First Love To My Husband

First Love To My Husband
Kecelakaan



Mang Didi mengantar berkas untuk mengurus buku nikah Arga.


"Mang, nanti pulangnya naik taksi aja ya. Mobil tinggal di sini!"


"Iya, den. Mang permisi dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati mang."


"Iya, terima kasih den."


Arga dan Hana berkeliling hari ini untuk mengurus semuanya. Dari pagi sampai pukul empat sore berpindah dari kantor desa, puskesmas, dan kantor urusan agama. Sedikit memberi pelicin untuk menuntaskan semuanya. Dan hari itu juga, buku nikah mereka selesai.


****


Seneng banget dong ya, dah punya buku nikah.


****


Entah apa yang ada di pikiran Arga, ia menyetir sambil menggoda Hana yang ada di sampingnya.


"Kita ga usah pulang ke rumah ya honey?! Kita ke hotel aja. Mas ga mau ribet urusan kamar mandi kayak semalem!"


"Tapi kita belum izin mas."


"Kamu telpon aja, bilang kalo buku nikahnya juga udah jadi."


"Iya deh."


Saat Hana sedang menelpon, satu tangan Arga ke paha Hana dan memegang kemudi dengan tangan yang lain. Tapi kemudian Arga terpancing dan tidak fokus menyetir saat tubuh Hana merespon gerakan tangannya.


BRAAK


Mobil menabrak pohon karena Arga menghindari tabrakan dengan mobil lain. Kecelakaan tunggal yang fatal. Hana dan Arga tak sadarkan diri. Mereka ditolong oleh pengguna jalan yang lain. Hana sudah berhasil dikeluarkan saat polisi datang. Ia mengalami benturan di pelipisnya.


Sementara Arga masih di dalam mobil. Kakinya terjepit sehingga sulit dikeluarkan.


Setelah dilarikan ke rumah sakit terdekat, polisi memeriksa panggilan terakhir di ponsel mereka.


"Halo, selamat sore."


"Ya, anda siapa? Kok pake hape anak saya?"


"Maaf bu, anak ibu kecelakaan bersama suaminya. Dan sekarang berada di rumah sakit XX."


"Innalilahi wa innailaihi roji'un... Astaghfirullah Al Adziim....Yaa Allah, mengapa jadi begini...?"


Sontak Hanum lunglai terduduk sambil memegang handphonenya.


"Sabar bu, kami turut berduka cita."


"Bagaimana kondisi mereka, pak?"


"Keduanya belum sadar bu, untuk lebih jelasnya, silahkan ibu lihat ke sini."


"I...iya pak. Terima kasih informasinya pak. Saya akan segera ke sana."


Bagai disambar petir, hati Hanum hancur. Baru saja ia berpikir untuk mengadakan pesta kecil-kecilan atas pernikahan anaknya yang serba dadakan itu. Tapi, Allah berencana lain.


"Yaa Allah..., selamatkan lah anak hamba. Selamatkan lah menantu hamba Yaa Allah..."


Hana menghampiri suami dan ibunya dengan air mata yang tak terbendung.


Hanum bersimpuh memegangi kursi roda suaminya.


"Yaa Allah... Hana...Harusnya tadi nenek ngelarang kamu pergi nduk...."


Nenek juga ikut duduk di lantai menangis tersedu.


"Ayah mau nelpon besan dulu."


"Assalamu'alaikum pak Arman, anak kita kecelakaan pak. Sekarang di rumah sakit XX."


"Apa?! Kok bisa?! Ya udah, kami menuju ke sana!"


Arman panik. Padahal hari ini ia ingin mengenalkan Nina dengan Wawa. Tapi, mungkin memang belum waktunya. Ia harus segera mengurus Arga.


****


Nenek jatuh pingsan setelah melihat keadaan Hana dan Arga. Sementara polisi menyerahkan barang-barang milik korban pada pak Nanang yang terlihat paling tegar.


Tak lama kemudian, Wawa dan Arman tiba di lokasi. Ia mundur selangkah dan hampir jatuh, saat melihat keadaan Arga.


"Yaa Allah..., baru saja aku menemukan anakku yang lain, apakah aku akan kehilangan Arga? Yaa Allah..., selamatkan lah Arga ku...."


"Maaf, harus segera dilakukan tindakan operasi pada pasien atas nama Arga. Kami butuh persetujuan dari pihak keluarga."


"Lakukan yang terbaik dok. Saya ibunya."


"Kalau begitu, silahkan urus administrasinya dulu."


Wawa dan suaminya mengurus semuanya. Tak lama kemudian Hana sadar dan menanyakan keadaan Arga.


"Arga masih dioperasi nak..., kamu yang sabar ya! Kita do' akan aja yang terbaik untuknya."


"Ternyata kita memang tidak pulang ke rumah mas..., tapi ke rumah sakit. Yaa Allah..., selamatkan lah suami hamba... Aamiin."


Air mata menetes menyesali tindakan ***** yang mereka lakukan sebelum kecelakaan terjadi.


***


Tiga hari berlalu, Hana sudah diizinkan pulang. Tapi Arga ternyata mengalami koma pasca operasi. Arman memindahkan anaknya ke rumah sakit tipe A, demi perawatan terbaik.


"Saya mau ikut, pa."


"Kamu masih belum pulih Hana. Nanti kalau kamu sudah benar-benar sehat, baru boleh menyusul ya."


Bujuk Wawa pada menantunya.


"Iya, nak. Sebaiknya kita pulang dulu. Mbak, tolong kasih kabar perkembangan Arga terus ya mbak. Kami permisi dulu."


"Iya, bu Hanum...Do'akan kesembuhan Arga ya bu."


"Pasti, mbak. Saya juga ingin segera menimang cucu. Semoga nak Arga lekas sembuh, dan kembali bugar seperti sebelumnya."


"Aamiin, makasih bu Hanum...."


"Kami permisi dulu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam"