First Love To My Husband

First Love To My Husband
Terpuruk



[ Pagi Ga.]


Arga terkejut melihat pesan dari Aca, mantan kekasihnya dan sekaligus sekretaris yang sangat seksi.


[ Ya, ada apa?]


[ Gue mau minta tolong. Bisa kita ketemuan?]


[ Lu kalo ada masalah ngomong sama Hana aja. Gue ga mau istri gue salah paham kalo gue bantuin lu.]


[ Bucin amat sih lu Ga!]


[ Menjaga lebih baik dari pada memperbaiki.]


[ Tapi gue malu ngomongnya sama Hana, Ga.]


[ Lu kan udah tau Hana kayak gimana? Pasti dia bantu selagi bisa. Udah dulu ya. Hana ngajak sarapan tuh.]


[ Dasar bucin!]


Arga tidak lagi membalas pesan Aca. Dia segera bergabung dengan keluarganya untuk sarapan.


"Han, mama boleh ya nginep di sini seminggu?!"


Wawa minta pada Hana padahal sebenarnya permintaan itu ditujukan ke suaminya, karena belakangan ini kesibukan Arman membuat Wawa merasa kesepian.


"Ma..., mama mau tinggal sampai kapan pun boleh!


Kami malah senang. Ya kan mas?"


"Iya ma! Lagian kantor kami ada di pekarangan rumah, jadi mama pasti ga akan kesepian seperti di rumah. Karyawan di sini juga mudah akrab. Pasti mama betah!"


Sahut Arga yang seolah paham dengan perasaan mamanya.


"Ya udah deh, papa cuti seminggu! Nemenin mama di sini."


Arman pun mengerti.


"Beneran mas?!"


Tanya Wawa tak percaya.


"Iya. Apa sih yang ga buat mama?"


Setelah sarapan Arman dan Arga menjenguk Rudi di rumah sakit, dan Hana memperkenalkan mertuanya pada pegawai laundry. Ada Rara yang memang sudah sangat mengenal nyonya besarnya. Sehingga keadaan jadi lebih menyenangkan.


"Ma, Hana angkat telpon dulu ya."


Wawa mengangguk, dan Hana segera pergi menjauh.


[ Hana, apa kabar?]


[ Baik, mbak Aca apa kabar? ]


[ Aku sedang terpuruk Han, apa kau bisa membantu.]


[ Insya Allah kalo saya bisa. Apa yang bisa saya bantu mbak?]


[ Suamiku bangkrut Han, aku butuh pekerjaan.]


[ Kenapa ga coba kembali ke kantor papa. Pasti diterima.]


[ Malu Han. Akan jadi omongan sama temen-temen yang lain. Kamu ad g kerjaan lain di daerah sini?]


[ Kalo di daerah situ... paling cuma ....]


[ Cuma apa Han?]


[ Takutnya mbak ga mau mbak.]


[ Apa Han?! Mbak beneran butuh!]


[ Febri yang suka sama Arga dulu? Idih..., amit-amit.]


[ Kak Febri itu kakak kandung mas Arga mbak, cuma terpisah sejak kecil.]


[ What??! Kakak?!]


[ Iya mbak. Nantilah mbak saya carikan yang beneran cocok buat mbak.]


[ Jangan lama-lama ya Han, gue butuh buat bayar kontrakan.]


[ Separah itu mbak?]


[ Iya, kapan-kapan mbak cerita sama kamu.]


[ Okey mbak. Udah dulu ya mbak, assalamu'alaikum.]


[ Wa'alaikumsalam.]


"Ya ella, sampek lupa salam tadi. Padahal kan Hana orangnya religi banget." Batin Aca menyesal.


****


" Mas, suaminya mbak Aca bangkrut. Kita harus menolongnya."


"Pikirkan kandungan mu honey, jangan terlalu memikirkan orang lain...!"


Arga mulai mendekap istrinya dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Hana sambil sesekali menge**p leher jenjang di hadapannya.


"Aku serius mas...!"


Hana membalikkan badan dan menatap suaminya, dan Arga malah menyambar bibir, memagutnya sebentar. Kemudian Hana mendorong pelan dada Arga.


"Mbak Aca bahkan ga punya uang buat bayar kontrakan, mas!"


"Masak sih?!"


Arga seolah tak percaya. Tapi ia tak mau obrolan ini mengganggu momennya. Segera ia transfer ke rekening Aca sejumlah uang dan mengirim buktinya pada Hana.


"Tu, kirimkan bukti transfer itu ke Aca! Bilang kalo belum ada kerjaan yang cocok untuknya."


"Tapi, apa ini ga akan membuatnya tersinggung? Dia minta pekerjaan, bukan uang!"


"Sudahlah honey..., untuk sementara itu dulu! Mas ga mau masalah Aca gangguin acara kita malam ini."


Hana mengerti dan langsung mengirimkan bukti pada Aca. Tanpa membaca balasan dari Aca, Hana langsung meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia juga sudah geram dengan tingkah suaminya yang terus membuatnya panas dingin.


"Mas...., sebelumnya...., mas mau ga ngelakuin sesuatu?"


"Apa sayang?"


Arga terus menempelkan wajahnya ke tubuh Hana yang bagai magnet.


"Aku pengen di baluri body lotion sama mas."


Duh... orang hamil emang permintaannya aneh-aneh ya.


"Di bagian mana honey?"


"Semuanya."


Jawab Hana malu-malu.


Arga menatap senang pada istrinya. Ia segera mengambil body lotion di atas meja rias dan mulai mengabulkan permintaan istri yang sangat menguntungkan baginya.


"Kalo permintaannya kayak gini, tiap hari juga mas seneng ngelakuinnya."


Hana tersenyum dan merasakan tangan suaminya yang mulai menjamah tubuhnya. Tanpa terlewat satu inci, tangan Arga terus berkelana sampai keduanya tak tahan untuk segera memulainya.