
Pulang dengan perasaan entah bagaimana. Sulit dijelaskan. Arga tidak jadi menemui pimpinan pondok pesantren, tempat istrinya tinggal. Ia hanya meminta nomor teleponnya saja pada satpam penjaga pintu masuk pondok.
Ia tidak langsung pulang ke rumah, namun menemui Disti. Berharap Disti dapat menghapus dukanya.
"Maaf Dis, Hana tidak mau pulang. Sekarang dia tinggal di pesantren. Kamu tidak bisa menemuinya."
"Apa di pesantren tidak boleh berkunjung?"
"Bukan begitu! Sebaiknya kalian tidak usah bertemu. Palingan nanti Hana mengajakmu masuk ke asrama putri dan meninggalkanku di gazebo sendirian. Aku tidak mau!"
"Jadi..., mbak Hana sudah melakukan itu pada tuan?"
"Ya. Dia membawa Agatha masuk dan meninggalkanku sendiri. Bahkan kini Agatha minta pindah ke pesantren juga dan ga mau pulang."
"Hihihi... mbak Hana memang wanita yang luar biasa. Aku semakin penasaran dan ingin segera bertemu dengannya."
"Apa kau juga bermaksud melakukan hal yang sama padaku?"
"Em... bisa jadi. Kadang lelaki memang harus diberi pelajaran."
"Maksudnya?"
"Ya... kalau wanita ga boleh punya lebih dari satu suami sah, tentunya wanita harus punya trik dong buat balas suami yang beristri dua!"
"Kamu mau selingkuh Dis?!"
"No way. Itu dosa! Tapi... boleh juga usulnya!"
Sambil cekikikan Disti berlalu meninggalkan Arga sendiri.
"Awas aja kalo berani kamu ya!"
Teriak Arga geram.
Selang beberapa menit, Disti membawa secangkir kopi untuk suaminya.
"Ini kopinya tuan. Saya sedang ada janji dengan teman. Saya tinggal dulu ya."
"Eeit..."
Arga menarik tangan Disti sambil menajamkan tatapan matanya.
"Kau akan meninggalkan suamimu sendiri?! Aku sudah menempuh jarak yang cukup jauh dari pesantren dan langsung kemari. Apa kau tidak ingin menghilangkan lelahku?"
"Tuan juga sudah menempuh jarak yang cukup jauh dari rumah tuan ke pesantren. Dan mbak Hana juga memilih masuk ke asrama dari pada menemui tuan bukan?!"
"Aku dan mbak Hana sama-sama istri tuan. Jadi wajar kalau aku melakukan hal yang sama persis dengannya."
"Tapi Hana melakukan itu sebagai hukuman karena aku tidak memenuhi kewajiban ku padanya. Dan aku tak pernah melakukan itu padamu bukan?"
"Oh ya?! Kelalaian apa yang tuan lakukan padanya?"
"Aku lupa mentransfer uang selama dua bulan ini, aku mengacuhkannya."
Arga tertunduk membuat Disti tak tega melihatnya. Namun Disti sangat terkejut dengan pengakuan suaminya yang telah bertindak dzolim pada istri pertamanya.
"Luar biasa kesalahan tuan rupanya. Tapi aku juga punya alasan untuk mengabaikan mu tuan. Bukankah menurut kesepakatan kita hanya bertemu tiga hari dalam sebulan?! Aku tidak lagi mau mengambil hak mbak Hana atas dirimu. Mulai sekarang tuan hanya boleh menemui aku setiap tanggal dua puluh sampai dua puluh tiga. Mungkin kesibukan tuan yang selalu berusaha menemui ku, membuat tuan lupa akan kewajiban tuan pada mbak Hana. Terlebih saat itu mbak Hana sedang sakit. Membayangkannya saja aku tak sanggup. Aku permisi tuan. Pulanglah setelah habis kopi mu."
Disti melenggang sambil menitikkan air mata. Betapa dia telah menghancurkan seorang Hana tanpa ia sengaja. Jujur, sebenarnya inilah kesempatan emas untuk menarik Arga dalam pelukannya. Namun ia kerap kali selalu membayangkan seandainya dirinya menjadi Hana. Ia pun sering merasa kesepian tanpa suami di sisinya, tapi kebesaran hati Hana yang bisa menerima posisi Disti sebagai istri kedua dari suaminya membuat Disti kagum bahkan sebelum bertemu dengannya. Terlebih Hana sekarang justru mengalah meninggalkan rumah tanpa pertengkaran, hanya untuk kebahagiaan suami dan madunya.
