
Kini Arga lebih banyak di rumah dari pada di kantor. Hanya satu jam sehari ia luangkan untuk melihat kondisi kantor di belakang rumah. Ia siap mengantar kemana saja Hana pergi. Termasuk mengantar jemput Agatha ke sekolah. Walau kebersamaanya terasa dingin karena Hana sangat irit bicara.
Sebisa mungkin Hana tetap melayani suaminya namun tetap tanpa kata. Suaranya seolah menghilang tercekat di kerongkongan. Sering Arga mendapatinya meneteskan air mata di sela diamnya. Hal itu membuat Arga semakin teriris.
"Yaa Allah... kembalikan Hana ku seperti dulu..."
Batin Arga selalu.
"Honey..., kalo honey masih marah, boleh kok mukulin mas. Jangan seperti ini terus..."
Arga duduk di tepi ranjang tepat di sebelah Hana, merangkul dan meletakkan kepala istrinya dalam dadanya yang bidang.
"Maafin mas honey..., mas akan membuat om Hendra membayar mahal untuk ini!"
Tanpa kata, Hana menangis di pelukan Arga.
"Menangis lah honey. Menangis lah. Marah dan omelin mas. Mas rindu suaramu...."
Tangis Hana semakin menjadi. Walau tanpa suara, isak tangisnya cukup memilukan hati. Arga semakin membenamkan dan mengeratkan pelukannya. Hana tertidur dalam pelukan suaminya.
Perasaan seorang ibu begitu peka. Hanum seolah merasakan kesedihan putri semata wayangnya. Ia selalu saja memikirkan Hana.
"Mas, kita ke rumah Hana yok. Perasaanku ga enak terus."
"Palingan kamu kangen sama cucu mungil mu."
Jawab Nanang enteng.
"Telpon aja dulu! Minggu depan kita ke sana."
"Uh... lama amat minggu depan!"
"Iya udah! Telpon aja dulu! Nih, mas telponin."
Nanang melakukan Vidio call dan bocah imut menyambutnya.
"Halo eyang... apa kabar?"
"Assalamu'alaikum Gatha!"
"Hehe, iya. Assalamu'alaikum eyang... mana eyang putri? Gatha kangen."
"Wa'alaikumsalam. Nih, cucumu kangen."
Nanang memberikan hape pada istrinya.
"Halo eyang putri... kapan maen ke sini?"
"Loh, bukannya biasanya Gatha yang maen ke rumah eyang?"
Goda Hanum gemas dengan cucunya.
"Ga bisa eyang..., mama lagi sakit. Eyang dong yang ke sini. Gatha kangen... sama eyang."
"Mama sakit apa Gatha? Coba kasih hapenya ke mama."
"Kamu sakit apa nak? Sampai pucat gitu?"
"Cuma demam biasa ma."
"Kalo gitu besok mama ke sana ya. Tunggu mama!"
Hana tidak ingin masalahnya terbongkar. Ia harus menutup aib suaminya sebisa mungkin.
"Kenapa emangnya? Mama kangen sama Gatha."
"Jangan dulu ma! Di sini lagi banyak wabah. Mama mau sampek sini diisolasi empat belas hari? Enggak kan?!"
"Oh... gitu. Terus yang ngurusi kamu siapa? Arga kan super sibuk?"
"Dia di rumah terus kok ma. Mama tenang aja. Mas Arga itu suami siaga."
"Syukurlah. Mama lega dengarnya. Kamu sering-sering minum madu, banyakin makan buah ya nak. Kalo perlu minum jamu. Masih ingatkan cara bikinnya?"
"Bikinnya Inget ma, bahannya yang lupa. Apa aja ya ma?"
"Jahe, kunyit, kencur, temu lawak, serai diblender semua. Rebus, tambahkan gula merah, gula putih, sedikit garam dan asam jawa. Gampang kan? Jangan lupa disaring!"
"Makasih ma. Nanti Hana coba buat."
"Udah dulu ya ma, waktunya Gatha les piano nih."
"Loh, Gatha masih bisa pergi ke tempat les?"
"Enggak ma..., gurunya yang datang ke rumah. Dah mama... Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam... cepat sembuh ya nak..."
"Aamiin."
Begitulah Hana yang selalu memuji suaminya di depan orang tuanya, sehingga tidak menimbulkan kecemasan di hati Hanum sedikitpun untuk menitipkan anaknya bersama Arga.
Mendengar pembicaraan Hana dan ibunya, hati Arga terenyuh. Di tengah badai besar seperti ini, Hana tetap memujinya sebagai suami siaga.
"Gatha, guru les mu udah dateng tuh!"
Waktu yang tepat untuk mulai obrolan dengan istri tercinta. Entah mengapa diamnya Hana membuat Arga bingung saat memulai pembicaraan.
"Em... honey, kita bikin rujak yuk! Mas pengen makan yang pedes manis."
Seperti biasa Arga selalu melingkarkan tangannya ke pinggang Hana setiap berdekatan.
"He eh."
Arga tersenyum lega. Biasanya Hana menyuruh mbok Ginem untuk membuatnya. Ia kurang care belakangan setelah mengetahui pernikahan kedua Arga.
Entah mengapa Hana begitu semangat mendengar kata RUJAK. Di pikirannya langsung terbayang rasa rujak yang akan dibuat bersama suami tercinta.
Belakangan kulkas juga selalu terisi aneka buah yang masam sesuai permintaan Hana pada art yang bertugas belanja.
Hana memakan rujak hingga habis. Bahkan hanya menyisakan sedikit untuk Agatha. Arga pun hanya boleh makan sedikit.
"Gelagatnya kayak... "
Arga tidak berani memikirkan hal yang lebih jauh.
"Semoga saja..."
Batinnya kemudian.