
Jauh di dalam hati Arga merasa bingung. Ia tidak mau melukai Hana, istri tercinta. Tapi ia juga tidak tega setelah melihat kehidupan Disti yang begitu sulit. Entah apa yang membuatnya mencoba tetap menunggu kehadiran Disti di rumahnya.
"Assalamu'alaikum."
Disti heran melihat mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya.
"Wa'alaikumsalam."
"Nah itu Disti datang."
Ayah Disti terlihat gembira mendengar suara anaknya. Namun senyuman itu hilang saat memandang Disti yang terlihat kusut dan berantakan.
"Apa yang terjadi nak?"
"Tidak ada pak. Disti baik-baik aja."
Disti mencoba tersenyum menutupi kesedihannya.
"Mata tua ini menangkap sesuatu. Jangan bohong sama bapak nak!"
"Tidak pak. Disti baik-baik aja."
"Disti mandi dulu ya pak."
"Mandilah! Setelah itu kita makan. Bapak sudah bikin sambal mi kesukaan kamu."
Disti berlalu sambil menatap sinis pada Arga, lalu berpaling.
"Dis.... ayo makan! Bapak sudah lapar nak! Jangan lama-lama di kamar."
Sebenarnya Disti enggan keluar dari kamar, karena dari tadi ia masih mendengar suara Arga asik ngobrol dengan ayahnya.
"Sok baik! Sok ramah! Padahal serigala berbulu domba! Entah sudah berapa gadis sepertiku yang jadi korbannya."
Umpat Disti.
"Dis...."
Ayahnya kembali memanggil sambil mengetuk pintu kamarnya.
"Iya pak. Disti udah siap."
Disti keluar dengan membiarkan rambutnya terurai, untuk menutupi bekas merah yang bertaburan di leher bahkan di sekujur tubuhnya. Tapi rambut basahnya tidak mampu menutup semuanya, di bagian depan juga masih terlihat jelas oleh Arga. Beruntung ayahnya sudah agak rabun sehingga tidak begitu memperhatikan hal itu.
Mereka makan siang bersama dengan membentangkan tikar. Hanya nasi dan sambal mi instans dan air putih tentunya.
" Lain kali kalo pulangnya telat, telpon bapak ya nak. Biar ga cemas kayak tadi."
"Maaf pak. Batere hapeku abis. Jadi ga bisa nelpon. Lain kali Disti akan pinjem hape temen."
"Mari makan nak Arga, cuma ini yang bisa bapak sajikan."
"Ini juga pasti enak pak. Karena bapak memasaknya dengan cinta."
Mereka mulai menyantap tanpa bicara. Arga terus menatap Disti, namun yang ditatap malah bersikap cuek dan sama sekali tidak memperdulikannya. Hal itu tertangkap oleh ayah Disti. Sehingga memberinya ide.
"Dis..., nanti belikan bapak pulsa ya. Biar bapak bisa nelpon kamu!"
"Bapak mau tidur siang dulu. Kamu temani nak Arga ya. Dia sudah menunggumu sejak pagi."
Dia meninggalkan ruang makan mencoba memberi waktu untuk mereka berdua. Berjalan dengan dua bangku plastik menuju kamarnya.
"Ayo, kita belikan pulsa bapak!"
Arga sebenarnya bisa langsung mengisi dari ponselnya, tapi ia ingin mengajak Disti keluar untuk bicara.
"Nanti sore aja. Aku bisa sendiri."
Jawab Disti tanpa menoleh.
"Ayolah..! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Aku tidak ingin ayahmu mendengarnya."
Arga berbisik. Karena ruangannya sangat kecil, sehingga memungkinkan ayah Disti mendengar dari kamarnya.
Disti berpikir sejenak.Ia tidak mau membuat ayahnya sedih jika mengetahui nasib buruknya tadi malam.
"Baiklah."
Tanpa disangka Arga juga duduk di sampingnya. Membuat Disti bingung.
