First Love To My Husband

First Love To My Husband
Selamat Jalan Nenek



Usia nenek sudah sepuh. Ia jatuh sakit dan terus memanggil nama Hana, cucu satu-satunya.


[ Nak..., nenek lagi sakit. Kamu bisa ke sini ga?]


Hanum sebenarnya tidak ingin mengganggu kesibukan anaknya. Tapi, ia juga ingin menuruti keinginan ibunya.


[ Iya, ma. Hana segera ke sana.]


Hana meninggalkan pekerjaannya, dan masuk ke ruangan direktur yang masih dipegang papanya.


" Kebetulan kamu masuk, Hana. Ada yang ingin papa bicarakan."


"Ada apa pa?"


Kalau tidak ada orang lain, Hana memang memanggil papa di kantornya.


"Arga sudah pulih, sebentar lagi perusahaan akan papa serahkan kembali padanya. Tapi sebelum itu, papa pengen ngadain pesta buat pernikahan kalian. Demi kelanggengan hubungan kalian juga."


"Pa, Hana nikahnya udah lama banget... Hana ga mau pesta. Boleh ya pa?"


"Tapi, papa harus mengenalkan mu sebagai menantu, agar rekan-rekan bisnis kita tau! Dan juga.., agar Aca tak lagi mengejar Arga."


"Biar angin aja yang nyampein kabar ini pa. Seiring waktu, semua juga akan tau pa. Hana sekarang lagi pengen ngembangin sayap dulu. Tapi belum kepikir mau usaha apa."


"Kamu yakin, ga mau pesta? Biasanya wanita suka pesta loh!"


"Hana ga mau pa... Nanti Hana malah sedih kalo banyak yang liatin mas Arga. Terus, anak papa itu juga cemburunya kelewatan pa!"


"Ok, kalau itu mau kamu. Nanti papa kasih modal buat usaha baru kamu."


"Ga usah pa, Hana punya sendiri. Mas Arga juga katanya mau nambahin. Udah cukuplah pa!"


"Terus, kamu maunya apa? Apartemen?"


"Hana cuma mau restu dan bimbingan dari papa. Oh iya pa, nenek lagi sakit. Aku izin beberapa hari ya?"


"Arga ikut?"


"Iya pa. Tadi udah ku telpon."


"Ajak Rendi ya, ga boleh nyetir sendiri!"


Rendi adalah anak mang Didi yang kini menggantikan tugas ayahnya.


"Siap pa. Hana pamit, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Bukan dari golongan berada, tapi tak gila harta. Ia punya banyak kemiripan dengan Wawa. Semoga kelak ia juga bisa membimbing cucuku dengan baik, seperti Wawa membimbing aku dan Arga." Gumam Arman.


****


"Hana..., nenek sudah tua. Ini sertifikat rumah nenek untukmu. Nenek ingin menghabiskan sisa umur nenek di sini bersama ibumu."


"Nek..., rumahnya untuk mama aja. Hana udah kerja. Penghasilan Hana juga lumayan. Hana bisa beli rumah sendiri nek."


"Iya nek. Masalah rumah sudah menjadi tanggung jawab Arga. Saya udah punya apartemen sendiri kok nek."


Sahut Arga dari belakang.


"Mama juga udah betah di sini sama papa nak. Buat kamu aja. Kalau ga mau nempatin, kan bisa disewain."


"Iya, yang penting jangan dijual ya nduk. Itu peninggalan kakek satu-satunya."


"Ya udah, Hana terima. Makasih ya nek."


"Nenek lega. Sekarang nenek mau tidur dulu."


"Istirahat ya nek, biar cepet sembuh."


Hana memijat kaki neneknya yang sedang tertidur.


"Nak, kamu ajak suamimu makan dulu sana. Biar mama yang jagain nenek."


"Iya ma. Hana mau sholat Dzuhur dulu."


Hana mengajak suaminya masuk ke kamar. Sholat berjamaah. Lalu makan berdua. Setelah itu melihat kondisi neneknya kembali.


"Mas, aku pijitin nenek dulu ya. Mas istirahat aja dulu. Nanti aku nyusul."


Arga mengangguk dan tersenyum.


"Ma... nenek ma...."


Hana menjerit saat menyadari neneknya telah meninggal.


"Ada apa dengan nenek, Han?"


"Nenek udah ga ada ma...hik...hik..."


"Loh tadi masih tidur waktu mama tinggal?"


"Ada apa?"


Tanya Arga.


"Nenek mas..."


"Innalilahi wainnailaihi roji'un...."


"Telpon ayah nak..."


Hanum menyesal telah meninggalkan ibunya menghadapi sakaratul maut sendiri.


Tak lama kemudian, Masjid mengumumkan dan tetangga berdatangan. Hana dan beberapa tetangga membacakan surat Yassin.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


يٰسۤ ۚ


yā sīn


Ya Sin


وَالْقُرْاٰنِ الْحَكِيْمِۙ


wal-qur`ānil-ḥakīm


Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah,


اِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۙ


innaka laminal-mursalīn


sungguh, engkau (Muhammad) adalah salah seorang dari rasul-rasul,


عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۗ


'alā ṣirāṭim mustaqīm


(yang berada) di atas jalan yang lurus,


تَنْزِيْلَ الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِۙ


tanzīlal-'azīzir-raḥīm


(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Penyayang,


لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ اُنْذِرَ اٰبَاۤؤُهُمْ فَهُمْ غٰفِلُوْنَ


litunżira qaumam mā unżira ābā`uhum fa hum gāfilụn


agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.


لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلٰٓى اَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ


laqad ḥaqqal-qaulu 'alā akṡarihim fa hum lā yu`minụn


Sungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.


اِنَّا جَعَلْنَا فِيْٓ اَعْنَاقِهِمْ اَغْلٰلًا فَهِيَ اِلَى الْاَذْقَانِ فَهُمْ مُّقْمَحُوْنَ


innā ja'alnā fī a'nāqihim aglālan fa hiya ilal-ażqāni fa hum muqmaḥụn


Sungguh, Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah.


وَجَعَلْنَا مِنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَّمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَاَغْشَيْنٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ


wa ja'alnā mim baini aidīhim saddaw wa min khalfihim saddan fa agsyaināhum fa hum lā yubṣirụn


Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.


وَسَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ


wa sawā`un 'alaihim a anżartahum am lam tunżir-hum lā yu`minụn


Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga.


اِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِۚ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَّاَجْرٍ كَرِيْمٍ


innamā tunżiru manittaba'aż-żikra wa khasyiyar-raḥmāna bil-gaīb, fa basysyir-hu bimagfiratiw wa ajring karīm


Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.


اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ


innā naḥnu nuḥyil-mautā wa naktubu mā qaddamụ wa āṡārahum, wa kulla syai`in aḥṣaināhu fī imāmim mubīn


Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).


.............