First Love To My Husband

First Love To My Husband
Anak Lain Arman



Saat Arga dan mamanya sibuk mengurus pernak- pernik lamaran. Arman justru punya kesibukan sendiri. Subuh tadi ia mendapat kabar kalau Febri berada di salah satu klinik mal praktek untuk aborsi.


Sebenarnya dari tadi malam Febri berada di klinik itu bersama om Hendra. Setelah janin berhasil digu***kan, Hendra membayar sejumlah uang dan pergi meninggalkan Febri sendiri. Baginya, yang terpenting janin sudah jatuh dan tidak akan bisa mempengaruhi masa depannya. Untuk wanita seperti Febri, ia bisa mencari seribu pengganti di luar sana.


Febri yang semakin tertekan setelah mengetahui bahwa om Hendra telah mencampakkannya begitu saja, semakin down. Ia mengalami pendarahan hebat. Ia mengabari mamanya yang ternyata no respon terhadapnya. Kemudian ia mengabari Tante Nina yang selalu ada buatnya. Saat ini Febri butuh seseorang untuk mendampinginya melewati masa sulit.


Nina segera berangkat menuju alamat yang dikirim Febri. Namun, sesampainya di sana, Febri sudah tak sadarkan diri. Nina bersimpuh memegangi tangan Febri sambil mrnangis. "Kamu harus kuat nak... maafin ibu..."


Saat itu Arman baru sampai, dan menyaksikan kejadian memilukan itu. Ia memperhatikan wanita yang menangisi Febri. "Nina? Kau kah itu?" Arman lalu mendekat.


"Mas Herman, tolong Febri mas! Di...dia, dia anak kita."


Herman adalah nama asli Arman sewaktu menjadi mafia dulu.


"Sudah, kita tangani Febri dulu." Arman lalu memanggil dokter dan meminta segera melakukan tindakan. Ia juga akan mengancam melaporkan klinik abal-abal itu ke polisi kalau sampai Febri tidak selamat. Dan dia juga akan membayar mahal atas keselamatan Febri. Dan saat itu juga, Febri menjadi yang utama.


"Mas Herman kemana aja? Kenapa ga pernah kembali?" Isak Nina tertahan.


"Maaf, keadaannya tidak memungkinkan untuk mas pulang."


Flash back


Herman adalah seorang mafia yang disegani oleh teman seprofesinya. Ia membeli seorang wanita malam dari mammy Elly. Wanita itu adalah Nina. Herman menjadikannya istri dan mereka sangat bahagia. Dua tahun bersama, Nina pun akhirnya mengandung. Namun bisnis Narkoba Herman mulai terendus polisi. Akhirnya Herman meninggalkan semua hartanya untuk istri tercinta dan calon bayinya. "Jual seluruh aset, dan segeralah pindah dari sini! Mas akan pergi dalam kurun waktu yang lama." Pesannya pada Nina kala itu.


Nina enggan melepaskan pelukannya pada suaminya, ia juga tengah hamil anak pertama. Buah cintanya dengan suami. Tapi Herman harus pergi untuk keselamatannya.


Herman pergi ke pulau terpencil. Ia mengubah namanya menjadi Arman. Saat itu, di pelosok negri tempat Arman berpijak, mempunyai KTP baru adalah hal yang mudah. Ia tidak perlu membawa surat pindah. Ia cukup menetap lebih dari enam bulan dan bisa mendapatkan KTP baru, dengan identitas yang baru pula.


Di tempat inilah Arman bertemu dengan gadis lugu lembut dan cantik. Dialah Suwarni. Anak guru ngaji di kampung ini. Kemudian Arman memanggilnya dengan sebutan Wawa, supaya panggilannya berbeda dengan orang lain.


Arman jatuh cinta kembali. Dan menikahi Wawa yang menerimanya apa adanya. Setelah menikah, Arman menceritakan pada Wawa, bahwa ia sudah beristri. Namun karena suatu musibah, ia berpisah dengan istrinya. Wawa yang mengerti hukum agama, ia paham bahwa suaminya belum bercerai.