"Siapa yang nyetir?!"
"Aku cuma pengen ngobrol denganmu. Akan sulit bagiku menyetir sambil terus menoleh ke belakang."
Ucap Arga enteng.
"Dasar!"
Disti keluar dan masuk kembali. Duduk di samping kemudi. Arga tersenyum dan mengikutinya. Lalu segera menjalankan mobilnya.
"Pasang sabuk pengaman! Atau aku yang akan memasangkannya."
Disti cepat menarik dan memasangnya sendiri. Arga hanya tersenyum melihat aksi gadis kecilnya. Ia seperti muda kembali. Ia juga mulai merasa senang menjahili Disti.
Di sebuah restoran mewah, Arga membawa Disti di ruang VVIP agar tidak ada yang bisa mengganggunya. Arga tidak ingin ada rekan bisnis yang melihatnya. Terlebih karena ia telah menikah.
"Kenapa ke sini? Kan cuma beli pulsa!"
Disti takut kejadian tadi malam terulang lagi.
"Tidak perlu takut! Aku tidak sedang dalam pengaruh obat seperti tadi malam."
Seolah tahu kecemasan Disti.
Setelah memesan minuman dan sedikit makanan, karena sebenarnya mereka masih kenyang, Arga mulai mengatakan sesuatu.
"Dis, aku ingin menikahi mu. Aku tidak tega membuatmu hancur. Tapi...."
"Tapi aku tidak layak untuk tuan bukan? Orang tua tuan pasti akan melarangnya."
"Bukan itu! Orang tuaku sangat baik dan tidak memandang kasta!"
"Aku... aku sudah punya keluarga. Aku sudah punya anak dan istri. Aku sangat mencintai mereka. Dan tidak ingin menghancurkan perasaan mereka."
Disti hanya diam seribu bahasa.
"Aku tidak pernah berpikir untuk menghianati istriku. Tadi malam... ada yang dengan sengaja mengirim mu ke kamarku."
"Joko?!"
Disti ingat, kalau Joko yang menyuruhnya. Dia juga ingat kalau Arga mengatakan tidak memesan layanan kamar seperti yang dikatakan Joko.
"Ya! Joko dibayar oleh pesaing bisnisku. Dia juga yang memberi minuman padaku."
"Tega kau Joko...!"
Suara Disti tertahan dengan isakannya.
"Dia butuh uang untuk operasi ibunya. Dia juga yang mengantarku ke rumahmu!"
"Sudahlah. Mungkin sudah takdirku!"
Suara Disti melemah, dia tertunduk dalam. Arga semakin tak tega melihatnya. Dan meraih kedua tangannya. Disti terkejut melihat semua itu. Dan menatap Arga penuh tanya.
"Maafkan aku. Maukah kau menikah siri denganku? Ini demi statusmu. Menjaga kemungkinan kalau kau hamil nantinya."
Disti menarik tangannya. Ia bingung harus menjawab apa. Pernikahan yang ia bayangkan adalah pernikahan normal. Bukan pernikahan siri. Tapi keadaannya memang tidak memungkinkan. Disti hanya diam tanpa bisa menjawab.
"Aku baru akan menikahi mu secara resmi, jika istriku setuju."
"Bagaimana caraku menyampaikannya pada bapak?"
Disti kemudian berucap.
"Katakan saja yang sebenarnya. Besok kita akan menikah di masjid terdekat dengan rumahmu. Aku yang akan mempersiapkan semuanya. Sekarang kita beli baju dulu."
Seolah mendapat jawaban bahwa Disti setuju.
"Tapi sebentar lagi aku masuk kerja tuan! Tidak akan sempat untuk berbelanja."
"Mulai sekarang aku melarang mu bekerja! Termasuk kerja sampingan! Kamu hanya akan mengurus bapak di rumah, dan menjadi istriku."
Arga menarik tangan Disti untuk mengikuti langkahnya.