
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Loh, Gatha.... kok ga ngabarin dulu sayang..."
"Biar surprise eyang..., mama...."
Agatha langsung ngeloyor ke dalam mencari mamanya.
"Ayo masuk nak Arga. Kita bicara di dalam. Gatha... mama ga ada di sini sayang... Kamu sih, ga nelpon dulu...."
Hanum langsung menyusul cucunya setelah mempersilahkan menantunya masuk.
Arga langsung bingung mendengarnya, namun semuanya telah diwakili Gatha yang super kepo.
"Emang mama kemana eyang..? Apa lagi ngemall ?"
"Bukan..., mama kamu sekarang tinggalnya di pesantren."
"Maksudnya apa ma?!"
Arga mengira Hana juga telah menikah lagi dengan seorang ustadz yang tinggal di pesantren.
"Gimana bisa?! Aku belum menceraikannya."
Batin Arga mulai bergejolak, takut kehilangan Hana. Bagaimanapun dia masih sangat mencintainya.
"Hana ingin belajar lagi tentang ilmu agama. Katanya dulu menyesal tidak mau mondok, jadi sekarang mumpung ada kesempatan."
"Ga bisa gitu dong ma! Hana istri saya! Dia harus tinggal bersama saya!"
"Disti juga istri kamu, tapi dia boleh tidak tinggal bersamamu."
Bagai ditampar dengan perkataannya sendiri Arga langsung tertunduk.
"Gatha mau ketemu sama mama.... hik..."
"Iya sayang... nanti kita ke sana ya!"
"Gatha mau sekarang!"
"Ya udah iya, eyang mau telpon eyang kakung dulu ya."
"Mas, Gatha sekarang di rumah. Mau jenguk mamanya. Mas bisa tolong minta izin kunjungan ke pondok kan?"
[ Iya, langsung aja. Mas lagi ga pengen lihat Arga. Nanti mas mintakan izinnya. Sementara Hana jangan boleh pulang dulu ya, biar Arga tau rasa. ]
"Kalo itu terserah Hana saja. Ya udah, kita langsung berangkat nih. Assalamu'alaikum."
[ Wa'alaikumsalam.]
"Eyang... Gatha mau langsung telpon mama ya."
"Ga bisa sayang! Kalo lagi belajar, mama ga boleh bawa hape. Jadi hapenya ditaruh lemari. Ga denger dong kalo Gatha telpon."
"Pantas saja Hana tak pernah angkat telpon ku. Tapi ia juga tak pernah menghubungiku balik."
Hanya menyimak obrolan mertua dan anaknya yang tak hentinya membicarakan Hana.
"Oh gitu! Tapi apa pesantren juga menerima murid yang udah dewasa kayak mama, eyang?"
"Pesantren itu milik teman eyang kakung. Eyang juga ga tau banyak tentang pesantren sayang... Eyang ga pernah mondok soalnya. Kamu besok mau mondok ga? Biar paham ilmu agama. Biar ga sembarangan kalo bertindak."
"Sembarangan bertindak gimana eyang?"
"Ya sembarangan. Misalnya menyakiti hati orang yang selama ini sudah banyak berkorban buat kamu. Kan kasian orangnya, kasian ga?"
"Ya kasian lah eyang. Tapi mama kan ga pernah nyakitin orang. Mama baik. Kenapa mama harus belajar lagi?"
"Mama belum paham tentang ilmu ikhlas Gatha..., nanti kalo kamu udah besar, kamu juga akan paham."
Lagi-lagi Arga tertampar dengan omongan mertuanya. Sambil menyetir ia melirik spion dan sesekali bertemu dengan tatapan mertuanya yang sepertinya sengaja menyindirnya.
Mobil telah sampai di area pesantren. Begitu banyak santri lalu lalang dengan tampilan muslim yang sopan.
Kemudian mobil masuk ke area santriwati, Arga tampak bingung mencari sosok Hana, karena semua wanita di sana menggunakan pakaian serba hitam dengan niqab cadar yang menutup wajahnya dan hanya mata saja yang tersisa.
Hana dari jauh sudah memperhatikan mobil suaminya dan mendekat. Baru saja terdengar panggilan nama Hana dari musholah. Dan mereka pun hendak duduk di gazebo yang disediakan.
"Ustadzah Hana, ditunggu di gazebo. Ada tamu yang mengunjungi."
Baru saja suara dari mikrofon musholah berhenti, tangan Arga di sambut oleh wanita di depannya dan dicium seperti biasa saat Hana bertemu suaminya.
"Assalamu'alaikum mas."
"Wa'alaikumsalam..."
Arga mengenali suara itu. Ingin rasanya memeluknya, namun wanita itu telah berpindah tempat. Menyalami ibunya dan memeluk erat anaknya.
"Gatha sayang... mama rindu nak..."
"Mama..."
Peluk cium memenuhi masa itu yang pecah dengan suara isak tangis dari keduanya.
"Mama...Gatha pengen lihat wajah mama..."
"Ayok! Gatha kangen sama dedek."
Agatha keceplosan lagi.
"Dedek siapa sih Gatha?"
Tanya Arga.
