
Enam bulan berlalu. Arman memindahkan posisi Hana ke bagian keuangan, karena orang sebelumnya ketahuan korupsi di perusahaannya.
Sebagai manager keuangan, ia tentu memikul tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya. Namun tentu saja, insentifnya juga dua kali lipat dari sebelumnya. Belum lagi jatah dari ibu mertuanya yang mengambil tanggung jawab atas Arga putranya.
Hana kini sudah mampu memberi uang bulanan untuk orang tuanya. Dan ia tidak membiarkan mamanya berdagang di pajak pagi lagi.
Tapi Hanum juga tidak mau hanya berpangku tangan. Ia memanfaatkan uang pemberian Hana untuk modal usaha. Hanum membuka warung sembako di depan rumahnya. Bersama suami tercinta, menghabiskan masa tua bersama.
Kelihatannya Arman tidak main-main mengajak Hana terjun ke dunia bisnis. Ia juga puas dengan hasil kerja menantunya itu.
"Kamu cerdas Hana! Andai Febri mempunyai kepribadian sebaik kamu, ia juga pasti akan melaju pesat sepertimu. Kalian berdua adalah harapan papa sekarang. Arga..., cepatlah bangun nak...! Lihatlah istri kecilmu yang luar biasa."
****
Febri sedang dipersiapkan menggantikan direktur yang sebentar lagi akan pensiun di perusahaan cabang. Namun ia belum diberi tahu bahwa Nina dan Arman adalah orang tua kandungnya. Tapi kasih sayangnya dapat Febri rasakan. Setiap dukungan dan arahan, sepenuhnya untuk memperbaiki pola pikir dan akhlaknya.
****
Malam itu, Hana menginap di rumah sakit. Itu karena besok adalah hari libur. Ia ingin menghabiskan waktu menemani Arga, suaminya.
"Sudah sembilan bulan, mas...Bangunlah!"
Hana merapikan kumis suaminya dengan gunting kecil. Menyisir rambut yang sudah panjang sekenanya saja. Kemudian ia bangkit dan bersiap untuk sholat Isya. Lalu melanjutkan dengan sholat Hajat, yang sudah rutin ia lakukan tiga bulan terakhir. Memohon kesembuhan suaminya. Dan membaca kitab suci sampai batas mata mengantuk.
Setelah melipat mukena, ia mengenakan jilbabnya kembali, dan mencium kening Arga.
"Aku tidur dulu ya mas.., semoga bisa mimpi bareng kamu lagi."
Dokter dan perawat di sana sudah kenal betul dengannya. Dan mereka heran dengan kesetiaan Hana, padahal kecelakaan itu terjadi sehari setelah pernikahan mereka. Bagaimana mungkin Hana bisa sesayang itu pada Arga?! Saat itu Hana hanya menjawab, bahwa ia belum pernah merasakan cinta yang luar biasa seperti ini.
"Arga pun waktu itu belum mengenalku, tapi ia sudah memberikan gold card-nya, dan menyelamatkan ayah." Batinnya.
Ia juga sering teringat nasehat mamanya, "Nduk.., kamu harus ikhlas merawat suamimu. Suami istri itu harus saling mendukung!"
"Betul Hana! Kamu liatkan, gimana mama merawat ayah dulu? Ayah ingin kamu ikhlas seperti mama, nak."
Mereka memang orang-orang yang hebat! Penuh kasih sayang.
Saat tengah malam Hana bermimpi berdiri bersama Arga di padang rumput yang luas seperti tak berujung. Arga menggenggam tangannya erat, dan berlari bersama. Saat hendak mengejar kupu- kupu, tiba-tiba mereka juga terbang rendah mengikuti kupu-kupu yang indah itu. Namun genggaman tangan terlepas dan Arga terjatuh. Hana terkejut dan terbangun dari mimpinya.
"Yaa Allah...apa maksud mimpi ini?! " Ia menghampiri bed pasien. Tetap sama seperti biasanya, tanpa perubahan.
Hana berbalik menuju kamar mandi. Mengambil wudhu untuk sholat Tahajud. Saat raka'at pertama, ia mendengar suara serak dan tak begitu jelas.
"Yaa Allah suara apa itu...?"
Batin Hana, karena memang dia sering mendengar dan merasakan hal-hal aneh saat sholat tahajud.
Hana menganggap itu hanya cobaan, dan ia tetap menyelesaikan raka'at kedua.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi
Betapa terkejutnya Hana melihat tangan Arga menjulur ke bawah. Ia cepat-cepat menghampiri tanpa membuka mukenanya. Ia kembali mendengar suara yang sama dari mulut Arga yang hanya terbuka sedikit.
"Yaa Allah..., berarti tadi suara mas Arga...Terima kasih yaa Allah..."
Ia bersemangat menekan tombol untuk memanggil paramedis. Perawat terkejut melihat tombol panggilan dari ruangan Arga, pasien yang sudah berada di sana sembilan bulan tanpa reaksi. Perawat itu dengan sigap menghubungi dokter jaga malam itu.
Melihat perkembangan pasiennya, ia hendak menelpon orang tua Arga, tapi Hana melarangnya.
"Jangan dok. Sudah malam.Tak baik buat kesehatan mereka. Besok Subuh biar saya yang ngabarin."
"Baiklah, kalau itu keinginan kamu."
Malam itu, kamar Arga tak lepas dari pantauan dokter dan perawat yang jaga.
"Sus, temani Bu Hana. Jangan ditinggal sendiri. Saya akan melihat pasien di sebelah."
"Baik dok. Dengan senang hati."
Nampaknya perawat itu pun tak ingin kehilangan momen menyaksikan kesembuhan Arga.
Sementara Hana sibuk mengajak bicara suaminya, mencoba mendengarkan apa yang ingin suaminya katakan, walau pun suaranya tidak jelas dan berulang kali Hana mengulang kata itu dengan lembut sambil memegang erat tangan suaminya.
"Apa mas...mas mau apa..? Hm... minum? Iya, minum? Iya ini minumnya."
Hana meneteskan air dengan ujung sendok ke mulut suaminya.
"Iya, sakit..? Mana yang sakit? Hm.... iya. Kaki...? Ini..?"
Setelah mendapat anggukan yang sangat pelan bahkan nyaris Arga tidak menggerakkan kepala, namun perhatian Hana membuat ia memahami apa yang suaminya inginkan. Ia mengusap pelan kaki suaminya berharap bisa memberi kenyamanan di sana.
Begitulah Hana memperlakukan Arga dengan lembut sepanjang malam yang disaksikan paramedis di sekitarnya. Salah seorang perawat merekam kejadian itu, karena rasa haru yang luar biasa.
Sampai Subuh tiba, Arga sudah terlelap kembali.
"Ga apa-apa buk, mungkin pasien butuh istirahat."
"Semoga suamiku benar-benar pulih, dok."
"Insya Allah..., ini juga berkat do'a dari istri soleha.
Oh iya, ibu sudah menghubungi mertua ibu?"
"Iya, segera dok. Saya permisi sebentar."
Hana menghubungi mertuanya. Berdering, namun tak diangkat, tiga kali tetap sama. Akhirnya Hana mengirimkan pesan lewat aplikasi hijau.
[Assalamu'alaikum ma. Segeralah ke rumah sakit, mas Arga mulai siuman.]
Ia juga mengirim pesan untuk mamanya sendiri. Kemudian bergegas mandi dan sholat Subuh. Ia bergerak cepat karena tidak ingin kehilangan momen indah saat Arga sadar nanti.