First Love To My Husband

First Love To My Husband
Lamaran Simbolis



"Hana sayang..., nanti kamu pura-pura mau saya lamar di depan nenek ya. Biar nenek ga kepikiran." Bujuk Arga selesai makan.


"Kok gitu?!"


"Ssst, cuma pura-pura! Ntar ngelamar benernya kalo kamu udah siap." Suara Arga agak berbisik di telinga Hana agar nenek tidak dapat mendengarnya. Tapi Hana malah merinding dibuatnya.


"Aku ga ngerti apa tujuanmu sok kenal sok dekat sama aku. Tapi ya.., demi kesehatan nenek, aku ikutin permainanmu!" Sahutnya sambil berdiri dan membawa piring ke wastafel.


"Good girl." Sahut Arga sambil terus mengarahkan pandangan ke Hana.


Drrt, drrt, drrt.


Arga mengangkat ponselnya.


" Assalamu'alaikum ma."


[ Wa'alaikumsalam. Kamu dimana nak? Kata mang Didi kamu belum nyampe ke perkebunan?! Kamu baik-baik aja kan nak? Ngapain juga semalam naik kereta? Kenapa ga diantar supir aja ?]


"Ma..., Arga pengen ngulang kenangan masa kecil dulu... Kita kan dulu sering naik kereta bareng. Lagian Arga sengaja nunda ke perkebunannya. Karena lagi ada urusan penting ma."


[ Urusan penting apa sih nak, sampek ga mau ngasih tau mama?]


"Bukan ga mau ngasih tau, ma... Tapi belum sempet ngasih tau. Arga lagi cari mantu buat mama."Jawabnya sambil tersenyum menatap Hana yang spontan menatapnya juga dengan tatapan yang aneh.


[ Terus si Aca sama Febri mau taruh dimana?]


"Ah... itu mah lewat ma. Yang ini lebih kalem, lebih-lebihlah pokoknya! Nanti Arga kirim photonya ke mama ya. Sekarang Arga lagi sibuk. See you ma. Assalamu'alaikum."


[ Wa'alaikumsalam.]


"Mau bohongi mama kamu juga? Mau sandiwara apa lagi?"


"Siapa yang bohong? Saya emang lagi cari mantu buat mama. Udah kamu ikutin aja permainannya."


"Terserah!"


"Permainan apa toh le..?" Sahut nenek yang tiba-tiba muncul.


"Eh, nenek. Ini loh nek, lagi bujuk cucu nenek biar biar mau diajak nikah." Arga masih saja terlihat santai. Sementara Hana semakin bingung menghadapi cowok yang menurutnya cukup nyeleneh.


"Barusan nenek telpon orang tua Hana, tapi kok mereka ndak ada yang tau ya tentang hubungan kalian? Padahal kalian sudah bicarakan mengenai lamaran dan pernikahan?! Apa ada sesuatu yang dirahasiakan? Apa kamu sudah hamil nduk?"


Jleb. Hati Hana tak karuan mendengar rentetan pertanyaan nenek. " Duh... kok makin runyam gini sih?! Tuan Arga yang terhormat, tuan yang memulai masalah ini. Jadi tolong, selesaikan sendiri. Gue mau tidur. Capek! " Hana berlalu meninggalkan nenek dan pacar gadungan nya di dapur.


"Maaf nek, Hana emang lagi hamil, jadi bawaannya sensitif mulu. Bagusnya, dicepetin aja kali ya? Boleh ya nek..." Lagi-lagi Arga mengarang cerita.


"Ya memang kudu cepet! Sekarang ndak usah nunggu persetujuan Hana. Nenek justru mengharuskan kamu untuk segera menikahi cucu nenek!" Sahut nenek yang tak mau menanggung malu jika perut cucu kesayangannya semakin membesar.


"Siap nek! Nanti saya akan lamar Hana secara simbolis di depan nenek. Nanti lamaran resminya Arga bawa orang tua Arga di depan orang tua Hana. Tapi nenek harus ikut juga ya?! Biar ga ada penolakan dari Hana. Please..."


"Insya Allah nak Arga...Kalau niatnya baik, nenek akan selalu mendukung."


" Makasih nek...Love you sekebon. Arga mandi dulu ya nek. Udah gerah." Arga langsung bergegas setelah mendapat anggukan dari nenek.


