First Love To My Husband

First Love To My Husband
Ketulusan Hana



Baru saja Hana merasa bahagia mendapat suami sebaik Arga. Namun seolah Allah ingin menjadikan Hana wanita yang tangguh dengan musibah ini.


"Andai saja ada kamar mandi di kamarku, mungkin mas Arga ga akan minta nginep di hotel. Aku harus merenovasi secepatnya."


Hana membayangkan detik-detik terakhir sebelum kecelakaan. Tapi ia selalu bungkam saat ditanya penyebab kecelakaan, ia malu. Sesekali ia jawab kalau ia tak tau, karena kejadiannya begitu cepat.


"Yah, kalau kamar Hana dikasih kamar mandi biayanya habis berapa kira-kira yah?"


Nanang yang sempat memergoki anak dan menantunya mandi berdua langsung memahami keinginan putrinya.


"Ya tergantung nak, mau kamar mandi yang kayak gimana?"


"Yang agak lebar yah, sepertinya mas Arga ga terbiasa dengan kamar mandi kita."


"Sebenarnya kalau ayah udah sehat, sepuluh juta cukup nak. Bisa ayah kerjain sendiri."


"Ini Hana tinggalin dua puluh juta yah. Jangan ayah yang ngerjain! Hana mau nengokin mas Arga."


"Kamu dapat uang dari mana nak? Apa kamu minta ditransfer mertua? Suami kamu lagi sakit loh! Dan kamu juga baru seminggu jadi istrinya Arga!"


"Dari kartu ini yah. Arga bahkan sudah menyerahkan kartu ini sebelum ayah operasi."


"Kamu jangan boros-boros nduk... Inget, suami kamu lagi sakit!" Sahut mama mengingatkan.


"Iya ma. Ini juga permintaan mas Arga sebelum kecelakaan kemaren. Saya pamit dulu ya ma, do'ain suami Hana ya."


"Pasti nduk..." Jawab mama sambil memeluk anaknya.


"Urusan kamar mandi, Hana serahin ke ayah ya..."


"Disainnya juga nak?"


"Iya yah! Tapi jangan ayah yang ngerjain! Ayah belum pulih." Hana mencium tangan ayahnya.


"Nek... Hana berangkat ya." Sambil memeluk neneknya.


"Iya nduk, hati-hati ya..."


"Iya nek. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Mereka menjawab bersama.


*****


Hana menemani Arga di rumah sakit yang baru. Ia benar-benar tinggal di rumah sakit sebulan penuh. Ia sering bercerita sambil memegang tangan Arman. Ia juga bernyanyi kecil untuk Arga saat tidak ada perawat. Saat beruntung ia bisa melihat air mata Arga, kadang juga senyuman kecil dari suaminya. Ia yakin Arga masih bisa mendengar. Ia juga mengaji sepanjang malam, karena ia punya banyak waktu untuk istirahat di siang hari.


Arman merahasiakan keberadaan Arga, bahkan dari Nina dan Febri. Ia takut keselamatan Arga terancam oleh lawan bisnisnya. Untunglah Hana yang keluar masuk di sana belum dikenal sebagai menantunya.


Wawa membujuk Hana untuk tinggal di rumahnya. Sudah sebulan lebih jadi menantunya, namun keadaan membuat Hana belum sempat melangkahkan kaki ke rumah mertuanya.


"Hana, kamu tinggal di rumah mama aja ya. Jangan di sini terus! Ga baik untuk kesehatan kamu."


"Hana ga tega ninggalin mas Arga sendiri ma."


"Ga papa! Ada dokter dan perawat yang jagain. Kita tetap datang menjenguk."


"Ya udah kalo gitu."


Hana tercengang melihat segala kemewahan di rumah mertuanya.


"Sekaya inikah mertuaku? Pantas saja mas Arga tidak nyaman dengan kamar mandi kami."


"Hana..., ini kamar Arga. Sekarang juga jadi kamarmu. Mama juga sudah menambahkan lemari khusus pakaianmu. Kalau kamu tidak suka dengan pakaian yang mama sediakan untukmu, kamu beli lagi aja. Ini untukmu."


Wawa menyerahkan kartu kredit untuk menantunya. Dan Hana menolaknya.


"Tidak perlu, ma. Mas Arga sudah memberikan ini untuk Hana."


Wawa tersenyum. "Arga pasti sangat mencintai Hana." Batinnya.


"Ya sudah, kalau begitu. Oh ya, mulai sekarang kamu juga harus kasih uang untuk orang tuamu. Mereka sangat membutuhkan itu. Mama ga tega liat orang tuamu. Kamu harus jadi anak yang berbakti. Mama permisi dulu ya. Kalau perlu apa-apa, panggil saja simbok."


"Baik ma, terima kasih atas segalanya."


"Tak perlu berterima kasih, kamu sudah jadi menantu mama. Ini sudah jadi hak kamu. Terus berdo'a ya untuk Arga."


"Iya ma."


Hana mencium tangan ibu mertuanya dengan takzim. Dan Wawa memeluk Hana dengan menitikkan air mata.


"Entah sampai kapan Arga berada di rumah sakit. Apakah kamu bisa bertahan di sisi Arga nanti? Semoga kelak kamu bisa mendampingi Arga setelah sadar nanti dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Besar harapan mama padamu Hana."


Arman terkejut melihat keberadaan Hana di rumahnya.


"Lambat tapi pasti, orang-orang akan tau keadaan Arga. Harus ada yang berjaga di sana."


Arman harus menancapkan taringnya kembali di dunia bisnis. Karena dokter juga belum bisa memastikan sampai kapan keadaan Arga seperti ini. Dokter juga mengatakan kemungkinan terburuk setelah Arga sadar. Termasuk menjadi lebih bodoh, ataupun lumpuh.


Meski usia Arman sudah tak muda lagi, tapi bayangannya masih menghantui di dunia bisnis. Bahkan beberapa konglomerat sering meminta bantuannya untuk menyingkirkan kecoa-kecoa nakal.