaris di kantor Arga.


Namun penampilan Aca berubah. Ia cenderung tampil seksi. Menurut Aca pakaiannya adalah tuntutan pekerjaan. Tentu saja Aca berusaha mengimbangi sekretaris-sekretaris dari kantor lain yang sering meeting bersama. Ia tak ingin Arga melirik wanita lain.


Tapi berbeda dengan Arga, saat ia ingin menjalin hubungan serius dengan Aca, ia pun meminta Aca untuk menggunakan hijab. Ia tak mau, tubuh wanitanya menjadi konsumsi publik.


Flashback


"Ca.., hubungan kita rasanya sudah cukup lama. Gue pengen ngelamar lo. Tapi... gue punya satu permintaan."


"Every think for you. Katakanlah." Aca tersenyum manis menunggu kata-kata dari Arga.


"Gue pengen lo berhijab. Makin hari gue liat, baju lo makin mini. Gue risih liatnya."


"Tapi lo sukakan..?" Bukannya menanggapi tentang hijab, Aca justru berpikiran kalau pakaian seksinya yang membuat Arga ingin segera menghalalkannya, dan menc*c*p* tubuh moleknya.


"Lo maukan, pake hijab?" Tanya Arga kemudian membuat Aca berpikir.


"Terus, ceritanya gue mau dibungkus gitu? Dan lo leluasa sama rekanan bisnis yang rata-rata berpakaian kayak gini. Enak di lo sakit di gue dong."


"Aca..., gue tuh maunya lo cuma buat gue. Dan nanti setelah menikah lo juga ga boleh kerja lagi."


"Wah, makin bebas dong lo di luar. Kenapa ga sama-sama aja sih? Kemana-mana bareng, gitukan enak."


"Terus, nanti anak-anak gimana?"


"Ya sama baby sister lah."


"Lo ga sayang apa?"


"Terus, mengenai permintaan gue tadi gimana?"


"Gue ga mau! Gue pengen tetap terlihat cantik di depan lo."


"Berhijab itu juga bisa membuat lo semakin cantikloh Ca!"


"Pokoknya gue ga mau! By the way, kapan lo akan ngelamar gue."


"Entahlah Ca, lo aja ga bisa nerima syarat dari gue."


"Smart girl memang pendiriannya cenderung lebih kuat." Batin Arga yang sangat mencintai Aca.


Aca dan Arga memang sering berdebat, baik di kantor, di tempat nongkrong, bahkan sejak mereka kuliah dulu. Dan Aca memang selalu memenangkan setiap perdebatan itu.


Tapi untuk menikah, Arga memang telah menentukan kriteria wanitanya sejak masih SMP. Ia menginginkan sosok berhijab seperti mamanya, yang berhasil menaklukkan Arman ( papa Arga ) yang notabene seorang mafia saat itu dan kini menjadi mualaf dan meninggalkan dunia kotornya.


Suatu hari Arga juga pernah bertengkar dengan Aca dan mengakibatkan kandasnya hubungan mereka berdua.


Flashback


Saat itu, dalam sebuah meeting penting. Aca menjadi pusat perhatian. Bukan hanya presentasinya yang lugas, tapi juga tampilannya begitu seksi. Sampai salah satu calon investor membisikkan sesuatu pada Arga.


"Tuan Arga, saya bersedia menjadi investor di perusahaan anda, asalkan sekretaris cantikmu bersamaku satu malam."


"Maaf tuan, saya hanya menjual product, bukan menjual wanita. Masih banyak calon investor lain. Silahkan anda keluar ruangan."


Arga mencoba menahan amarahnya karena masih berada di ruangan meeting. Namun kemudian dia tertunduk sedih. "Aca, seandainya kamu mau berhijab. Pasti tidak akan ada kejadian seperti ini." Batinnya sedih.


Suara tepukan tangan riuh menyudahi presentasi hebat itu. Dan perusahan Arga berhasil mendapat investor. Arga senang sekaligus sedih waktu itu. Aca telah memajukan perusahaannya. Tapi Aca juga sudah ditawar dan direndahkan.


Setelah semua tamu bubar, tinggallah Aca dan Arga di meeting room.


"Lo hebat Ca! Semua mata tertuju padamu. Terima kasih atas kerja kerasmu selama ini."


"Biasa aja kale. Bonusnya apa nih? Lamaran ya!"


"Syaratku tetap sama, berhijab!"


"Jawabku juga tetap sama, no way!"


"Kalo gitu kita putus. Percuma juga, ga akan ada akhirnya."


"What?! Ga, Jangan ngadi-ngadi deh! Gue baru aja dapat job besar, dan Lo putusin gue? Impossible!"


"Gue ga ngadi-ngadi! Barusan tuan Leo minta lo buat nemenin dia satu malam. Dan gue langsung usir dia. Gue ga mau calon istri gue ditawar orang sembarangan. Seenggaknya kalo kita putus, gue ga bakal sesakit ini, kalo ada orang yang nawar lo lagi!"


"Arga, masalah tuan Leo udah lo selesain. Ngapa imbasnya ke hubungan kita?"


"Lo itu pinternya kebangetan. Giliran sakit hati gue, lo ga pernah mau tau. Nih kunci apartemen buat lo, sebagai bonus buat kerjaan lo yang oke. Nanti lokasi gue share."


Arga berlalu meninggalkan ruangan. Tadinya apartemen itu ia siapkan untuk mereka berdua setelah menikah nanti. Tapi kini pupus sudah harapan.


Sulit bagi Arga untuk bersama wanita lain. Bahkan setelah putus dua tahun lamanya dari Aca. Sebenarnya banyak yang mencoba mendekatinya. Termasuk Febri, sekretarisnya om Rangga rekan bisnisnya. Bahkan Febri lebih agresif dibanding cewek pada umumnya. Namun tak satupun dapat menempati hatinya.


Dan sekali ketemu Hana, ia malah ngejar-ngejar bahkan sampai berbohong kalau Hana hamil, demi mencapai impiannya.