
Bagai disambar petir di siang hari. Hana mendapat kiriman foto ijab kabul suaminya dengan gadis muda yang sangat cantik.
Rendi sengaja mengirimi Hana foto itu sesuai perintah Arga.
"Jangan sampai tim Hendra mendahului kita! Beri keterangan apa adanya, seperti yang kau tau!"
"Mas yakin?! Mbak Hana pasti akan syok melihatnya!"
"Lebih baik kamu yang memberi tau, dari pada musuhku. Hana wanita yang kuat."
"Baik mas. Tapi nanti kalo mbak Hana tanya..."
"Kamu yang akan menjawabnya! Aku akan menonaktifkan hapeku. Aku tak sanggup menjawabnya."
"Nah, tu dia mas! Saya juga ga bisa! Saya ga tega!"
Keduanya terdiam sejenak.
"Kirim foto dan beri keterangan dengan jelas! Setelah itu nonaktifkan juga hapemu sepertiku. Ijab kabul akan segera dimulai, aku akan ke sana!"
Arga melangkah mendekati sebuah meja kecil di tengah mesjid. Sudah ada penghulu dan ayah Disti menunggu di sana.
Rendi pun bergegas mencari posisi untuk mengambil foto terbaik untuk dikirim ke Hana.
Hana membaca keterangan dari Rendi. Ia masih belum bisa menerimanya. Ia berniat untuk menghubungi suaminya. Beberapa kali dicobanya, namun tetap tidak tersambung.
Ia lalu menelpon Rendi untuk meminta keterangan. Tapi juga nihil. Hana mulai frustasi, akhirnya ia menghubungi Rara, istri Rendi.
" Assalamu'alaikum Ra."
"Wa'alaikumsalam mbak. Apa kabar?"
"Buruk Ra! Dimana suamimu?!"
Rara hanya diam karena merasa heran. Untuk apa Hana mencari suaminya?
"Ra, aku tanya. Dimana suamimu!"
Suara Hana mulai meninggi. Membuat Rara semakin bingung. Tidak biasanya Hana bicara dengan nada tinggi seperti itu.
"E... bukannya... lagi keluar kota, sama mas Arga?"
"Apa kamu tidak ikut suamimu?"
"Engga mbak! Saya di rumah. Emangnya ada apa ya mbak?"
Tanya Rara masih belum mengerti.
"Mas Arga Ra... hik.. mas Arga menikah lagi... Rendi mengirim fotonya.... hik..."
Tangis Hana pecah. Ia sudah tak bisa membendung lagi derasnya air mengalir.
"Ga mungkin mbak! Mas Arga sangat menyayangi mbak! Mungkin bukan mas Arga yang ada di foto itu!"
Hana segera mematikan sambungan telponnya dan mengirim ulang foto dari Rendi ke Rara.
Betapa terkejutnya Rara, melihat bahwa itu benar-benar Arga, atasan suaminya. Bagaimana tidak, selama ini ia dan suaminya begitu mengagumi sosok Arga dan Hana. Mereka ingin mencontoh tindak tanduk bosnya. Tapi bagaimana kalau suaminya juga meniru Arga untuk menikah lagi? Sanggupkah dia?
[ Mbak yang sabar ya... Mungkin ada alasan kuat di balik semua tindakan mas Arga.]
[ Apapun alasannya, itu tetap menyakitkan Ra... Aku hancur....]
[ Mbak harus kuat... demi Agatha mbak... demi Agatha. Aku akan segera ke sana mbak... Tunggu aku.]
Rara segera meluncur ke rumah Hana untuk menghiburnya. Ia tidak ingin terjadi hal buruk pada Hana, wanita yang selalu mengajarinya kelembutan, wanita yang mengajarinya berbisnis. Wanita yang bagaikan saudara kandung baginya. Ia juga kangen dengan semua karyawan di sana yang dulu mengisi waktu bersama.
Sepanjang perjalanan Rara beberapa kali menghubungi suaminya, namun sama seperti yang dikatakan oleh Hana. Nomor suaminya masih juga belum aktif.
Pukul lima sore, Rara sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Hana. Ia langsung masuk setelah menanyakan keberadaan Hana pada mbok Ginem.
"Mama di kamar lagi sakit, tante."
Sapa Agatha yang langsung menggandeng tangan Rara.
"Iya, tante tau. Kamu mandi dulu sana. Udah sore. Tante mau ketemu mama dulu ya."
"Baik tante. Tapi tante harus bisa bujukin mama biar mau diobati dokter ya."
"Iya sayang... Tapi mama cuma butuh istirahat aja kok. Kamu jangan nakal ya, biar mama lekas sembuh."
"Siap Tante... Gatha ga akan nakal. Gatha mau mama cepat sembuh."
"Anak pinter..."
Rara mengusap rambut Agatha gemas. Lalu masuk ke kamar Hana setelah mengetuknya terlebih dahulu.
Mata Hana yang masih sembab kembali mengucurkan air mata sambil memeluk sahabatnya.
"Mas Arga Ra..."
"Sabar mbak... saya akan bantu cari tau siapa wanita itu..."
"Kamu nginep di sini ya... temani aku..."
"Iya mbak... saya akan nginep. Sapa tau nanti nomor mereka segera aktif. Aku juga udah ga sabar menginterogasinya."
"Makasih ya Ra, kamu ada di saat aku seperti ini."
"Aku akan selalu ada buat mbak... Mbak sudah seperti kakakku sendiri..."
Rara memeluk Hana dengan hati hancur. Ia tak kuasa melihat Hana menderita. Tapi sebisa mungkin ia membendung air matanya, agar Hana tak bertambah sedih.
****