"Ada deh. Papa ga boleh tau! Ini rahasia kita kan ma!"
"Iya sayang ..."
"Ayo ma, ke asrama."
Mereka melangkah bersama.
"Maaf mas, hanya perempuan yang boleh masuk asrama putri."
"What?! So, I just alone in here?!"
"Sorry, ini aturan pondok."
"Dah papa... banyakin sabar ya pa ...."
"Papa pasti sabar nak. Kalo ga sabar kalah dong sama mama. Papa kan ga mau kalah dari mama. Permisi dulu ya mas..."
Mereka bertiga meninggalkan Arga sendirian di gazebo.
"VC! Mas ga mau bengong di sini."
Tanpa menjawab Hana hanya melingkarkan ibu jari dan telunjuknya menandakan oke pada suaminya.
"Pernikahan macam apa ini? Istri belajar di pondok, suami mengurus anak di rumah. Sesekali bertemu hanya melihat sepasang mata saja. Aku harus bertemu dengan pimpinan pondok pesantren ini untuk membawa Hana pulang."
Baru saja ia masuk ke dalam mobil hendak menuju rumah buya yang agak jauh dari asrama putri, ponselnya berdering. Panggilan vidio dari Hana. Ia bersemangat namun ternyata Hana tidak menampakkan wajahnya saat mengobrol, kerena kameranya ia arahkan ke Agatha.
"Papa pengen lihat wajah mama nak."
"Ga bisa mas, di sini banyak santriwati, jadi kameranya cuma bisa hadap dinding."
"Ya kamu nempel di dinding kayak Agatha kan bisa honey! Tega banget sih! Mas rindu nih!"
"Hihihi.... papa rindu mama."
Agatha lalu menarik mamanya di dekat dinding dan Arga dapat melihat Hana dengan pipi cubi tanpa makeup sedikitpun.
"Kamu gemuk honey."
"Iya, abisnya di sini nyaman... banget. Aku betah di sini."
Hana masih berusaha menyembunyikan kehamilannya.
"Apa karena ada ustadz tampan yang menggoda hatimu, sehingga kamu begitu betah dan melupakan kewajiban mu sebagai seorang istri?"
"Kalau ustadz ganteng di sini memang tempatnya mas. Tapi belum ada yang berhasil menggoyahkan hatiku. Aku cuma ingin berbagi suami dengan madu kecilku. Biar dia merasakan bagaimana layaknya seorang pengantin baru."
Agatha tidak memperdulikan obrolan orang tuanya via telepon. Ia hanya asik mengelus perut ibunya dan menaruh kepalanya di pangkuan ibunya.
"Tapi kau melalaikan kewajibanmu honey."
"Kita impas mas. Mas juga melalaikan kewajiban mas sebagai suami."
"Maksudmu?!"
"Sudah dua bulan aku meninggalkan rumah karena sedang sakit waktu itu. Selama itu mas tidak pernah mengirim uang bahkan untuk sekedar berobat. Aku hanya mendapat laba dari laundry dan konveksi milikku. Dan bahkan, mas ga pernah menanyakan kabarku."
Mata Hana mulai berkaca-kaca. Tak sanggup rasanya ia terus sembunyi di balik senyuman
"Astaghfirullah lazim... Maaf honey, aku melupakannya. Aku selalu menaruh uang di laci meja rias mu seperti biasa. Harusnya mas mentransfer. Mas belum terbiasa dengan jarak ini. Maafkan mas! Sebenarnya, mas sering telpon kamu. Tapi ga pernah kamu angkat, hapemu juga jarang aktif. Pulanglah...! Kita akan perbaiki hubungan ini. Kasian Agatha."
"Papa... Gatha mau pindah sekolah ke pondok aja! Biar bisa sama terus sama mama."
"Mama yang harus kita bawa pulang nak! Bukan kamu yang ikut di sini!"
"Sudahlah mas! Mungkin ini jalan terbaik. Lagian, aku belum bisa berada dekat denganmu. Terlalu sakit rassnya. Aku tidak mau jatuh sakit lagi. Ini demi kesehatanku. Pulanglah! Urus pindahan sekolah Agatha. Kami menunggu di sini."
"Apa?! Kenapa kamu memutuskan sepihak?!"
"Mas..., mas pengen ngajak aku pulang? Terus mas tega, lihat aku sakit-sakitan kayak dulu? Dan Disti juga terkatung-katung menunggu kehadiranmu? Sudahlah! Ikuti saja dulu alurnya. Turuti permintaan ku dan Agatha."
"Baik. Tapi kau harus mengangkat telpon ku!"
"Telponnya di atas jam sembilan malam baru bisa mas."
"Mama ga ikut pulang? Mau mondok juga?"
"Mama nanti dijemput sama ayah."
"Well, I'm go home. See you honey.. See you Gatha... Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam... hati-hati papa... muach."
Marah, kecewa, namun tak bisa berbuat banyak. Benar spa yang dikatakan Hana. Disti membutuhkannya. Arga juga tak ingin melihat Hana jatuh sakit seperti dulu. Tapi keberadaan Disti tak bisa mengisi ruang kosong di hatinya. Ia benar-benar merindukan Hana.