
"Apa benar kamu hamil honey?"
Hana tak menjawab, ia malah menggeser posisi duduknya hendak menjauh. Namun Arga tak peduli dan ikut bergeser mendekat. Kali ini ia akan menuruti saran Rendi untuk memperlihatkan cintanya pada Hana. Ia harus mengikis habis egonya.
"Hei, kamu beneran hamil honey."
Arga yakin setelah memegang tangan istrinya dan mengusap lembut perut istrinya yang tertutup dengan gamis longgar berwarna hitam. Hana merasa senang dan sedih bercampur jadi satu karena ini usapan pertama Arga pada kehamilan keduanya. Air mata pun tak terbendung. Tanpa kata ia terus terisak. Cadar niqab pun sudah basah dengan air matanya. Arga tak tahan melihat semua itu dan memeluk erat istrinya.
"Maafin mas honey... Mas bahkan baru tau setelah sebesar ini... Kenapa kamu merahasiakannya...?"
"Lepas mas! Ini pesantren! Tak baik memelukku di sini."
Suara Hana bercampur dengan isak tangis yang menyayat hati Arga.
"Kita pulang sekarang! Mas ga mau ada penolakan! Ayo kita temui Buya."
Arga menggandeng tangan Hana seperti tak mau kehilangan istrinya lagi. Hana sebenarnya enggan ikut dengan suaminya. Tapi apa daya, semua mata sudah tertuju padanya akibat ulah Arga yang memeluknya tadi. Ia tidak ingin membuka aib rumah tangganya di sini.
Setelah mendapat beberapa nasehat dari buya, mereka kembali ke gazebo. Rupanya Rendi dan Agatha juga sudah menunggu di sana.
"Gatha..., hari ini kita pulang sayang."
"Agatha ga mau pulang kalo ga sama mama!"
"Mama juga ikut kok, udah pamit sama buya."
"Beneran ma?!"
"Iya! Bantu mama packing yok ke asrama!"
"Jangan terlalu capek honey! Bagikan saja pada teman asrama mu! Nanti kita beli yang baru."
"Teman asramaku masih remaja. Pasti kebesaran kalo mereka pakai. Tapi ada ustadzah yang seukuran dengan ku. Terima kasih atas sarannya."
"VC honey. Mas pengen lihat kamu packing."
"Okey pa..."
Malah Agatha yang menyahut.
"Apaan sih mas? Packing aja pake VC!"
Rendi menyenggol bahu bosnya.
"Aku takut, packing cuma alasan Hana untuk menghindari ku. Kau tau? Dia sedang hamil! Dan terus menghindar dariku!"
"Oh ya?! Sudah berapa bulan?"
"Sepertinya perutnya sudah cukup besar tadi waktu ku pegang. Mungkin dia sudah hamil sebelum berangkat ke sini."
"Ya iyalah! Masak iya mbak Hana hamil di sini! Dia wanita baik-baik! Bos aja yang ga perhatian! Istri hamil ga tau!"
Dalam perjalanan pulang, Hana dan Agatha duduk di kursi penumpang. Dan Arga bergantian menyetir dengan Rendi. Hana sempat meminta untuk istirahat di rumah orang tuanya. Namun Arga menolak. Arga belum siap berhadapan dengan mertuanya. Hana pun memilih diam tanpa perdebatan. Wajahnya yang masih tertutup sempurna membuat ekspresinya tidak terlihat, namun Arga tahu, Hana pasti kecewa.
"Buka saja niqabnya jika panas honey."
Tanpa suara Hana hanya menggelengkan kepala. Arga kemudian menatap Rendi di sebelahnya yang sedang fokus menyetir seolah meminta tanggapan Rendi atas sikap Hana. Namun hanya senyuman yang seperti mengejek yang ia dapatkan.
"Kata Buya..., pihak pondok tidak menerima murid pindahan dari sekolah umum. Jadi Agatha tidak jadi aku pindahkan. Nanti saja kalau sudah lulus SD ya."
Arga kembali membuka suara dengan sedikit membalikkan badannya ke belakang. Berharap suasana segera mencair. Tapi lagi-lagi Hana hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab. Agatha yang biasa cerewet sudah terlelap di pangkuan bundanya. Arga kembali melihat ke depan dan mengacak rambutnya sendiri. Rendi hanya melirik bosnya yang lagi galau. Dalam hati ia merasa kasihan akan nasib bosnya. Tapi ia juga jengkel dengan kelalaian bosnya itu.
