First Love To My Husband

First Love To My Husband
Big Bos



Sesampainya di sekolah Agatha, terlihat murid-murid berjubel hendak keluar. Membuat Arga semakin panik.


"Ayok Ren, keburu pulang semua!"


Arga menarik tangan Rendi mencoba menerobos barisan anak-anak.


"Sabar mas, biar mereka keluar dulu!"


"Nanti gurunya juga pulang! Terus mau ngurus sama siapa?"


"Aduh.... dasar big bos! Ini sekolah elit pak bos! Sampek jam lima sore juga masih buka! Sebentar lagi mereka menerima murid yang lain! Dari TK sampek SMK. Bergantian setiap hari."


"Oh... gitu ya?!"


"Emang mas Arga sama sekali ga pernah antar jemput Agatha?"


Arga menggeleng sambil nyengir kuda.


"Dasar ayah durhaka! Sabar bener mbak Hana ngadepin mas Arga. Kalo gue udah kenak cincang."


"Ala... dasar lu songong amat. Anak aja belum punya, sok mimpi lu."


"Biarin, seenggaknya gue ga jadi papa durhaka dan suami durjana kayak mas Arga."


"Jahat banget lu ngatain gue, Ren!"


"Emang kenyataan. Ayo masuk! Udah agak lengang."


****


"Tujuan pindah ke sekolah mana pak?"


"Pondok pesantren X."


"Apa pihak pondok menerima pindahan dari sekolah umum?"


"Em... saya belum tanyakan hal itu."


"Sebaiknya ditanya dulu pak. Kadang ada pesantren yang menolaknya."


"Sebentar, saya hubungi pihak pondok dulu."


Arga menjauh mencoba menghubungi pemilik pondok yang katanya teman mertuanya. Tapi ternyata pihak pondok tidak menerima murid pindahan dari sekolah umum dengan alasan bahwa murid tersebut tidak akan mampu mengikuti pelajaran jika tidak dari awal. Dan pihak pondok menyarankan setelah lulus sekolah dasar saja baru ikut bergabung. Arga senang mendengarnya. Itu berarti, Agatha masih bisa menemaninya. Dan kejadian ini menyadarkannya, betapa selama ini Agatha membutuhkan perhatian darinya. Pantas saja ia bersikukuh untuk mondok. Mungkin karena ia sangat rindu kasih sayang dari ibunya yang tak pernah ia berikan.


"Maaf Bu, pihak pondok tidak dapat menerima."


"Jadi, apa mau dipindahkan ke sekolah lain?"


"Tidak! Anak saya tidak jadi pindah. Saya permisi dulu. Selamat siang."


"Ya. Siang."


Sambil tersenyum guru itu terus menatap sampai tamunya menghilang di balik pintu. Rendi pun geleng kepala melihat kelakuan big bosnya yang mendadak seperti culun di matanya.


"Aku pikir mas Arga sudah tanya ke pondok sebelum mengajakku ke sini. Bikin malu aja! Untung... bos!"


"Kalo nggak, mau lu apain?! Sudah! Jangan mengejekku terus!"


"Kita langsung ke pondok jemput Agatha."


"What?! Pondoknya jauh bos....! Ga istirahat dulu gitu?! Lagian katanya mas mau ke rumah ortu buat nenangin diri."


"Nanti aja, sekalian bareng Agatha."


"Nunggu Agatha libur dong! Terus kalo libur, pasti Agatha lebih milih ke pondok nemuin mamanya ketimbang neneknya. Secara dia rindu berat!"


"Ah... sudahlah. Kita gantian nyetirnya biar ga capek! Aku ga sabar ketemu anakku."


"Alah..modus si bos. Paling juga rindu sama mbak Hana. Udah di ubun-ubun...! Ajak pulang aja sekalian! Jangan kegedean gengsi!"


"Dia ga mau pulang!"


"Dan bos ga memaksanya? Harusnya, mas tunjukin kalo mas benar-benar membutuhkannya dan sangat merasa kehilangan. Bukannya malah menerima gitu aja! Kesannya mas kayak udah ga butuh dia karena sudah ada Disti."


"Gitu ya! Tumben lu pinter!"


"Jadi, mas bener ga pernah bujuk mbak Hana buat pulang?!"


"Memintanya pernah sekali. Bujuk belum!"


