
Sebenarnya Hana ingin lebih lama tinggal di rumah nenek. Tapi nenek ingin segera bertemu dengan mamanya. Dan tentu saja atas permintaan Arga, mereka kembali menaiki kereta menuju kampung halaman.
"Mas, kenapa ikut kami? Apa ga pengen pulang ke rumah sendiri?" Tinggal serumah dalam dua minggu terakhir ini, membuat Hana terbiasa dengan sebutan 'mas' sesuai keinginan Arga.
"Mas ingin bertemu orang tuamu terlebih dahulu, sebelum mas mempertemukan orang tua kita nanti. Nenek duduk sama Hana ya. Saya di sebelah sini saja." Arga memilih bangku di seberang sesuai nomor tiketnya. Dan nenek menuju bangku di dekat jendela yang katanya bisa menikmati pemandangan di luar. Itu berarti, Arga masih leluasa memperhatikan Hana yang selalu mengundang perhatiannya.
Hana yang masih menganggap lamaran Arga sebagai sandiwara semata, tidak terlalu ambil pusing dengan perkataan Arga.
"Sandiwara apa lagi...ini?! Ikutin ajalah permainannya sampai mana." Gumam Hana mencoba no respon. Walaupun sebenarnya hatinya selalu berbunga-bunga setiap kali Arga berkata tentang masa depan.
Sementara nenek juga sering merasa bingung dengan hubungan dua sejoli ini. Ia bahkan tidak berani memberitahukan pasal kehamilan Hana pada anak kesayangannya sesuai permintaan Arga. Ya, selama Arga masih memegang kata-katanya, nenek akan terus berpikiran positif padanya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Eh..., bunda. Loh, yang ini siapa? Ganteng sekali." Tanya Hanum yang tak menyangka kalau putrinya pulang membawa nenek dan orang asing bersamanya.
"Saya Arga, tante."
"Oh..., nak Arga. Em-"
"Sudah, kita ngobrol di dalem aja." Sahut nenek memotong dan langsung nyelonong masuk.
"Nduk..., kamu tunjukin kamar tamunya ke Arga. Nanti selesai mandi, kita sarapan bareng." Hana mengangguk dan mengajak Arga.
"Kamu masaknya cukup ndak, nak? Kalo ndak cukup kita masak lagi. Biar bunda bantuin!" Seru nenek sambil menatap penuh rindu pada anak semata wayangnya.
"Bunda...Hanum nanti bikin nasgor aja yang cepet. Bunda langsung ke kamar Hana aja. Istirahat, pasti capek." Sahut Hanum lembut. Diiringi anggukan lembut dari wanita yang melahirkannya empat puluh lima tahun yang lalu. Ia benar-benar tak menyangka bisa bertemu dengan orang yang selalu ada dalam do'anya. Tapi bundanya tidak mau meninggalkan rumah peninggalan sang suami. Sedang Hanum memiliki tanggung jawab terhadap keluarga kecilnya.
Hana mencium wangi masakan mama. Ingin rasanya segera turun ke dapur. Tapi ia masih setia menunggu nenek yang masih di kamar mandi.
Sementara Arga masih berada di kamar tamu. Ia enggan keluar sebelum melihat Hana dan nenek tersayang."Yaa Allah. Bantulah hamba untuk mempersunting Hana. Hamba sangat mendambanya. Tetapi jika cinta kilat ini tidaklah benar di sisi-Mu. Maka, jauhkanlah kami dengan cara-Mu. Aamiin." Sebenarnya Arga takut, caranya yang aneh untuk melamar Hana, justru akan membuat Hana semakin benci dan menjauhinya.
Arga melihat Hana dan nenek berjalan beriringan. " Ayo nak Arga! Kita sarapan dulu." Ajak nenek.
"Bismillah, insya Allah bisa!" Gumamnya menyemangati diri sendiri.
