
Arga berusaha keras melawan efek obat perangsang itu. Ia menyadari bahwa ada yang ingin bermain dengannya. Tapi pikirannya tak karuan. Ia hanya berguling ke sana-sini, meremas seprei, melemparkan selimut ke sembarang arah.
"Siapa yang melakukan ini padaku?!"
Arga mulai membuka jas dan kancing kemejanya. Dadanya memerah menahan gejolak yang tiada henti.
Tok tok tok
"Siapa?"
Tanya Arga dengan suara parau.
"Layanan kamar."
Terdengar suara wanita.
"Aku tak memesan apapun!"
Arga mencoba menekan perasaannya.
"Baiklah, mungkin saya salah kamar."
Disti berbalik.
"Tunggu!"
Arga membuka pintu kamarnya. Disti menoleh dan tersenyum. Detak jantung Arga semakin tak menentu.
" Masuklah. Di dalam sangat berantakan."
"Baik. Permisi."
Disti melewatinya. Ia tidak mencium bau alkohol. Dia merasa aman untuk masuk ke dalam.
"Apa yang dilakukan tuan ini, sampai kamar seperti ini?"
Batin Disti tak mengerti.
Arga mencoba berpaling. Berkali-kali ia coba. Namun tak berhasil. Arga masuk ke kamar mandi, mencoba menenggelamkan dirinya ke dalam bathtub.
"Aaaah....."
Arga berteriak cukup kuat. Disti terkejut dan mengetuk pintu kamar mandi. Ia takut ada yang mencoba bunuh diri lagi di tempatnya bekerja seperti tiga bulan yang lalu.
"Tuan..., apa tuan baik-baik saja?"
"Aaaah!"
Arga kembali berteriak lebih keras dari sebelumnya. Disti semakin gusar.
"Tuan..., apa ada yang bisa saya bantu?"
Tidak ada jawaban dari dalam. Disti memutuskan kembali untuk merapikan tempat tidur.
Arga membuka pintu kamar mandi setelah sebelumnya menenggelamkan kepalanya berulang-ulang ke dalam bathub, ia berniat mengusir pelayan itu. Karena berbahaya jika ia berlama-lama di sini.
Namun libidonya kembali naik saat melihat Disti membungkuk membelakanginya karena sedang merapikan tempat tidurnya.
"Benarkah kamu mau membantuku!"
"Tentu tuan! Sudah kewajiban kami memuaskan para tamu."
"Kemarilah!"
Arga dengan keadaan basah kuyup menarik pelayan itu dalam pelukannya.
" Tu- tuan, bukan begini maksudnya!"
"Kamu yang menawarkan bantuan. Dan aku sangat membutuhkannya."
Arga kehilangan kendali. Ia menyerang Disti membabi buta. Tanpa memberi kesempatan pada Disti untuk melepaskan diri.
****
"Maafin aku Dis..., aku butuh uang untuk operasi ibuku."
Joko memandangi dua amplop di tangannya. Menyesal telah mendorong temannya ke jurang yang paling dalam.
****
Pagi hari, Arga membuka mata. Mendengar isak tangis di sudut kamar. Seketika ia ingat dengan kejadian semalam.
"Kamu! Kenapa masih di sini?! Ini, ambillah!"
Arga menyodorkan seikat uang berwarna merah.
"Maaf, aku bukan pelacur. Tolong bukakan pintunya. Aku mau keluar!"
Tadi malam memang Arga sempat menyembunyikan key card hotel untuk mencegah kepergian Disti.
"Maaf atas kejadian tadi malam. Aku tidak bermaksud..."
"Orang kaya memang seperti itu! Orang miskin seperti kami, hanya sebagai kain lap untuk membersihkan kotoran kalian."
"Aku bukan orang seperti itu. Tadi malam.., aku sudah mencoba menghindari mu dengan berendam. Tapi efek obat itu sangat kuat! Maafkan aku."
Disti hanya menatapnya dengan tatapan aneh. Tanpa kata, namun cukup membuat Arga merasa bersalah.
Arga sadar kalau gadis yang diti**rinya tadi malam benar-benar the virgin.
"A- aku akan bertanggung jawab! Siapa namamu?"
Disti tetap bungkam, tapi tatapannya tak lagi nyalang
Tok tok tok
"Mas Arga, sudah bangun?"
Suara Rendi terdengar di balik pintu. Arga membukakan pintu dan Disti langsung berlari keluar melewati Rendi yang ada di depan pintu.
Joko yang dari tadi memperhatikan kamar Arga, melihat Disti berlari. Terlihat setetes air di sudut matanya. Ia tak tega melihat keadaan Disti yang tampak berantakan.
"Mas Arga??!"
Rendi seperti tak percaya menyaksikan semuanya. Arga yang ia kenal bukan seperti ini.
"Ada yang mencoba bermain denganku, Ren!"
"Maksud mas?"
"Tadi malam ada yang mencampurkan obat perangsang di minumanku. Apa kau mencurigai seseorang?"
"Maaf mas. Tadi malam saya bertemu pak Hendra di sana.!"
Rendi menunjuk tempat ia mengobrol dengan Hendra tadi malam.
"Tapi saat pamit, ia menuju ke arah sana!"
Rendi menunjuk arah yang berlawanan dari sebelumnya.
"Kalo kamarnya di sana, ngapain dia lewat sini?!"
Ucap Arga kemudian.
"Kamu kejar Hendra, aku akan mencari gadis itu."
"Baik mas!"
Reno bergegas melaksanakan tugas yang diembannya.
"Hei, kamu! Sini!"
Arga memanggil pramusaji yang kebetulan melintas.
"Mau pesan makanan apa tuan? Apa mau diantar ke kamar?"
"Ka- kamu!"
Arga mencengkeram kera baju pramusaji itu. Ia ingat benar kalau dialah yang memberikan minuman itu.
"Saya akan mengampuni mu, asal kamu beri tahu siapa yang menyuruhmu!"
"Maaf tuan, saya tidak mengerti maksud tuan!"
"Kalo gitu, saya akan pastikan kamu dipecat dan masuk penjara!"
"Ma- maaf tuan. Saya terpaksa melakukan itu!"
"Okey, bekerja samalah! Ikuti aku seharian!"
"Tapi, tuan. Jam kerja saya sudah habis. Sekarang waktunya saya ke rumah sakit. Ibu saya harus segera dioperasi."
"Jadi demi ibumu! Berapa banyak dia membayar mu!"
"Maaf tuan.."
Joko kembali menundukkan kepala.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada ibumu. Tapi setelah itu, kamu
milikku!"
Arga merapatkan gigi dan mendekatkan wajahnya, sehingga Joko semakin ketakutan.