"Ah... dah deh. Ngantuk aku ngomong sama big bos egois kayak lu. Sama karyawan... aja, care banget. Giliran sama anak bini? Be..."


Rendi memilih kursi penumpang untuk istirahat, karena ia malas melihat big bos yang ternyata jauh dari penilaiannya.


"Ra, seandainya kamu tau. Pasti kamu tidak lagi memintaku untuk mencontoh sikap big bos ini."


Batin Rendi sambil mencoba memejamkan mata, walau sebenarnya dia tidak mengantuk sama sekali.


"Nanti gantian nyetirnya! Gue juga capek nih!"


Arga menoleh ke belakang.


Jawab Rendi sambil berbaring.


****


"Maaf pak, hari ini tidak ada jadwal kunjungan santri. Apa bapak tidak membaca grup?"


"Saya bukan orang tua santri. Saya ingin menemui istri saya."


"Istri? Siapa namanya?"


"Hana."


"Oh... ustadzah Hana. Saya kira dia jan...Eh silahkan kalo begitu. Tunggu di gazebo saja ya. Tidak boleh sampai ke asrama putri."


"Makasih. Ini untuk beli rokok."


"Maaf pak. Tidak usah."


"Ambil saja. Pantang bagiku untuk memasukkan kembali uang yang sudah keluar."


"Tapi pak..."


"Sudah."


Arga menaruhnya di kantong dekat tulisan security lalu beranjak pergi. Orang itu mengikuti mobil Arga dengan sepeda motornya. Kemudian menuju musholah untuk memanggil nama Hana dengan mikrofon. Sampai Hana menemui Arga, baru ia berhenti dan menemui Arga kembali.


"Saya tidak bisa menerima uang sebelum saya bekerja. Dan ini terlalu banyak. Karena saya hanya memanggil nama ustadzah saja, yang seharusnya memang bukan tugas saya."


"Tidak apa. Saya justru senang karena kamu juga menambah satu layanan buat saya. Berkat suara kamu yang berulang-ulang, anak saya juga hadir di sini. Ini bonus buat kamu. Jangan ditolak! Kami tidak pernah kekurangan uang! Tapi kami mungkin sering kekurangan orang bermoral seperti bapak. Kalau bapak ingin berganti pekerjaan, hubungi saya. Ini kartu nama saya. Jangan sungkan."


"Terima kasih pak. Sebenarnya... saya betah di sini. Tapi... istri saya sepertinya memang butuh gaji lebih. Maklum, anak saya sudah mulai kuliah dan ngekos."


"Emang kuliah di mana pak?"


"Di Universitas X."


"Oh... itu dekat rumah saya pak. Anaknya cewek apa cowok?"


"Cowok."


"Ya udah. Nanti anak bapak ga usah ngekos! Tinggal di rumah saya aja. Pake kamar bekas kamu ya Ren?"


"Terserah bos saja. Nanti bisa juga diajari kerja kayak saya dulu."


"God idea. Nanti anaknya dianter langsung ke rumah ya pak. Kebetulan alamat kantor di kartu nama ini bersebelahan dengan rumah saya."


"Alhamdulillah. Terimakasih pak. Saya permisi dulu mau lanjut kerja."


"Iya, monggo."


"Papa baik banget sih. Gatha jadi makin sayang... deh sama papa."


"Oh ya? Gatha kangen ga sama papa?"


"Kangen dong pa!"


"Gimana? Gatha betah ga di sini?"


"Betah dong... kan ada mama. Cuma...."


"Cuma apa sayang?"


"Ga bisa milih makanan kayak di rumah."


"Ya udah. Pulang aja yuk! Nanti kita mampir ke restauran, manjain perut kecil ini."


Arga mengusap perut Agatha manja.


"Perut besar ga ikut dimanjain pa?"


"Perut besar?"


"Iya, perut mama kan udah makin gede!"


Hana yang dari tadi diam tertunduk mendengar ucapan anaknya.


"Mbak Hana hamil, ya?"


Sahut Rendi yang dari awal memang merasa curiga dengan cara Hana berjalan dan duduk. Namu hanya dibalas tatapan aneh di balik cadarnya.


"Main sama om Rendi dulu ya!"


"Ren, ajak Agatha keluar beli makanan ya. Sekalian untuk mereka."


"Siap bos! Ayo nona kecil, kita jajan...!"


"Hore ... beli jajan...!"