First Love To My Husband

First Love To My Husband
Usaha



"Saya boleh lihat keadaan om Nanang?"Kata Arga sambil berdiri. Ia sadar, permintaannya untuk menikahi Hana tidak akan mendapat jawaban secepat kilat, seperti perkenalan singkatnya. Dan ia harus berusaha lebih keras lagi untuk membuktikan keseriusannya.


"Mari nak." Jawab Hanum langsung menuju kamar dan diikuti oleh semua.


"Mas..., ini ibu datang menjengukmu." Hanum begitu lembut membangunkan sang suami. Terlihat jelas bahwa cintanya sangat besar pada ayah dari anaknya itu.


Nanang mulai membuka mata, memperhatikan orang di sekitarnya.


"Nang...." Ucap nenek sambil mengelus pucuk kepala menantunya dengan air mata yang tak bisa dibendung.


"Ibu. Maafin Nanang bu... Nanang udah bikin putri ibu menderita. Maafin Nanang bu..." Nanang menangis sesenggukan sambil berbaring dan meraih tangan mertuanya dan menciumnya dengan takzim.


"Sudahlah nak... Ini bagian dari takdir. Proses ini juga membuat putri ibu semakin dewasa dalam menjalani hidup. Kita harus menjalaninya dengan ikhlas. Oh iya, kenalin ini Arga, calon mantumu." Ucap nenek sambil mengarahkan tangannya ke arah Arga.


"Menantu? Secepat itukah? Alhamdulillah..., semoga ayah masih bisa jadi walimu ya nduk..."


"Ayah..., ayah ga boleh ngomong gitu! Ayah pasti bisa jadi waliku nanti. Ayah akan sehat lagi." Hana langsung menghambur ke pelukan ayahnya.


Melihat keadaan ini Arga sudah tidak lagi mengedepankan keinginannya untuk melamar Hana. Ia ingin om Nanang segera sembuh, dan mengembalikan kebahagiaan keluarga ini."Maaf, apa ga sebaiknya kita bawa ke rumah sakit aja?"


Celetuknya berhasil membungkam suasana. Nanang yang menyadari keadaan pun langsung berucap, "Nak..., om sudah cukup senang berbaring di kamar ini. Om punya dokter sekaligus perawat paling cantik sejagat raya. Om ga mau jauh-jauh darinya." Ucap Nanang lembut sambil melirik sang istri dan tersenyum penuh arti.


"Maafin Hanum mas. Hanum cuma mampu seperti ini." Hanum tergugu dan meraih tangan suaminya.


"Tante..., kita harus bawa om Nanang ke rumah sakit secepatnya. Saya yang akan menanggung semua biayanya. Ayo, kita harus gerak cepat."


"Tapi, tante ga mau semua ini jadi beban buat kamu. Terlebih Hana." Nanar Hanum menatap putrinya. Ia tak mau kalau Hana dengan terpaksa menerima Arga karena hutang budi keluarga.


"Tante tenang aja. Saya ga akan memaksa Hana untuk menikah dengan saya. Saya ikhlas membantu. Ayo, kita berangkat sekarang."Arga segera mengambil keputusan yang memang harus segera mungkin ia ambil. Ia segera memesan taksi melalui aplikasinya. Sementara Hanum mempersiapkan beberapa baju ganti untuk suaminya.


Kemudian Arga membopong tubuh kurus Nanang ke dalam taksi. Hana tertegun menyaksikan hal itu. "Yaa Allah, benarkah Engkau mengirim orang ini untuk menolong keluarga hamba? Atau ini hanyalah kamuflase seperti lamarannya di rumah nenek kemarin? Yaa Allah, ku serahkan sepenuhnya urusanku pada-Mu Yaa Rab. Sungguh aku tidak tau apa rencana-Mu. Dan ku yakin, Engkau akan memberikan yang terbaik."


Sepanjang perjalanan Hana hanya diam dan menyerahkan segalanya pada Allah SWT. Air matanya pun jatuh perlahan.


"Ayah..., maafkan Hana yang selama ini hanya berpangku tangan. Hana ini anak yang ga berguna." Batinnya ketika dokter mulai memeriksa ayahnya.


"Kenapa baru sekarang di bawa ke sini buk?" Sesal dokter pada keluarga pasien. Bu Hanum hanya menunduk tak bisa menjawab.


"Dok, lakukan yang terbaik untuk om Nanang. Saya ga mau ada kesalahan sedikitpun." Sedikit penekanan membuat dokter itu pun mengerti dan bertindak cepat.


"Bisa bicara sebentar?" Arga mengajak Hana keluar.


"Oh ya, baju mas di kamar tadi masih kotor. Tolong cuciin ya." Ucapnya sebelum berlalu. Namun langkahnya tertahan oleh tangan Hana. Gadis yang sedari tadi hanya diam, kini berani meraih tangannya.


"Kembalilah, untuk menghalalkan ku. Dan..., aku harap, kita nikahnya beneran. Bukan kamuflase." Hana telah mengumpulkan segenap keberaniannya untuk mengatakan semua ini.


Arga tersenyum senang mendengarnya."Insya Allah Honey. Mas akan datang secepatnya beserta keluarga setelah urusan mas selesai. Mas boleh minta nomor telepon kamu?"


Hana mengangguk dan menyebut beberapa digit."Jadi, sekarang kita beneran pacaran ya! Ga cuma di depan nenek aja." Arga mulai menggoda. Hana hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Hati-hati mas. Terima kasih juga atas semuanya."


"Kamu juga dek. Jaga hatimu hanya untuk mas ya. See you."


"See you too." Hana menatap punggung Arga sampai menghilang masuk ke taksi yang memang sedari tadi disuruh menunggu.


"Alhamdulillah...Terima kasih Yaa Allah. Usaha yang baru sejengkal telah Engkau beri hasil yang luar biasa. Mom.. I'm coming soon. I Miss you so much. And I give you a great news about me." Arga terus tersenyum dalam rasa syukur yang dalam. Sampai-sampai ia lupa belum memberi tahukan tujuan berikutnya pada driver online.


"Maaf mas, kita mau kemana ya? Dari tadi mas belum ngisi aplikasinya."


"Di luar aplikasi aja pak. Saya mau ke Jln. Rahayu nomor sebelas. Agak cepet ya pak, soalnya saya sudah ditunggu."


"Oke mas. Enjoy you'r trip." Si driver lalu memutar musik untuk menambah kenyamanan pelanggannya.


Malam ini, ku sendiri.


Tak ada yang menemani.


Seperti malam-malam.


Yang sudah-sudah.


Tuhan kirimkan lah aku...


Kekasih yang baik hati....


Yang mencintai aku...


Apa a...danya...