First Love To My Husband

First Love To My Husband
Mengembangkan Sayap



"Rend, mulai sekarang kamu bukan sekedar supir. Kamu jadi asisten pribadiku. So, kamu harus kerjakan apapun yang saya minta. Termasuk tentang perusahaan."


Arga melihat potensi pada Rendi. Hanya perlu diasah dan diberi kesempatan.


"Tapi mas, saya cuma D3. Apa pantas ikut bergabung di perusahaan?"


"Mbak Hana juga dulu cuma SMA waktu bergabung sama papa. Yang penting kamu mau belajar! Dan saya langsung yang akan ngajari. Kita tinggal seatap, jadi kita punya banyak waktu."


"Saya ngikut mas Arga aja, gimana baiknya."


"Mulai besok, kamu jangan lagi pakai seragam supir. Pake kemeja aja, ni untukmu. Belilah beberapa pakaian yang layak. Ajak istrimu, belikan juga untuknya. Pergilah, keburu malam."


"Terima kasih mas. Matur nuwun. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Keluarga Rendi sudah mengabdikan diri bahkan sejak Arman mulai mendirikan perusahaan, Jadi wajar kalau keduanya sudah seperti saudara. Hana juga mempercayakan laundry pada istri Rendi. Tentu saja ia mengajak Rara ke laundry milik Febri yang dikelola Nia temannya di panti X untuk belajar terlebih dahulu.


Salah satu pegawai laundry ternyata punya keahlian menjahit. Ia adalah Salma. Awalnya Hana tak mengerti, mengapa Salma selalu meminta pakaian lama Hana tetapi tak pernah memakainya sama sekali.


"Sebenarnya buat apa sih kamu minta pakaian lama ku? Ga juga pernah kamu pakai. Kamu kasih ke siapa?"


Tanya Hana penasaran.


"Saya pake selalu kok mbak. Ini juga lagi saya pake."


Hana melihat Salma secara rinci. Berputar, mencoba menelisik.


"Saya ga pernah punya baju kayak gini Sal!"


"Emang ga kayak gini mbak! Saya rombak modelnya, dan saya kombinasikan dengan baju mbak yang lain. Jadi, walaupun bahannya bekas tapi modelnya baru."


"Kamu ngerombak di mana?"


"Saya kerjain sendiri di rumah mbak."


"Oh... kamu bisa jahit! Bisa bikin model sendiri lagi. Good job! Tapi kenapa kamu kerjanya di laundry?"


"Saya suka kok kerja sama mbak. Mbak baik! Susah mbak cari bos yang care kayak mbak."


"Kalo saya buka konveksi, kamu mau mengelolanya?"


"Waduh mbak, saya belum ada pengalaman di situ."


"Rara juga dulu ga ada pengalaman di laundry, sekarang dia bisa menjalankan bisnis ini dengan baik. Kalo kamu mau, kita akan cari tempat buat kamu belajar. Saya sama Rara ikut nemenin deh."


"Terus kalau saya dan mbak Rara pergi, laundry cuma dijaga mereka berdua dong mbak?!"


Jawab Salma sambil menunjuk kedua rekan kerjanya.


"Ga papa, kita cari waktu pas laundry sepi. Tapi kalo udah di konveksi, kamu harus jahitin seragam untuk pegawai laundry ya!"


Seru Hana yang disambut baik oleh semua.


"Siap mbak."


Rara mencoba mengeluarkan pendapatnya. Dan Salma menatap Hana ingin mendapat jawaban.


"Jangan di sini! Cari tempat di sekitar rumah Salma aja. Selain waktu kerja yang lebih efisien, Salma juga akan menciptakan lapangan kerja di sana. Ingat Sal, cari orang yang mampu dan mau bekerja. Tak penting juga harus pilih yang jujur. Pertahankan orang yang punya loyalitas tinggi. Itu akan sangat mendukungmu."


"Wah... saya juga pengen dong mbak dibukain usaha kayak Salma."


Sela Lala.


"Saya juga mau mbak!"


Cici juga ikut bersuara.


"Nanti, kalau saya sudah melihat bakat kalian! Sekarang, kalian tingkatkan dulu loyalitas kalian ya!"


Hana tersenyum pada dua karyawan yang masih belasan tahun yang terpaksa putus sekolah karena alasan biaya. Tapi Hana tetap menyuruh mereka sekolah terbuka untuk membuka peluang di masa depan.


Hana tidak seperti Febri, yang selalu membuka usaha dengan perfect. Hana lebih senang jika ia merintisnya dari awal. Saat kelak ada batu sandungan, ia pasti akan cepat mengantisipasinya karena ia memulai dari dasar. Pembicaraan mereka terhenti saat Rendi datang dan ingin mengajak istrinya shoping.


Duh.. senengnya yang abis dapat rezeki nomplok...


****


Nina terkesima dengan setelah masuk ke butik Febri putrinya. Tapi Arman puas dengan perkembangan putri sulungnya.


"Febri..., mama pengen baju dari butik kamu! Tapi kok muslim semua?"


"Ini memang butik muslimah ma. Dulu Febri sulit mencari pakaian muslimah yang cocok buat Febri. Tapi mereka ngerti dengan selera Febri. Saya puas dengan rancangan mereka ma! Jadi sebenarnya, butik ini sangat membantu penampilan saya."


Kedua designer itu tersenyum senang saat di bos memujinya.


" Iya sih, bagus! Tapi...."


"Nin..., anak kita sudah hijrah! Mas nunggu giliran kamu. Segera ya!"


Arman berlalu menuju baju yang menurutnya cocok buat Nina.


"Ini sepertinya cocok untukmu."


Arman membawa baju itu ke hadapan Nina.


"Bagus mas! Buat ngaji ya?!"


"Mulai sekarang, kalo ga nutup aurat cuma boleh di dalam rumah! Berarti ga nge-mall, ga joging, ga pelesir. Dompet mas aman dong."


"Papa kok gitu sih sama mama!"


Protes Febri.


"Papa udah ga tau mesti pakai cara apa buat mama ngerti Feb! Kamu coba yang ngajari sana!"


Arman meninggalkan ibu dan anak itu dan mencoba memilihkan pakaian untuk Hana dan Wawa. Ia tak peduli kalau nanti Nina akan cemburu lagi karena ulahnya ini. Wawa memang tidak secantik Nina, tapi bagi Arman Wawa adalah wanita sempurna yang takkan tergantikan.