First Love To My Husband

First Love To My Husband
Kolega Kecil



Walau Hendra sudah mendapatkan balasan setimpal, namun tak serta merta membuat Hana bisa seceria dulu. Meski sudah memberi izin pada Arga untuk menemui madu kecilnya, tapi kekecewaan masih membelenggu hatinya. Hal itu membuat ia sering sakit dan mengurung diri di kamar. Konveksi dan laundry yang ia rintis dilepas tanpa pengawasan. Baginya semua sudah mandiri dan tidak perlu bimbingan lagi. Sehingga tetap bisa mendatangkan income walau tanpa kehadirannya.


Arga memang senang jika Hana berdiam di rumah. Itu yang selama ini ia idamkan. Bisa memeluk istrinya kapan saja. Tapi tidak kali ini. Ia justru ingin Hana kembali aktif seperti dulu. Bukan, tepatnya Arga rindu Hana yang dulu. Hana yang selalu mencecar pertanyaan padanya meskipun setiap hari berjumpa. Hana yang selalu cerita panjang lebar tentang hari panjangnya. Hana yang selalu hangat menyambut kehadirannya.


"Kembalikan Hana padaku Yaa Allah..."


Do'a Arga selalu.


"Assalamu'alaikum. Gatha... apa kabar sayang?"


Hanum memeluk cucu gemas.


" Baik eyang..."


Agatha senang membalas pelukan eyang putri.


"Mama?! Kok ga bilang mau kesini?"


Tanya Arman kemudian mencium tangan kedua mertuanya dan membawa koper mereka masuk ke kamar tamu. Hanum langsung bermain dengan Agatha ditemani suaminya.


"Mamamu itu sibuk banget ya? Makanya kamu main sendiri?"


Tanya Hanum merasa iba dengan Agatha.


"Hana di kamar ma. Lagi sakit."


Jawab Arga yang baru selesai menaruh koper.


"Sakit apa! Kok ga bilang?!"


Hanum beranjak ke kamar Hana dan


diikuti semuanya.


"Sakit apa kamu nduk..."


Hanum memegang kening putrinya dan mencium dengan kelembutan.


"Mama... sudah lama?"


Tanya Hana setelah membuka mata. Ia mencium tangan dan menarik lengan ibunya untuk dijadikan bantal dengan posisi miring. Dan kembali memejamkan mata. Hanum tak keberatan dengan hal itu dan menikmatinya.


Nanang memijat kaki putri tercintanya sambil membaluri minyak kayu putih di telapak kaki putrinya.


"Kata dokter sakit apa?"


"Hana belum mau diperiksa dokter ma."


Jawab Arga tak enak. Ia tahu kalau Hana sakit karena pernikahan dirinya dengan Disti.


"Lho, kenapa?"


"Hana ga sakit ma... cuma lagi males aja."


Gumam Hana sambil mengeratkan pelukan ke tangan ibunya.


"Mungkin hamil."


"Keadaannya sama seperti saat kamu dulu. Bawaannya pengen dipeluk... mulu. Males kemana-mana."


Arga semakin merasa bersalah. Ia bahkan tidak sedetail mertuanya memperhatikan perubahan pada istrinya.


"Apa benar Hana selalu ingin dipeluk? Bukankah ia selalu tidur membelakangi ku semenjak kejadian itu. Ingin minta jatah saja..., aku sering sungkan dibuatnya."


"Ya udah, kita periksa dulu aja ya nduk. Sapa tau dugaan ayah kamu benar. Ya..."


Hana mengangguk. Arga pun segera menelpon dokter keluarga.


"Kamu belum pergi mas? Bukankah hari ini jadwalnya ke sana?"


Tanya Hana dengan suara pelan tak bertenaga.


"Tidak! Aku akan tetap di sini menemanimu."


"Jadwal?"


Tanya Nanang ragu.


"Iya eyang..., setiap tanggal dua puluh papa keluar kota sampek tiga hari."


Jawab Agatha polos dan langsung memburu pangkuan kakeknya.


Nanang menatap penuh tanya pada menantunya. Arga pun tampak bingung menghadapinya.


"Mas Arga harus menemui kolega pentingnya ayah."


Celetuk Hana masih dengan mata masih terpejam.


"Menemui kolega secara rutin? Aneh memang bisnis orang kaya!"


"Sudahlah mas.. kita mana ngerti urusan bisnis. Kita cuma tahu jaga warung."


Potong Hanum merasa tak enak dengan menantunya.


"Tidak begitu ayah. Tetap bisa dicancel kok."


Jawab Arga kemudian.


"Jangan dicancel! Kasihan kolega kecilmu itu. Berangkatlah! Aku tidak apa-apa."


Kata Hana yang kini sudah membuka matanya namun masih berbaring.


"Kolega kecil?"


Batin Nanang yang menatap istrinya untuk minta jawaban. Hanum yang sempat menatap suaminya langsung berpaling dan mencium kembali kening putrinya.


"Kamu yang kuat ya nduk... sebentar lagi dokter datang."


Sepertinya hati Hanum sudah terlanjur mengerti tentang penderitaan putrinya sehingga ia menitikkan air mata saat menciumnya.


"Mama jangan nangis...! Hana janji akan segera sembuh!"


Mata indah itu juga membendung cairan yang siap tumpah. Begitulah hubungan ibu dan anak. Meskipun bibir tak mau mengakui, namun hati telah menyatu dan saling memahami.