First Love To My Husband

First Love To My Husband
Ternyata



Nina risau akan pertemuannya dengan istri Arman yang juga pemilik asli Warna Tape Industries. Begitu juga Arman, ia belum memberi kabar pada Wawa bahwa malam ini ia akan mempertemukan kedua istrinya itu.


Mungkin akan terjadi badai besar dalam rumah tangganya. Tapi tirai ini memang harus segera tersibak. Ia tak mau situasi ini dimanfaatkan orang lain untuk menjatuhkannya. Terlebih saat Arga sedang koma. Ia harus segera menyelesaikannya tanpa ada cuitan dari luar.


"Kamu tunggu di luar sebentar ya Nin, aku akan liat situasi di dalem."


"Aku takut, mas!" Seru Nina sambil menarik tangan suaminya.


"Berdo'alah! Aku juga takut! Takut akan menyakiti kalian berdua."


Arman mengusap rambut Nina sebentar lalu masuk mencari keberadaan Wawa.


"Assalamu'alaikum sayang."


Arman langsung melihat Wawa yang memang duduk tidak jauh dari pintu, menanti kedatangan suami tercinta.


"Wa'alaikumsalam mas, kasian suamiku...Pasti capek kerja sendiri. Mudah-mudahan Arga cepat sembuh ya mas. Biar bisa bantu kamu."


Wawa menyambut tangan Arman dan menciumnya. Tradisi yang tak pernah berubah sejak awal mereka menikah. Wawa memang wanita sholeha dan selalu terselip do'a dalam setiap ucapannya.


"Iya sayang...,mas juga ga terlalu capek kok, kan Hana udah mulai belajar bantu di kantor."


"Iya, moga Hana juga cepet pinter. Mas kan udah ga muda lagi..., ga boleh terlalu capek..!"


"Iya sayang..., mas janji ga akan kerja terlalu capek. Mas bawa Nina tuh di luar. Kamu mau ga ketemu...?"


Bisik Arman di telinga Wawa membuatnya merinding.


"Kok ditinggal di luar...?"


Jawab Wawa juga berbisik dan langsung melangkah keluar.


Arman membiarkannya sejenak kemudian ikut menyusul.


Sementara Nina bisa mendengar jelas percakapan mereka dari luar.


"Yaa Allah..., rumah tangga yang semanis madu inikah yang akan ku hancurkan? Bagaimana sikap Wawa nanti saat tau bahwa suaminya pulang membawa madu untuknya? Sanggupkah aku menghancurkannya? Tidak! Aku harus pergi dari kehidupan Herman. Aku tidak mau menjadi duri! Mas Herman..., meskipun kamu telah berganti nama dan beristri lagi, aku tetap mencintaimu. Tapi aku tidak berani lagi untuk mendambamu. Karena sudah ada yang terbaik di sisimu. Aku bahkan jarang sekali mencium tanganmu..., jarang sekali melihat lelahmu...,Maafkan aku yang hanya mencintaimu tanpa tau berbakti padamu."


Baru saja memutar badan hendak melangkah, tapi suara Wawa sudah memanggilnya.


"Mbak Nina ya?"


"Eh..i-iya. Kamu Wawakan?"


Mereka segera berjabat tangan sampai beberapa saat, semakin erat, dan keduanya mengerutkan alis saling menatap.


Arman yang memperhatikan merekapun merasa cemas.


"Aduh... gawat ini. Sepertinya tak semulus yang aku bayangkan. Bakal ada perang dunia ke tiga nih. Gawat...!"


"Nina Aldriana? Kaukah itu?"


"Suwarni?"


"Iya, ini aku! Akhirnya.... kamu kemana aja..?"


"Apa mereka sebelumnya sudah saling kenal? Tapi kapan, dan di mana?"


Batinnya heran.


"Aku cari kerja ke sini, melalui bang Munir. Ternyata dia menjual ku pada Elly dan menjadikanku pelacur. Kemudian mas Herman, maksudku mas Arman membebaskan ku dan menikahi ku."


Awal bercerita Nina begitu bersemangat, tapi kemudian memelankan intonasi dan suaranya kemudian melirik Arman lalu tertunduk.


"Tega sekali bang Munir melakukan itu padamu?!"


"Bukan hanya aku War, banyak orang kampung kita. Tapi, sebagian mereka merasa senang karena bisa mengirim uang ke kampung, seolah mereka sukses di sini."


"Oh.... temen sekampung...., pantes! Moga bisa akur deh!"


Batin Arman.


"Ternyata itu pekerjaan bang Munir?! Untung ayah tidak mengizinkan aku ikut dengannya dulu."


"Ya, kamu memang selalu bernasib mujur. Mungkin ini bagian dari do'a orang tuamu. Yang selalu inginkan yang terbaik untuk mu."


"Kamu benar Nin, ayah dan ibuku sangat sayang padaku. Ayo masuk! Kita ngobrol di dalem."


Wawa menarik tangan sahabat sekaligus madunya masuk melewati Arman begitu saja.


"War... tunggu war...!"


"Mau minum apa?" Tanya Wawa kemudian.


"Warni... Kamu sadar ga kalau aku ini sekarang madu mu?"


"Dan aku yang merebut Herman darimu hingga menjadi Arman bukan?"


"Tapi..., itu bukan salahmu War!"


"Itu juga bukan salah kamu atau pun mas Arman. Ini adalah bagian dari takdir."


"Jadi..., kamu ga marah sama aku?"


"Aku malah seneng mengetahui madu ku adalah kamu. Kita sudah sahabatan sejak kecil. Jadi kita bisa saling memahami. Aku bahkan pernah membayangkan kalau maduku orang yang sangat menyeramkan. Tapi kini aku lega Nin."


"Terima kasih War..., aku juga pernah merasa hal yang sama. Aku takut..."


Mereka melakoni peran teletubbies lagi. Dan itu cukup membuat Arman lega.


"Mas Arman..., malam ini aku mau tidur sama Nina ya! Mas ga boleh ganggu! Kami pengen bernostalgia."


Ucap Wawa selepas makan malam.


"Ya... terserah kalian sajalah. Tadinya mas pikir, mas akan menyakiti salah satu dari kalian. Ternyata..., malah kalian berdua yang menyakiti dan membuat mas cemburu. Mas tidur dululah kalo gitu."


Arman berlalu menuju kamar tamu. Dan disambut tawa dari kedua istrinya.