
Hana sangat kelelahan setelah tiga ronde bermain. Ingin rasanya ia tidur dan beristirahat. Tapi ya, ia harus segera mandi kalau tidak ingin ketahuan mamanya. Karena mamanya biasa bangun pukul empat untuk beraktifitas. Ya, Hanum bahkan berangkat sebelum subuh untuk mencari dagangan langsung dari petani di Simpang Tiga, baru kemudian ia menyewa becak untuk mengantarnya ke pajak pagi. Biasanya sehabis Dzuhur baru ia pulang ke rumah. Hanum memang wanita yang hebat. Meski setiap pagi ia harus pakai baju berlapis untuk menahan dingin, bahkan ia juga harus sholat subuh di luar rumah setiap hari, namun ia tak pernah mengeluh.
Pukul tiga dini hari Hana bergegas mandi. Setelah itu, ia sholat malam yang telah menjadi rutinitasnya.
Hana membangunkan Arga dengan masih menggunakan mukena. "Mas, bangun! Bentar lagi Subuh."
Arga masih sangat mengantuk karena begadang semalaman. Tapi ia terbelalak melihat istri kecilnya sudah menggunakan mukena."Kamu sudah mandi sayang? Jam berapa sekarang?"
"Jam empat mas. Bentar lagi mama berangkat dagang. Mas siap-siap mandi sebelum nenek bangun ya, malu nanti."
"Emang mama mo kemana?"
"Kulak sayur mas. Kalo kesiangan, ga bisa langsung dari petani."
Nyessss. Hati Arga teriris. Mertua seorang Arga harus berjuang sekeras itu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. "Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut!" Pikirnya.
Arga bergegas setelah mendengar suara pintu depan. Itu tandanya mama mertuanya sudah berangkat. "Duh..harusnya ada kamar mandi di kamar Hana! Biar ga kayak maling gini." Arga bertekad akan merenovasi rumah mertuanya ini.
Mereka sholat Subuh berdua. Ini pertama kalinya. Karena tadi malam mereka masih sholat bersama ayah, mama dan nenek di ruang keluarga.
Setelah selesai, Hana mencium tangan suaminya. Arga pun tersenyum dan mencium kening Hana yang sebagian masih tertutup mukena. Tapi kemudian ia menyambar bibir ranum Hana dan melepas mukena istrinya kemudian membopongnya ke atas ranjang.
"Lagi ya...?" Pintanya yang langsung mendaratkan wajahnya ke bukit kembar yang masih tertutup rapi.
"Mas..., nanti mandinya gimana? Nenek pasti udah bangun!"
"Kita sembunyi aja di kamar terus! Lanjut beberapa ronde. Nanti kalo udah mau Dzuhur baru kita mandi lagi. Nunggu nenek lengah." Sahut Arga yang sudah berhasil menyusupkan tangan ke dalam baju istrinya. Hana mulai mendesah merasakan sensasi dari dari tangan Arga yang salah satu sudah berada di dalam cel*n*nya. Memutar dan terus bergerilya. Sementara tangan yang lain terus membuka apapun yang menutupi tubuh Hana.
Hana segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah terekspos sempurna saat Arga berhenti dan membuka pakaiannya sendiri. Dan berikutnya Arga juga masuk ke dalam selimut melancarkan aksinya.
Ya..., udah ketutup selimut aja. Ga bisa ngintip dong ya! Duh... Hana, masih sembilan belas tahun udah ngerasa yang enak-enak. Oops, tapi udah halal ya guys...!Nasib mujur aja nih buat Hana. Mungkin bonus karena dia ga mau pacaran selama ini. Pasti dong ya.., suaminya puas banget bisa jadi yang pertama!
Nenek yang sedikit kepo menguping di depan kamar Hana. "Sudah jam delapan! Kok masih ditutup ya?" Pikirnya.
"Ngapain bu? Biarin aja, mungkin masih capek." Ucap Nanang sedikit pelan. Nenek mengangguk dan berlalu menahan malu, karena aksinya ketahuan sang mantu.
Setelah dua ronde ulangan, Arga dan Hana mulai lapar. "Lapar mas..., gimana keluarnya?" Hana sudah mulai bingung.
"Bentar." Arga mengintip keadaan dengan membuka sedikit pintu.
"Aman!" Kata Arga pelan.
"Mandinya berdua aja biar cepet." Lanjut Arga yang hanya diberi anggukan.
Mereka mengendap bagai maling kesiangan. Ayah masih menjemur diri di halaman. Sementara nenek sedang membersihkan rumput di halaman.
Niatnya mandi berdua biar cepet. Eh... libido Arga malah terpancing lagi saat meraba bagian tubuh Hana yang terbalut sabun semakin lembut terasa. Alhasil, mereka melakukannya lagi di kamar mandi yang sempit itu. Mereka terus membuka kran air, agar suara mereka tak jelas dari luar.
Selesai mandi berdua, mereka berniat ingin segera makan karena sudah sangat lapar. Tapi, nenek dan ayah memergoki mereka keluar dari kamar mandi berdua. Malingnya tertangkap basah nih.
Saking malunya, Hana langsung menuju ke kamar sambil tertunduk. Laparnya seolah hilang seketika. Sementara Arga masih berani menyapa nenek dan ayah mertuanya dengan senyumnya.
Setelah mengganti pakaian, Arga kembali ke dapur dan mengambil sepiring nasi lalu membawanya ke kamar. Dia tidak tega melihat Hana menahan lapar.
"Hana tidak ikut makan, Ga?" Tanya nenek.
"Ini, kongsi aja nek." Jawaban Arga justru membuat nenek merasa malu.
Dan mereka makan sepiring berdua. Ya.., walaupun ga kenyang tapi cukuplah untuk mengganjal.
Sebenarnya Arga ingin mengajak Hana jalan, tapi istri kecilnya terlihat susah saat berjalan karena menahan perih di area intinya.
"Maafin mas ya sayang... mas ga bisa nahan diri...Tapi mas akan melayani mu. Apapun yang kamu butuhkan, akan mas ambilkan nanti." Ucap Arga dalam hati.