Mereka menyantap sarapan ala chef mama Hanum. Setelah selesai, barulah Hanum kembali bertanya perihal pemuda yang kini ada di hadapannya. Arga sebenarnya ingin mengutarakan keinginannya sekarang juga untuk memperistri Hana. Tapi ia tidak mendapati sosok ayah yang katanya sedang berbaring di kamar karena sakit.
Akhirnya nenek yang membuka suara."Nak Arga ini calon mantu mu, nak."
"Loh, kok Hana ga pernah cerita sebelumnya. Apa bunda sengaja jodohin Hana sama tetangga bunda, karena mas Nanang sakit?"
"Bukan dijodohin nak..., tapi mereka emang kayaknya berjodoh."
"Em..., maaf tante. Saya ga tau kalo om Nanang sakit. Tapi saya beneran cinta sama Hana sejak pandangan pertama. Saya ingin segera melamarnya. Kalau Tante sama om setuju, saya akan segera membawa orang tua saya untuk bertemu keluarga di sini. Tapi, kalau boleh tau, om Nanang sakit apa ya?" Arga mencoba memberanikan diri.
"Kalau om sama tante sih nyerahin ke Hana sendiri mengenai jodohnya. Cuma setau tante, Hana masih pengen kuliah. Tapi karena ayahnya sakit..., jadi dia pengen kerja dulu katanya. Taun depan baru lanjut."
"Hana bisa kuliah setelah nikah nanti. Saya yang akan biayain. Dan insya Allah saya juga akan biayain perobatan om Nanang. Itupun kalau Hananya mau."
"Duh... kok kesannya aku kayak jual diri ya!? Aku memang butuh duit...! Tapi sebenarnya ga juga dikasih iming-iming juga gue mau jadi istrinya Arga."
"Hana harus mau jadi istri Arga! Karena perut-" Ucapan nenek tiba-tiba terhenti sambil memegangi mulutnya sendiri.
"Bunda. Bunda ga boleh memaksa Hana seperti itu! Biar bagaimana pun dia masih tanggungan saya dan mas Nanang." Ucap Hanum merasa tak enak hati.
"Hana sayang...Belum waktunya bagimu memikul beban keluarga. Kamu tetap gadis kecil mama. Kita sama-sama berdo'a ya, supaya ayah lekas sembuh."
Hana hanya mematung. Bola matanya memperhatikan setiap orang yang berbicara bergantian. Dia sangat mengerti, kalau mereka semua terlalu sayang padanya. Hanya Arga yang ia ragukan. Kalaulah hanya sandiwara di depan nenek, kenapa harus sejauh ini? "Arga, apa sebenarnya tujuanmu padaku?" Batin Hana.
"Maaf, tadi pertanyaan saya belum dijawab. Om Nanang sakit apa ya?" Pertanyaan Arga membuyarkan lamunan Hana.
"Ayah Hana jatuh saat mengerjakan proyek bangunan dari lantai lima." Mata Hanum tampak berkaca saat berkata. Ia mengingat kejadian enam bulan yang lalu, saat peristiwa naas itu terjadi. Kini hanya dirinya sendiri yang menopang keluarga kecilnya dengan berjualan sayur di pajak pagi. Dan hari ini pun ia harus libur jualan karena kedatangan ibu tersayang. "Biarlah hari esok Allah yang mengatur." Pikirnya setiap kali bebannya memuncak. Namun demikian ia tidak pernah membiarkan Hana tau persoalannya. Ia berusaha menutup rapat dari putri kesayangannya.
Tapi Hana bukanlah orang yang cuek dengan keadaan. Sepulang sekolah ia mengajar private anak-anak SD. Dan ia gunakan uang itu untuk membayar SPP. Saat ibunya memberinya uang SPP, ia pun menolak dengan alasan sekarang sekolah gratis seratus persen. Tanpa memberitahukan keadaan sebenarnya pada ibunya yang sudah disibukkan dengan berbagai urusan.