"Nanti kalau kita punya uang lebih, kita ke kota ya mas, buat nyari mbak yu Nina. Bagaimana pun dia masih tanggungan mu mas."


Setiap ketulusan Wawa membius Arman dan perlahan melupakan Nina. Sampai saat ayah Wawa meninggal tepat tiga bulan setelah ibunya meninggal. Wawa tidak mempunyai siapapun kecuali suami dan anaknya yang sudah kelas lima SD.


"Mas, kita jual saja sawah dan rumah peninggalan bapak terus pindah ke kota ya." Pintanya lembut.


"Apa ga sayang dek? Ini peninggalan orang tua kamu loh!"


"Ga papa mas..., kapan lagi kita cari mbak yu Nina?Pasti sekarang anaknya udah gede. Arga aja udah kelas lima. Apa mas ga kangen?"


"Tapi, anaknya kan tetap anak kamu mas. Yok lah, kita coba buka usaha kecil-kecilan di kota. Biar Arga juga ga nyungsep di pelosok sampek besar. Kasian mas."


Arman mengiyakan usul istrinya, baginya tidak terlalu sulit membangun bisnis di kota, karena sebelumnya ia juga terjun ke dunia bisnis. Namun sayang ia kepincut bisnis sampingan yang membuat hidupnya berantakan. Dan kali ini dia tak mau mengulangi kesalahan yang sama.


"Ya udah kalo itu sudah menjadi keputusan kamu. Tapi rumah bapak jangan dijual ya dek. Kali aja kita ga betah di kota, masih ada satu aset di sini."


Wawa mengangguk mengiyakan.


"Sudah cukup lama, mudah-mudahan aman." Pikirnya.


Di klinik aborsi, Nina menceritakan kisahnya pada Herman. Betapa ia terombang-ambing tak tentu arah. Setelah menjual semua aset, ia tertipu investasi bodong. Kemudian ia menitipkan anaknya pada teman seprofesinya yang sudah menikah dan terbilang mapan. Sementara ia kembali ke lembah hitam.


Sementara ibu angkat Febri ternyata tidak tulus menolong. Ia mau menerima Febri karena suaminya ingin anak perempuan, sementara ia melahirkan anak lelaki. Dia pun mendidik Febri dengan liar. Setiap kali Febri berhasil menggoda om-om tajir, Eva meminta sebagian uangnya. Ia tak peduli walau tubuh Febri ternoda.


Dan Nina baru mengetahui dua tahun yang lalu, saat melihat Febri bergelayut manja dengan om Rangga atasan Febri. Ia menegur Eva, sahabatnya. Karena membiarkan Febri seperti itu. Dan ia malah mendapatkan jawaban yang tak terduga.


"Biar aja, biar ngasilin duit! Duit gue udah habis banyak buat nyekolahin dia. Sekarang giliran dia yang kasih duit ke gue. Lagian dia juga lahir dari pelac**!


Nina tidak bisa berbuat apa-apa waktu itu. Ia juga tidak bisa mengambil Febri dari Eva begitu saja. Tapi ia berhasil mendekati Febri dan berusaha untuk selalu membantu Febri. Apa pun itu.


"Nina, apa kamu masih bergelut di lembah hitam? "


"Sudah tua mas, mana ada yang mau. Aku sudah menikah. Tapi, suamiku belum tau tentang Febri."


"Apa Febri tau, kalau Eva bukan mama kandungnya?"


Nina menggeleng sedih.


"Itu berarti..., Febri belum tau tentangmu?"


Nina lagi-lagi hanya menggeleng.


"Mas yang akan membebaskan Febri dari Eva. Kamu tenanglah. Kita akan beri tau Febri perlahan."


Arman tidak bisa kembali bersama Nani, karena sudah bersuami lagi. Tapi Febri adalah darah dagingnya. Ia harus menebus kesalahannya dan membahagiakan Febri.


"Pantas saja aku selalu ga tega jika melihat Febri susah selama ini. Ternyata ini adalah ikatan batin ayah dan anak." Pikirnya.