Kejam sekali rasanya jika Disti memanfaatkan kesempatan ini hanya untuk keuntungannya semata. Biarlah Arga juga ikut merasa perih. Sementara Disti dan Hana sudah merasa sangat perih dengan berbagi suami. Mungkin dengan begini, Arga akan melewati malam panjang tanpa belaian. Arga juga akan tahu bagaimana rasanya merindu.
"Mbak Hana, aku tidak akan membiarkanmu menanggung ini sendiri. Aku dan Arga juga harus melewati malam panjang yang sunyi."
****
"Punya dua istri kok masih kesepian sih bos?!"
"Harusnya tuh mas Arga bisa gandeng sana gandeng sini. Ga kayak orang jomblo gini!"
"Entahlah Ren! Aku sendiri pusing dibuatnya. Mereka wanita-wanita yang pintar."
"Jangan lupa lagi transfer uang ke mbak Hana mas! Bisa kacau nanti!"
"Iya. Makasih udah ngingetin Ren. Untuk sementara, kamu handle semuanya. Aku mau ke rumah mama. Aku ingin menenangkan diri di sana."
"Tante Wawa udah tau mas?!"
"Belum! Tapi sepertinya papa sudah mulai curiga. Ya, mungkin ini saatnya bercerita. Setidaknya jika Disti hamil nanti, mereka tidak akan terkejut."
"Ceritakan juga keadaan mbak Hana mas, ga adil kalau cuma cerita tentang Disti."
"Pasti Ren! Itu sudah sepaket. Mama pasti menanyakan responnya Hana gimana? Secara, mama itu lebih sayang sama Hana ketimbang gue anak sendiri."
"Itu karena mbak Hana memang pantas disayang mas. Kalau boleh jujur..., bahkan semua karyawan mas juga pasti lebih sayang ke mbak Hana dari pada sama mas."
"Termasuk kamu Ren?!"
"Hehe... m... iya. Aku pasti membela mbak Hana kalau tidak tau kronologis pernikahan kedua mas. Sayangnya di sini aku jadi saksi kunci."
Rendi menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Apa istrimu juga begitu?!"
"Hm... Rara itu bahkan lebih sayang sama mbak Hana ketimbang sama gue. Apalagi sama mas Arga, jauhlah. Dia pasti jauh lebih membela mbak Hana."
"Berarti Rara sering calling sama Hana dong?!"
"Setiap malam mas...! Kadang aku harus sabar.... kalo mau minta jatah. Ga habis-habis obrolan mereka."
"Pantes kalo gue telpon selalu sedang sibuk. Ternyata istrimu! Aku pikir ada ustadz ganteng yang mencoba menggodanya."
"Mbak Hana bukan tipe wanita seperti itu mas. Kalau pun banyak lelaki yang naksir, sikap sopannya membuat lelaki berpikir dua kali untuk sekedar menggodanya. Paling langsung lamar ke ayahnya."
"Sembarangan kamu kalo ngomong! Ayah Nanang juga ga mungkin nerima lamaran orang! Gue masih suaminya Ren!"
"Suami yang ga ngasih nafkah lahir dan batin! Inget loh mas, mbak Hana bisa nuntut cerai kalau sampai genap tiga bulan!"
"Aduh Rendi..., jangan bikin gue shock dong!"
"Lha, emang bener kayak gitu kan?"
"Iya bener! Bentar gue transfer Hana dulu!"
Arga fokus pada ponselnya sebentar. Seperti biasa hape Hana tidak aktif di jam makan siang.
"Hapenya ga aktif Ren."
"Paling lagi nyuapin Agatha. Mas udah ngurus surat pindah Agatha belum?"
"Astaghfirullah lazim. Ayok, temenin gue ke sekolah Agatha!"
"Ternyata ngurus perusahaan aja yang jago. Ngurus anak bini keteteran!"
"Gue mana biasa ngurus beginian. Biasanya Hana yang handle."
"Dan mulai sekarang big bos harus bisa semua sendiri! Karena kedua istrinya lagi kompak jadi TKW."
Tak peduli dengan ocehan Rendi, Arga langsung menuju mobilnya dan diikuti Rendi dari belakang.