
Sudah lama tidak pulang, akhirnya Febri mengambil cuti tahunan untuk pulang. Ia sengaja tidak memberi kabar untuk memberi kejutan pada mama dan papanya. Tapi yang paling ia rindukan adalah ibu Nina. Orang yang selalu ada untuknya.
"Assalamu'alaikum ma... aku datang!"
"Wa'alaikumsalam. Febri? Kamu pulang nak?"
Nina langsung memeluk putrinya.
"Ibu... kenapa ibu di sini? Mana mama?"
"Ini rumah kita nak. Eva hanya kami tugaskan untuk menjagamu selama ini. Tapi, sepertinya dia kebablasan dengan memeras mu dan mengajarimu hal yang tidak seharusnya. Maafkan kami karena datang terlambat."
Arman menghampiri putrinya dan mengakui semuanya.
"Maksudnya apa om?"
Febri masih belum mengerti.
"Kami orang tua kandungmu nak..."
Sahut Nina sambil mengusap punggung Febri. Arman menelpon Eva.
"Eva, katakan yang sebenarnya pada Febri sekarang!"
Arman mengarahkan kamera pada Febri.
"Febri, mereka ayah dan ibumu. Tapi... tapi... mama tetap sayang sama kamu. Kamu jangan lupain ..."
Belum sempet Eva menyelesaikan ucapannya, Arman kembali mengarahkan kamera padanya,"Kenapa, kamu takut kehilangan mesin uangmu?"
"Eh...ti..tidak bang! Saya tidak berani."
"Bagus kalau begitu."
Arman langsung memutus sambungan teleponnya.
"Maafkan papa ya Feb, papa juga baru tau saat kamu di rumah sakit."
"Lalu Arga?"
Tanya Febri kemudian.
"Arga adikmu dari mama Wawa. Dia baru sadar dari koma selama sembilan bulan. Sekarang masih lumpuh. Besok kita jenguk ya. Sudah saatnya Arga juga tau keberadaan mu. Maaf, saat mengandung, papa dan mama terpisah dan baru bertemu kemaren. Papa harap kamu bisa menerimanya."
"Febri sudah lama dekat dengan ibu Nina, Febri juga udah sayang... banget. Tapi, kenapa ibu tidak memberitahuku sejak dulu?"
"Ibu takut dengan ancaman Eva nak. Ibu juga takut kamu nanyain papamu yang ibu ga tau entah dimana!"
"Sekarang mas sudah di sini sayang, hilangkan semua rasa takutmu."
Arman merangkul istrinya dan mengecup keningnya.
"Semua terlalu cepat! Hidupku berubah semenjak ketemu om Arman. Makasih om atas segalanya."
"Bisa panggil kami mama dan papa?"
Ucap Arman kemudian.
"Eh.. iya pa, ma."
"Ayo, temani papa ke panti X. Hari ini Arga sudah bisa menggerakkan tangannya. Papa mendapat dua keberuntungan sekaligus. Mendapatkan putri papa kembali dan kesembuhan putra papa."
"Febri masih capek pa. Papa sama Mama aja ya."
"Aku temenin Febri aja deh mas.., masih kangen."
"Whatever. Papa berangkat dulu ya. Malam ini mas ga jadi nginep sini ya Nin, mas pengen liat Arga. Besok mas jemput. Kita ke rumah Wawa ya."
"Ya, mas. Salam buat Warni."
Arman mengangguk, dan Nina mencium tangannya diikuti oleh Febri. Arman yang tak pernah mendapat perlakuan itu, mengernyitkan alisnya merasa heran.
"Belajar dari Warni mas.."
Lanjut Nina menjelaskan. Arman tersenyum lega. Ternyata hubungan kedua istrinya benar-benar baik.
****
"Arga, ada yang papa ingin beritahukan padamu."
"Katakanlah pa."
"Febri ini adalah kakakmu. Sebelum menikah dengan mama, papa sudah menikah dengan mamanya Febri, dan kami terpisah cukup lama."
Wawa memperhatikan wajah anaknya dan mencoba mencairkan suasana.
"Dan ternyata mama Nina ini sahabat mama dari kecil." Sahut Wawa sambil merangkul Nina memperlihatkan keakraban mereka. Dia tau kalau yang Arga cemaskan adalah perasaan mamanya. Arga memang sangat menyayangi mamanya. Dia ga mau hal ini membuat Arga ngedrop kembali.
"Bukannya tante Eva adalah mamanya Febri?"
Tanya Arga yang sudah terlihat lebih tenang karena melihat kondisi mamanya baik-baik saja.
"Eva cuma pengasuhnya Febri."
Jawab Arman yang tak ingin mereka tau keadaan sebenarnya. Bahwa Nina adalah mantan pela**r yang ia nikahi. Ia tidak ingin orang lain merendahkan Nina.
"Lu ga pengen jadi istri gue lagi kan Feb? Inget, lu itu kakak gue! Gue juga udah nikah!"
"Gue jadi malu, Ga! Tapi mulai sekarang, lu harus panggil gue kakak tau!"
"Ogah gue punya kakak kayak lu!"
Febri langsung mundur dan tertunduk. Ia sadar, ia adalah debu yang tanpa sengaja masuk ke dunia Arga. Apalagi dengan masa lalunya yang sangat memalukan. Entah mengapa sekarang ia merasa malu atas dirinya yang dulu. Padahal dulu, ia sangat antusias untuk merayu setiap om yang tajir di dekatnya.
Arga menyadari hal itu, dan merasa iba.
" Lu ga kasian apa sama adik lu?! Sini dorongin kursi roda gue. Kebetulan istri gue lagi capek."
Febri tersenyum dan mendorong kursi roda adiknya.
"Mau kemana nih?"
"Ke taman belakang. Ayo Hana, kamu juga harus kenalan sama kakak iparmu!"
Semua yang melihat tersenyum lega. Arman merangkul kedua istrinya menuju ke ruang keluarga. Ia merasa senang karena kedua istri dan anak-anaknya bisa akur seperti ini.