First Love To My Husband

First Love To My Husband
Perang Dingin



Membeli rumah baru, adalah hal pertama yang dilakukan Arga, setelah menikahi Disti. Ia tidak tega membiarkan istri dan mertua barunya tinggal di gubuk reyot dengan membayar sewa setiap bulannya. Dengan begitu, Arga sedikit sibuk dengan proses pindahan itu. Ia sengaja, karena ingin menghindari Disti.


"Aku akan menginap di sini, sampai tiga hari."


"Setelah itu, aku ingin pulang. Dan memberi tahukan berita ini secara langsung pada istriku. Aku tau, saat ini dia sedang terpukul. Aku tidak ingin membuat dia terus larut dalam kesedihan."


"Baik tuan, saya mengerti."


Disti hanya bisa pasrah dengan keadaan. Ia terus menundukkan kepala saat berbicara dengan suaminya.


"Kamu tidurlah di ranjang, biar aku yang di sofa. Aku tidak ingin menyentuhmu, sebelum istriku benar-benar ridho. Cukup kesalahan kemarin saja."


Arga masih mencoba untuk setia, walau sebenarnya sudah sangat terlambat. Tanpa ia sadari, bahwa perkataannya telah melukai istri yang lain. Disti hanya diam tak menjawab. Ia segera berbalik menuju tempat tidurnya dengan perih di hatinya.


Tiga hari berlalu. Ini bukan pertama kalinya Arga pergi meninggalkan Hana untuk perjalanan bisnisnya. Tapi ini pertama kalinya ia pergi tanpa kontak sama sekali. Hana benar-benar telah kalah langkah dengan pelakor cilik itu. Setidaknya itulah yang ada di pikiran Hana. Ingin berjuang, tapi memperjuangkan siapa? Bahkan menelpon pun tak bisa. Sepertinya setelah seharian menonaktifkan ponselnya, Arga dan Rendi memblokir nomor Hana.


Rara yang sudah berhasil menghubungi suaminya juga bungkam karena mendapat keterangan dari suaminya. Ia juga tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada gadis kecil yang kini mendapat julukan pelakor oleh sahabatnya.


Hana sedang sibuk menyuapi Agatha yang biasanya bisa makan sendiri. Hana ingin selalu dekat dengan anaknya, hanya itu yang bisa menghibur hatinya.


"Hore... papa pulang...!"


Agatha menghambur ke pelukan ayahnya. Rara segera pamit untuk melihat laundry di belakang rumah, mencoba memberi ruang pada pasangan itu.


"Masih ingat pulang rupanya!"


Ketus Hana tanpa menoleh. Ia malah bergegas menyimpan piring bekas makan Agatha. Rindu kian menyiksanya, namun ada perih yang tertoreh.


Arga tak mau diacuhkan oleh istrinya. Ia mengikuti Hana sambil membopong Agatha


"Mas akan selalu Inget honey..."


Cup, ia berhasil mengecup pipi Hana walau setelahnya Hana mengelap pipi dengan lengan bajunya sambil menatap tajam ke arah suaminya.


"Idih... mama ga seru ah... Coba Gatha yang dicium, pasti Gatha balas cium papa..."


"Iya... muach. Gatha juga dapet!"


Goda ayahnya. Gatha langsung menghujani wajah ayahnya dengan ciuman. Dari pipi, kening, hidung, sampai mata. Tapi Gatha tidak boleh mencium bibir papanya. Itu larangan Hana sejak kecil.


Pasangan ini terlihat kaku. Ingin rasanya Hana marah sejadi-jadinya, tapi takut putrinya dengar. Hana memilih diam dan terus menghindari suaminya.


Sebaliknya, Arga selalu berusaha mendekat tentu saja dengan tameng anaknya. Ia sangat merindukan istrinya, namun belum juga terlalu berani untuk menggodanya.


[ Mas, bagaimana keadaan mbak Hana? Apa baik-baik saja?]


Pesan dari Rendi, ia belum boleh pulang ke rumah sebelum kaki palsu untuk ayah Disti terpasang. Arga memang belum menaruh hati pada Disti, namun ia mencoba memberikan yang terbaik untuk orang-orang terdekatnya. Dia tidak mau menghancurkan harapan Disti dan ayahnya.


[ Sabar mas. Akan ada pelangi setelah hujan.]


[ Asal hujannya ga campur petir aja Ren. Gimana mertuaku, sudah dipasang kaki palsu?]


[ Baru selesai di tempah. Barang baru akan dikirim. Apa saya boleh pulang dulu mas? Kangen sama bini?]


[ No way! Pasang dulu kakinya.]


[ Haduh... ntar kalo kebelet, terus saya silap sama Disti gimana mas?]


[ Awas kalo berani!]


[ Hehehe... ampun mas.]


"Udah kangen sama bini baru...?"


Suara Hana mengejutkan Arga. Rupanya setelah menemani Agatha tidur, ia kembali ke kamar ingin menghakimi suaminya yang sejak tadi ditundanya.


"Honey..., mas kangennya sama kamu....! Nih, Rendi!"


Arga menunjukkan hape pada istrinya. Hana merasa malu karena telah salah menebak. Tapi egonya meninggi karena sedang tidak mood pada suaminya.


"Aku mau kamu pilih satu diantara kami."


"Aku pilih kamu honey... Aku bahkan berjanji tidak akan menyentuhnya sebelum kamu ridho."


"Omong kosong! Lalu untuk apa kau menikahinya?"


"Untuk menyelamatkan statusnya. Aku sudah melakukan kesalahan. Meski tak sepenuhnya salahku, tapi aku tetap harus bertanggung jawab."


Hana membalikkan tubuhnya, berjalan ke balkon dan membelakangi suaminya. Diamnya Hana membuat Arga berani mendekat. Ia tahu bahwa istrinya sangat peka dengan penderitaan orang lain.


"Aku bahkan tidak akan menemuinya, jika kamu tidak mengizinkan honey. Aku akan menceraikannya setelah tiga bulan, jika dia tidak hamil. Dan jika hamil..., aku akan menunggu sampai anak itu lahir."


Arga mulai melingkarkan tangannya ke pinggang Hana, dan meletakkan dagunya ke bahu Hana.


"Maafkan aku... "


"Aku tak pernah berniat sedikitpun untuk menduakan mu..."


"I love you honey..."


Arga terus merayu istrinya, karena rindunya sudah tak terbendung lagi. Dan Hana pun mengerti kemauan suaminya. Meski belum bisa memaafkannya, namun ia tidak mau menambah dosa dengan menolak suaminya.