
Aca pulang diantar supir atas permintaan tuan rumah. Hana tidak tega jika sahabatnya itu harus nyetir sendiri dengan keadaan yang kurang sehat.
"Mbak harus segera memberitahukan kehamilan mbak pada mas Reno! Semoga rumah tangga kalian bertambah harmonis dengan kehadiran debay nanti."
"Makasih Han."
Aca memeluk Hana.
"Pecat art itu mbak, cari yang tua aja biar aman."
Hana berbisik agar Arga tak mendengarnya. Aca mengangguk paham.
Diperjalanan, Aca hanya tertidur sepanjang jalan. Sekitar pukul sembilan malam ia sampai di rumah dinasnya.
Reno terkejut melihat lelaki yang membuka pintu mobil Aca. Awalnya ia ingin marah karena Aca pergi tanpa kabar dan diantar lelaki saat pulang. Tetapi seragam supir yang dikenakan lelaki itu, membuat Reno mundur.
"Tidak mungkin Aca berkencan dengan supir! Tapi..., bisa jadi! Aku juga melakukannya dengan art."
Keraguan muncul dalam benak Reno.
Reno mendekati mobil Aca, sementara yang di dalam masih tertidur dan sang supir tidak berani membangunkan.
"Maaf tuan, non Aca sedang tidur. Saya tidak berani membangunkannya."
"Oh... biar saya saja."
Reno lega, karena ternyata hanya supir yang bahkan tidak berani untuk membangunkannya.
"Tuan, boleh saya istirahat di sini malam ini? Akan sulit mencari angkutan umum ke kota X malam begini."
"Kamu supirnya Arga?"
"Benar tuan. Bu Hana yang menyuruh saya, karena kondisi non Aca sedang tidak sehat."
"Oh..., silahkan. Ada kamar tamu di dalam."
Reno tidak bisa menolak, karena bagaimanapun rumah yang ia tempati adalah milik Arga.
Reno menggendong Aca masuk dan disaksikan art yang melihatnya dengan tatapan cemburu. Reno menghampirinya, dengan masih menggendong Aca.
"Siapkan kamar tamu. Supir pak Arga mau menginap!"
"Baik a'."
Aca mendengar suara art nya walau dengan mata terpejam. Ia langsung merangkul kan tangannya ke leher suaminya sehingga terlihat semakin mesra. Kemudian Aca mendengar suara langkah seperti dihentak-hentakkan pergi menjauh. Aca tersenyum dalam pelukan suaminya.
Reno segera mengantar Aca ke kamar. Melepas sepatu dan menyelimutinya. Lalu bergegas keluar hendak merayu kekasih gelapnya.
Reno mencari ke segala arah. Tapi ia tidak menemukan gerangan yang dicari. Ia berhenti di depan kamar tamu yang sudah terkunci.
"Apa mungkin..., dia bersama supir itu?"
Batin Reno tak percaya, namun ia terus mendengarkan percakapan itu.
"Istri kan di rumah mas! Di sini beda. Lagian istri kamu ga bakalan tau kok."
"Sekali lagi maaf, saya sangat lelah seharian nyetir. Saya mau istirahat!"
"Biar saya pijitin mas..., nanti juga lelahnya hilang."
Reno geram mendengarnya. Ia berteriak untuk segera membuka pintu, atau akan didobrak olehnya.
Dan semua itu disaksikan Aca dari ujung tangga yang mengikutinya karena penasaran dengan kelakuan suaminya.
Pintu pun terbuka, dengan gelagapan art itu menjawab, "Maaf a', dia memaksa saya."
Dia mencoba membalikkan fakta.
"Ma... maaf tuan. Tadi saya lupa mengunci pintu. Dan dia langsung masuk dan mencoba merayu saya."
Supir itu membela diri.
"Begini rupanya sifat aslimu!"
Reno geram dan menarik tangan gundik nya.
"Tapi a'.... dia yang..."
"Diam! Aku sudah mendengar percakapan kalian!"
Suara Reno menggelegar membuat semua ciut.
"Kamu yang mulai a', caramu menggendong Aca membuatku cemburu!"
Prok prok prok.
Aca mendekat sambil bertepuk tangan.
"Hebat... hebat... pertunjukan apa ini?"
Reno segera melepaskan cengkraman tangannya. Dan art itu spontan menutup mulutnya.
"Neng..., ini ga seperti neng lihat. Aku cuma memergoki dia sedang merayu supirnya Arga."
"Maaf non, sebaiknya saya tidur di mobil saja."
Sang supir merasa tak enak hati.
"Ga pak. Bapak ga salah. Kamilah yang seharusnya minta maaf atas ketidaknyamanan bapak. Silahkan bapak istirahat, kami akan menyelesaikannya di ruang keluarga. Jangan lupa kunci pintu ya pak!"
"Baik non, terima kasih sudah mempercayai saya."
Ia langsung menghilang di balik pintu. Tapi boro-boro bisa tidur. Ia malah merasa sungkan tapi tak berani juga untuk keluar kamar.
Mereka bertiga menuju ruang keluarga. Reno berjalan di belakang Aca, berusaha menggandeng tangan istrinya, namun beberapa kali ditepis. Sementara art yang berjalan di belakangnya melihat dengan hati panas namun tak mampu berbuat apa-apa. Itu karena ia tahu, bahwa Reno bukanlah apa-apa tanpa Aca. Karena Aca yang bekerja.