First Love To My Husband

First Love To My Husband
Nanang Marah



Suasana terlihat kaku sejenak. Tak lama kemudian Arga pamit hendak mengangkat telpon. Hanum melirik suaminya untuk membuntuti dan menguping pembicaraan menantunya. Sebenarnya Nanang enggan melangkah, namun nalurinya sebagai seorang ayah ingin berbuat lebih untuk anaknya. Ia pun pelan melangkah, duduk di ruang tamu tepat di belakang Arga berdiri.


"Maaf Dis.., mas ga bisa datang hari ini. Hana lagi sakit. Nanti mas ganti lain waktu, ya."


"Iya, mas tau. Kamu hanya mendapat sepersepuluh dari waktu mas. Tapi kali ini mas beneran ga bisa. Salam buat bapak ya."


"Iya. Mas tau. Kamu yang sabar ya sayang..."


Nanang batuk mendengar ucapan menantunya. Hal itu mengejutkan Arga dan segera membalikkan badan setelah menutup sambungan teleponnya.


"Ayah?!"


"Jadi dia kolega kecilmu?!"


"Maaf ayah..."


"Pantas saja Hana kehilangan semangatnya!"


Arga hanya tertunduk tak berdaya.


"Sudah sejauh mana hubungan kalian?!"


"Di... dia... istri siri saya."


"Apa?! Sejak kapan?"


Nanang langsung berdiri seolah tak percaya bahwa anak kesayangannya telah menelan madu pahit kehidupan. Padahal ia selalu bersikap manis pada istrinya, berharap kelak anaknya juga mendapat perlakuan manis dari pasangannya. Namun apa yang ia saksikan sekarang telah meluruhkan impiannya.


"Sudah tiga bulan yah."


Arga masih tertunduk.


"Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Seperti halnya ayahmu. Kamu juga tak cukup bersanding hanya dengan satu wanita saja. Anakku memang tidak sempurna, pendidikannya tidak sepadan dengan mu. Kami juga bukan dari keluarga kaya. Tapi anakku adalah wanita sholeha. Permata yang sulit kau temukan."


"Assalamu'alaikum."


Suara dokter yang datang membuat keduanya hening seketika.


"Wa'alaikumsalam. Masuk dok. Hana ada di kamar."


"Saya akan memeriksanya sebentar."


Dokter pun berlalu menuju kamar Hana.


"Ga, ayah akan membawa pulang Hana. Ayah tidak ingin Hana tersiksa di sini."


Arga yang hendak menemani dokter langsung menghentikan langkahnya dan menghadap mertuanya.


"Jangan yah! Aku masih sangat mencintai Hana. Agatha juga sangat membutuhkannya. Kumohon yah! Kami bisa menyelesaikan ini baik-baik."


Penuh harap Arga berlutut di hadapan mertuanya.


"Tentu saja semua akan baik-baik saja. Karena anakku tak akan mau memberatkan orang lain, termasuk dirimu. Bahkan saat hatinya terluka ia hanya memilih diam dan tetap berusaha mendukungmu untuk menemui gadis itu. Dia anakku! Aku paham betul dengan sikapnya. Ini tanggal dua puluh! Temuilah gadis mu! Biar aku yang menjaga anakku."


Nanang berjalan meninggalkan Arga sendiri di ruang tengah. Menuju kamar putrinya untuk melihat pilu terdalam dalam diri anaknya.


"Gatha sayang..., mama biar dirawat eyang putri dulu ya..., nanti kalo Gatha libur jenguk mama di rumah eyang..."


"Tapi eyang..., kata dokter mama mau punya dedek lagi."


Sebenarnya Nanang memang sudah memprediksi hal itu. Tapi dengan pengakuan Arga barusan, membuat kepedihannya semakin memuncak. Ia segera menyeka sudut matanya yang hampir menetes.


"Ssst..., jangan bilang sama papa dulu ya! Biar nanti jadi kejutan. Dedek bayinya kita sembunyikan dulu di rumah eyang, biar papa ga sadar. Okey sayang?"


"Okey eyang."


"Dok, tolong rahasiakan kehamilan Hana dari suaminya. Biar nanti kami yang menyampaikan. Kami ingin memberi surprise."


"Oh... baiklah. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Kenapa ga mau cerita sama kami nduk...., masalah seberat ini kenapa disimpan sendiri...?"


