
Bersama Joko, Arga mengunjungi rumah Disti. Ia ingin tahu tentang gadis malang yang terjerat bersamanya semalam.
"Assalamu'alaikum. Disti.., ini aku Joko."
"Wa'alaikumsalam. Masuk nak Joko."
Terdengar suara parau dari dalam.
"Disti mana om?"
Arga terkejut melihat lelaki paruh baya yang kedua kakinya hanya sebatas paha. Dan berjalan dengan dua bangku plastik dengan lincah.
"Disti belum pulang.... Biasanya jam segini sudah di rumah! Mungkin ada pekerjaan tambahan. Kamu dengan siapa?"
"Oh.. ini... ini teman saya om."
Joko segera menjawab setelah Arga memijak kakinya.
"Saya Arga pak. Temennya Joko."
"Saya ayahnya Disti."
Sahutnya kemudian sambil mengulurkan tangan. Arga agak membungkuk untuk meraih tangannya.
"Boleh kami menunggu Disti di sini om?"
"Silahkan. Mungkin sebentar lagi Disti sampai."
"Sebentar y, om buatin minum dulu."
"Tidak usah repot-repot om."
"Tidak apa. Hanya teh saja."
Joko dan Arga duduk di kursi plastik yang warnanya sudah pudar. Arga berpikir bahwa ibunya Disti yang akan mengantarkan teh buat mereka.
" Ini silahkan. Saya akan ambil lagi."
Begitu terkejutnya Arga melihat lelaki itu membawa segelas teh panas dengan gelas bertangkai. Arga tak melihat dua bangku pastik yang tadi digunakan untuk jalan.
"Tidak pak! Biar saya ambil sendiri. Saya pikir tadi, ada orang lain yang akan mengantarnya."
"Di rumah ini hanya ada aku dan Disti. Aku biasa melakukan apapun sendiri. Kasihan kalo harus Disti semua."
Arga terus mengikuti pria itu sampai ke dapur. Terlihat kompor berada di lantai. Ia miris melihat keadaan rumah Disti, namun bangga karena Disti tak mau menerima uang darinya.
"Ini teh mu! Kalian ngobrol dulu, aku mau cuci piring sebentar."
"Bapak bisa cuci piring juga?"
"Tentu! Aku melakukan semuanya saat tidak ada Disti. Tapi saat dia di rumah, dia pasti akan melarang ku. Dia sangat menyayangiku."
Arga teringat masa lalu, saat ia lumpuh pasca koma sembilan bulan. Dengan pelayanan lengkap. Bahkan untuk mandi saja ada mang Didi dan satpam tengil untuk menggendongnya.
Begitu mandirinya ayah Disti, Arga seolah merasa rendah dihadapannya.
"Saya ngetehnya di sini aja deh pak. Nemenin bapak ngobrol."
"Kamu sepertinya anak baik nak. Bapak senang punya teman ngobrol. Sehari-hari, bapak hanya sendiri di rumah."
Suara ayah Disti mulai terlihat ramah.
Arga sebenarnya ingin membantu, tapi ia tak bisa mencuci piring. Bisa-bisa malah pecah semua nanti.
" Sebentar ya nak, bapak mau nyapu. Nak Arga duduk saja dulu."
Arga kembali terkejut mendengarnya.
"Biar saya aja yang nyapu pak. Kalo nyapu saya bisa!"
Arga merasa tidak enak kalau hanya duduk saja.
"Tidak akan bisa! Sapunya pendek seperti ini."
Ayah Disti menunjukkan sapu yang sengaja dipotong untuk memudahkan pekerjaannya.
"Maaf tuan, e... maksudku Arga. Saya harus ke rumah sakit. Mungkin ibuku sudah hampir selesai operasinya."
"Ibumu sakit apa Joko?"
"Batu ginjal om."
"Pergi temui ibumu! Jaga dia selagi masih hidup."
Perintah ayah Disti. Joko memandang Arga meminta jawaban.
"Pergilah! Aku akan menunggu di sini. Nanti aku akan menelpon mu."
"Terima kasih tu.. Arga. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
"Sudah hampir tengah hari, tapi Disti belum juga kembali. Apa dia cari kerjaan sampingan lagi?"
"Emang kerjaan sampingan Disti apa pak?"
" Kalo giliran kerja malam di hotel, siangnya dia biasa ambil setrikaan di sekitaran sini. Bosen katanya kalo tidur siang kelamaan. Tapi biasanya dia pulang dulu. Istirahat sebentar, mandi, makan, begitu."
"Kenapa ga ditelpon aja pak?"
"Bapak tidak punya pulsa. Kalo punya, sudah dari tadi bapak telpon. Kasihan kamu harus nunggu lama. Pasti ada hal yang sangat penting, hingga kamu mau menunggu lama."
"Ya pak. Memang ada hal penting yang akan saya sampaikan pada Disti. Kalau gitu... pake hape saya saja pak."
Arga menyodorkan hape miliknya.
"Bapak tidak pandai pake hape seperti itu... Nak Arga saja yang menelpon."
"Baiklah, bisa minta nomornya pak?"
"Loh, kamu ga punya nomor Disti toh! Saya kira kamu teman dekatnya."
"Kami baru kenal pak. Itu pun karena Joko."
"Oh.. pantes saja."
Arga berkali-kali nelpon, tapi Disti tak menjawab. Lalu ia mengirim pesan.
[ Dis, ayahmu ingin bicara. Angkatlah.]
Setelah itu, Disti baru mau mengangkat telepon dari nomor tak dikenal karena tidak mau membuat ayahnya cemas. Tadinya ia ingin mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan diri ke kereta api. Namun berulang kali ia mengurungkan niatnya karena selalu teringat ayahnya di rumah.
"Siapa nanti yang akan mengurus bapak..? Siapa yang akan melengkapi kebutuhannya jika aku mati. Tapi aku tak sanggup menanggung aib. Apa lagi jika nantinya aku hamil. Aku benar-benar tak sanggup."
Lamunan Disti buyar saat mendengar suara ponselnya berkali-kali. Setelah tahu ayahnya yang mencoba menghubunginya entah dengan nomor siapa, ia lalu bergegas pulang sambil menerima telpon dari ayahnya.