Selepas mandi, Arga pamit keluar sebentar pada nenek. Ia sengaja tidak membangunkan Hana yang sedang istirahat. Ia membeli satu cincin yang menurutnya cocok untuk Hana. Setelah itu, ia membeli beberapa gamis muslimah lengkap dengan jilbabnya. Tak lupa ia juga membelikan untuk nenek yang juga gaya pakaiannya Islami menurutnya. Baru terakhir ia berhenti di sebuah restauran, dan memesan beberapa makanan untuk dibawa pulang.


"Pak, makasih loh udah nganterin saya seharian. Ini bonus untuk bapak. Dan ini ada sedikit makanan untuk anak bapak." Arga senang karena driver onlinenya bersikap ramah dan sabar melayaninya sepanjang berbelanja tadi.


"Of course. Saya juga senang dengan pelayanan bapak. Sampai jumpa lagi." Arga segera masuk ke rumah nenek.


"Assalamu'alaikum. Loh nenek kenapa?" Tanyanya saat melihat nenek sedang dikerokin sama Hana.


"Wa'alaikumsalam. Nenek ndak papa kok le... Cuma masuk angin aja. Cah ayu.., kamu masak sana, udah sore. Kasian calon suamimu, pasti laper. Maaf ya, nenek ndak bisa bantuin." Ucap nenek panjang lebar.


"Huh, sejak kapan dia jadi calon suami gue?! Duh...pusing..." Batin Hana.


"Ga usah masak dek. Ini mas dah beli. Sana bawa ke dapur. Yang ini juga buat kamu, semoga kamu suka." Sambil menyerahkan beberapa paper bag pada Hana.


"Apaan sih? Beliin baju banyak banget. Tas gue ga muat tau!" Sebenarnya Hana merasa senang dengan semua itu. Tapi gengsi dong....


"Nanti mas beliin koper baru." Jawab Arga membungkam.


"Nah yang ini buat nenek. Semoga nenek juga suka ya." Katanya sambil memijat bahu nenek.


"Lah, nenek kok dapet juga? Nenek sudah tua le, buat apa dibeliin sebanyak itu? Lah wong nenek juga ndak pernah pergi kemana-mana?! Palingan yang dipake daster." Jawab nenek merasa tak enak atas perlakuan istimewa dari calon cucu mantunya.


"**Abis ini, nenek bakalan sering pigi-pigi nek! Nenek juga harus ke rumah Hana nanti kalau saya dan keluarga mau ke sana."


"Saya takut Hana menolak lagi nek**." Bisik Arga kemudian.


"Kalau itu, Hana ndak boleh nolak! Lah, kalau perutnya makin gede, gimana?" Si nenek langsung semangat dan cemas.


"Emang perut siapa yang gede nek?" Sahut Hana yang menyembul keluar.


"Eh, ini perut nenek besar karena masuk angin."


Kata nenek berusaha mengerti kalau cucunya masih malu jika keadaannya diketahui orang lain.


"Makan dulu bang! Udah saya siapin tuh."


"Mas aja manggilnya ya dek. Mas mau mandi dulu. Nanti kita makan sama-sama."


Nyesss. Hati Hana semakin tak karuan mendengarnya.


"Kok gue seneng banget sih, diginiin? Slow Hana, dia itu cuma pacar gadungan! Ga lebih." Batin Hana.


Selepas Magrib, mereka makan bertiga. Dengan berbagai menu restauran yang Arga beli tadi.


"Kamu beli makanan sebanyak ini, le? Ingat, kamu bentar lagi punya tanggungan. Jangan dibiasakan boros." Ucap nenek menasehati.


"Sesekali nyenengin calon istri nek." Arga tersenyum saat melihat Hana memberi tatapan aneh padanya.


Selesai makan, Hana berdiri hendak membawa piring kotor ke wastafel. Tapi aksinya berhenti saat tangan Arga menariknya.


"Duduk dulu. Ada yang mau mas kasih ke kamu." Arga mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya. Kemudian membukanya dihadapan Hana dan nenek.


"Jadilah istriku. Mas sudah jatuh cinta sejak pertama bertemu." Arga sengaja menunggu beberapa saat sebelum akhirnya memasangkan cincin ke jari manis Hana.


Sementara Hana masih mematung dan belum menguasai keadaan.


" Ini lamaran beneran apa cuma pura-pura di depan nenek aja sih? Duh... Arga, jangan bikin gue ge er dong..." Batinnya.