"Ren, kita cari tempat makan. Perut gue udah meronta rasanya."
"Perut apa hati bos...?"
"Dua-duanya!"
Rendi tersenyum sambil melirik spion ke arah Hana. Terlihat Hana memalingkan pandangan ke luar jendela.
"Begitu sakitkah mbak? Sampai kau tak bisa memaafkan mas Arga? Semoga aku terhindar dari yang namanya poligami. Aku tidak ingin menyakiti Rara."
Batin Rendi.
"Mbak Hana emang beneran hamil ya mbak?"
"Iya Ren."
"Udah berapa bulan mbak? Rara sudah tau belum?"
"Jadi dokter Fahri tau kamu hamil? Kok ga ngasih tau aku ya! Keterlaluan dia."
"Aku rasa lebih keterlaluan jika suami tak memahami keadaan istrinya. Tapi, mungkin karena sudah ada yang baru. Jadi yang lama terabaikan."
Rendi segera mengerem mobilnya dan memarkirkan di tepi jalan.
"Maaf mas, saya mau beli minum dulu."
Rendi mencoba memberi ruang untuk mereka bicara.
"Apa mas harus menceraikan Disti untuk membuatmu kembali seperti dulu honey? Kau tak tau, Disti juga melarang ku untuk menemuinya selain tanggal dua puluh sampai dua puluh tiga. Tiga hari dalam sebulan. Sesuai dengan permintaanmu."
"Dia juga wanita baik. Tapi jika itu bisa menyembuhkan luka hatimu, aku akan melakukannya."
"Ren... mbak mau satu!"
Hana membuka jendela dan berteriak ke arah Rendi.
"Setidaknya jawablah pertanyaan ku honey. Jangan mengabaikan aku seperti ini."
"Sesakit itukah rasanya diabaikan? Sayangnya aku pernah merasakannya."
"Baiklah. Maafkan mas. Izinkan mas memperbaiki semuanya. Lain kali, jika mas salah. Jangan tinggalkan rumah lagi. Itu rumahmu. Biar mas yang pergi."
"Sekarang, kamu pengen makan apa? Biar nanti kalo lihat, kita langsung berhenti."
Hana kembali terdiam.
"Ayolah, kita mulai dengan kata. Jangan terus mendiami aku."
"Aku pingin rujak bebek. Yang ga terlalu halus."
"Okey. Ini permintaan pertama baby kecilku. Papa akan berusaha sayang. Ayo Ren. Kita berangkat."
*Rujak tumbuk ya guys...*
"Udah ga butek mas?"
"Jernih! Kita cari rujak okey?"
"Siap bos!"
Sudah hampir satu jam perjalanan akhirnya ketemu juga bakul rujaknya.
"Kamu tunggu ya baby, papa akan bawa rujaknya."
Dengan senyum ceria, Arga membeli rujak di pinggir jalan sesuai permintaan permaisurinya.
"Ga ada rujak bebeknya buk?"
"Ga pa. Rujak biasa."
"Bisa ditumbuk ga? Soalnya istri saya ngidam rujak bebek."
"Saya cuma bawa pisau, mau di tumbuk pake apa ya?"
"Em... kalo bapak mau, itu di sebrang ada jual cobek. Nanti bisa bapak tumbuk sendiri."
"Iya deh. Ibu aja yang beli. Nanti saya bayar dua kali lipat. Saya mau ngupas buahnya boleh? Biar istri saya tambah seneng."
"Oh, silahkan saya tinggal sebentar ya pak."
Cobek yang masih baru hanya disiram dengan air dan tukang rujak pun beraksi.
Arga memesan tiga bungkus rujak biasa dan sebungkus rujak bebek.
"Ini cobeknya pak. Tadi kan sudah bapak bayar."
"Buat ibu aja. Buat jaga-jaga, kalo ada pembeli yang unik seperti istri saya."
"Makasih pak."
Sesampai di mobil, Hana hanya memakannya sedikit. Setelah itu malah meminta rujaknya Arga. Duh... bumil emang aneh ya.
*Terima kasih sudah membaca... Jangan lupa like and vote. Tinggalkan jejak ya di komentar....*