Air mata Nanang sudah tak dapat dibendung. Ia mengusap lembut rambut putrinya dan menciumnya.


Hanum sudah bisa merasakan kepedihan anak dan suaminya kemudian ikut menangis. Gadis kecil di sebelah mereka yang tadinya tersenyum riang karena akan punya adik, kini ikut larut dalam tangisan. Mungkin terbawa suasana haru di kamar itu.


Tanpa mereka sadari, Arga pun ikut menangis menyesali kebodohannya. Nasi sudah menjadi bubur. Bubur inilah yang harus ditelan, meski tidak semua orang menyukainya.


Tidak bisa dipungkiri, kalau kini Arga juga mulai menyukai Disti. Gadis yang ia nikahi karena suatu kecelakaan di kamar hotel. Walau tidak begitu taat menjalankan perintah agama, namun Disti selalu menuruti permintaan Arga dengan kondisi apapun. Bahkan kini Arga sering membayangkan malamnya bersama Disti saat berada di ranjang Hana yang semakin dingin dengan kebisuannya.


"Ga, kami berangkat sore ini."


"Jangan yah! Kumohon..."


"Sudahlah, kamu bisa mengajak Agatha main ke sana kalau sedang libur. Kita harus segera memulihkan Hana. Kita harus memendam ego kita! Kesehatan Hana jauh lebih penting!"


"Baiklah yah. Biar nanti aku antar."


"Sampai stasiun saja! Ayah lebih suka naik kereta api."


Arga mengangguk mengiyakan permintaan mertuanya. Ia juga sudah tidak sabar untuk menemui Disti.


Sesampainya di stasiun, memeluk istrinya yang terlihat rapuh. Arga pamit dan melambaikan tangan sambil menggendong Agatha.


"Pa, kata eyang mama akan cepat sembuh kalo diobati sama eyang. Gatha pengen mama cepet sembuh pa!"


"Iya, papa juga sayang. Sekarang, kita temui bunda yok!"


"Bunda siapa pa?"


"Bunda Disti. Jadi, Gatha punya mama dan bunda. Sama seperti papa. Papa juga punya nenek Wawa dan nenek Nina. Kamu mau ga, papa kenalin?"


"Mau pa. Tapi pulangnya jangan malam-malam ya pa. Soalnya besok Gatha sekolah. Takut ngantuk."


"Rumah bunda jauh Gatha, kita harus menginap di sana."


"Nanti papa telpon gurumu buat izin ya."


"Kalo Gatha boleh izin, mending tadi Gatha ikut ke rumah eyang. Kata mama, Gatha harus rajin sekolah."


"Iya, tapi Gatha kan udah nurutin mama. Sekarang giliran Gatha nurut sama papa ya. Papa pengen kenalin Gatha sama bunda. Bunda itu baik loh! Gatha pasti suka main sama bunda."


Arga menyetir sambil sesekali melirik ke spion melihat bangku belakang tempat Gatha duduk. Ternyata yang diajak bicara sudah tertidur di sana.


Sungguh ia tahu betapa salah tindakannya, namun nalurinya untuk menemui Disti mengalahkan logikanya. Apalagi hasratnya sudah lama tak tersalurkan walau seranjang dengan Hana.


Diamnya sikap Hana ternyata membuat masalah baru. Arga jadi sering merasa rindu dengan Disti. Bukan hanya itu, mungkin karena Disti masih muda, dan lebih energik. Mungkin juga karena pertemuannya hanya tiga hari dalam sebulan. Apapun itu, daun muda memang lebih menggoda.


* So, kita harus tetap awet muda ya... Karena cantik itu adalah awet muda. Pikiran jangan dibikin stres! Itu tuh yang paling cepet bikin kita terlihat tua. Be happy aja ya readers....*


Pernikahan keduanya masih ia tutupi dari orang sekitar. Bahkan kedua orang tuanya pun tak tahu. Entah sampai kapan. Biar waktu yang berbicara.


Hampir tengah malam, Arga sudah memarkirkan mobilnya di pekarangan Disti. Ia disambut manja oleh Disti yang berhambur ke pelukannya.


"Ssst, ada Agatha."


Arga membuka pintu belakang dan membopong putri kecilnya. Sementara Disti merasa heran dengan kehadiran anak tirinya itu. Dia mengikuti Arga yang membawa Disti ke kamar tamu dan menyuruh bik Ijah untuk menemani putrinya tidur.