
"Malam ini aku ga akan kuliah mas, aku ingin bersamamu."
"Suster..., bisa minta tolong?"
"Tentu, apa yang bisa saya bantu bu?"
"Tolong bilang sama bibi untuk mengantarkan makan malam kami ke kamar, juga beberapa camilan untukku. Malam ini aku ga mau meninggalkan suamiku."
"Baik bu"
"Kamu juga segera istirahat ya, saya ga kuliah kok."
"Terima kasih Bu. Saya permisi."
Hana segera mengunci pintu dan kembali ke pelukan suaminya yang tengah duduk di bersandar di ranjang.
Arga membelai lembut rambut istrinya.
"Makasih ya sayang."
"Makasih apa?"
"Makasih karena selalu setia untukku."
"Tadinya, aku cuma ingin membalas budi atas kesembuhan ayah mas. Tapi setelah malam pertama kita, aku juga terpesona padamu. Dan aku merasa bersalah atas kecelakaan itu."
"Kenapa?"
"Ya... kan gara-gara ga ada kamar mandi di kamarku! Tapi sekarang sudah aku renovasi. Jadi kalo kita nginep di sana udah beres!"
Arga tersenyum dan memeluk istrinya.
"Ini sudah takdir! Mungkin untuk menguji kesetiaan mu padaku."
Tok tok tok
"Hana... kenapa ga kuliah?"
Hana bergegas mendengar suara mama mertua ada di depan pintu kamarnya.
"Loh, kok mama yang bawain makanannya?"
"Ga papa, mama sekalian mau liat Arga! Kamu kenapa ga kuliah?"
"Tangan mas Arga sudah bisa digerakkan ma! Hana pengen merayakannya aja."
"Yang bener?!"
Tanpa diminta Arga menggerakkan tangannya, membuat mama tak henti-hentinya mengucap syukur.
"Telpon papa, Han!"
Wawa segera meraih tangan anaknya dan menciuminya silih berganti.
"Mama.... jangan gitu."
Kini Arga yang gantian mencium tangan mamanya.
"Halo, pa. Mama pengen ngomong nih!"
Hana segera menyerahkan ponselnya pada Wawa.
Wawa segera menutup telponnya setelah suaminya menyanggupi permintaannya, walau ia tau kalau saat ini Arman sedang bersama Nina. Namun ia masih belum memberi tahu Arga tentang Febri dan Nina. Sementara Hana sudah tau dengan sendirinya. Karena Arman sering tidak pulang ke rumah dengan jadwal yang sama.
Hana mulai menyuapi suaminya. Wawa menyaksikannya dengan haru. Betapa ia telah mendapatkan menantu yang hebat.
"Ma, bisa tinggalkan kami berdua saja?"
Kata Arga membuyarkan lamunannya.
"Eh, maaf. Mama saking senengnya sampai lupa dengan privasi kalian."
Wawa segera berbalik dan diikuti Hana.
"Maaf ya ma."
"Ga apa. Enjoy you'r self."
Wawa tersenyum senang dan berlalu. Hana segera mengunci pintu dan kembali menyuapi suaminya.
"Biar aku yang lakukan!"
Arga mengambil alih sendok di tangan Hana dan menyuapi istri kecilnya dengan cinta. Makan malam romantis bisa juga terjadi walau di dalam kamar.
Hana membawa segelas susu untuk suaminya.
"Minum susu dulu mas, biar tulangnya kuat!"
"Em.." Arga menggelengkan kepala.
"Mas..." Hana seperti memaksa.
"Maunya su** yang itu."
Hana tersenyum dan menaruh gelas di atas nakas. Kemudian mendekati suami dan hendak membuka kancing bajunya. Namun tangan Arga mencegah.
"Biar mas yang melakukannya."
Arga segera melepas kancing dan menyusup ke dalam.
"Kamu tau..? Mas sudah mulai candu dengan ini." Sambil menenggelamkan wajahnya dan membuka pengait di punggung Hana.
"In**i milik mas. Semuanya milik mas**."
"Terima kasih sayang."
Setelah Arga tertidur, barulah Hana membuka laptop sambil makan camilan. Arga terbangun dengan suara khas mengunyah keripik kentang favorit Hana.
"Kasihan istriku. Mulai besok, mas akan tidur lebih awal agar kamu ga begadang seperti ini sayang."
Gumamnya. Arga pura-pura memejamkan mata saat istrinya melihat ke arahnya.
Setelah menutup laptop, Hana beranjak tidur di samping suaminya. Dan Arga memeluk tubuh Hana dengan mata masih terpejam.
"Yaa Allah..., mas Arga sudah bisa memiringkan tubuhnya sendiri! Terima kasih Yaa Allah. Engkau telah mendengar do'a-do'a ku..."
Hana meraih tangan Arga dan menciumnya kemudian meletakkan kembali di atas perutnya. Tapi tak disangka, tangan Arga malah memilih dua gundukan itu. Hana heran, tapi ia membiarkan saja perbuatan suaminya.
"Bahkan dalam mimpi pun pengennya yang enak." Gumamnya lalu memejamkan mata yang sudah tak bisa diajak kompromi.
Arga mengintip sedikit dan tersenyum melihat ekspresi istrinya.