Different

Different
Bab 8



[Author POV]


Setelah merasa baikkan,Syila keluar dari UKS dan memilih kekantin untuk mengisi perut. Jangan harap Syila akan lupa makan atau gak nafsu makan cuma gara-gara sakit hati. Tidak. Syila akan tetap me nomer satukan urusan perutnya.


Dia melangkah gontai menuju pintu keluar. Saat ingin membuka pintu,ia sudah keduluan sama yang dari luar.


"Loh...lo ngapain di UKS Syil?"tanya orang yang membuka pintu UKS tadi.


Syila mendongak,ia mendapati kakak kelas yang kebetulan kenal dengannya,sedang menatapnya keheranan.


"Oh,kak Dillon. Ini kak,sakit perut. Biasalah...cewek"jawab Syila berbohong,dan Dillon mengangguk anggukkan kepalanya percaya.


"Lo sendiri ngapain kak?"


"Ini...gue mau ngambil kotak P3K"


"Hah? Siapa yang sakit?"tanya Syila bingung. Kenapa tidak orang itu saja yang kesini? Tanyanya dalam hati


"Itu...si Fira,jatoh dari tangga. Gak mau dibawa kesini,katanya gak suka bau obat-obatan" jelas Dillon yang sekarang membuat Syila mengerti mengapa orang tersebut gak mau dibawa ke UKS.


"Yaudah kak,gue duluan ya...mau ke kantin"pamit Syila dan diangguki oleh Dillon.


Syila berjalan dengan santainya menuju kantin. Saat tepat di pintu masuk,ia melihat Devan yang lagi duduk sendiri disana. Dan itu membuatnya berdecak malas. Ia memilih berbalik dan pergi dari sana.


Baru aja nih hati tentram,eh...malah yang bikin rusuh didepan mata batin Syila menggerutu.


Baru beberapa langkah setelah berbalik,pergelangan tangannya di cekal oleh seseorang. Ia menoleh.


"Mau kemana?"tanya seseorang tersebut.


Dasar *** ayam. Sengaja gue hindarin malah didepan mata umpat Syila dalam hati.


Syila tersenyum,lebih tepatnya senyum terpaksa.


"Eh Devan. Nggak,gue gak mau kemana-mana,cuma mau-" ngehindarin elo lanjut Syila dalam hati,dan tentunya masih dengan senyum 'palsu' miliknya.


"Cuma mau?"tanya Devan penasaran.


"Cuma mau ke kelas. Iya,ke kelas"jawab Syila cepat. Lalu Devan melepaskan cekalan tangannya di pergelangan tangan Syila. Syila mengelus-elus pergelangan tangannya yang sedikit memerah. Mungkin Devan tidak sadar kalau menyekalnya terlalu erat.


"Yaudah,gue duluan ya"pamit Syila.


"Eh tunggu"


***


Syila semakin memaksakan senyumnya. Ia merutuki dirinya sendiri,mengapa ia mau-mau saja saat diajak Devan ke rooftop.


Dan sekarang,mereka berdua sedang duduk di sofa yang disediakan di atas rooftop. Tak ada yang membuka suara,hanya suara desiran angin yang menyelimuti mereka.


"Uhm...Devan?" akhirnya Syila bertanya,dia mencoba membuka pembicaraaan. Karena,mau ditunggu sampai beberapa jam kedepan pun,Devan tak akan pernah mau membuka pembicaraan dulu. Syila ingin menanyakan sesuatu yang sudah mengganjal sedari tadi di kepalanya.


"Hm?"


"Maksud lo apa ngajak gue kesini dan kita cuma diem-dieman dari 30 menit yang lalu?" akhirnya pertanyaan yang sedari tadi mengganjal kepalanya keluar juga.


"Gak ada apa-apa"jawab Devan dengan pandangan yang masih lurus kedepan. Syila menoleh kearahnya dan menatapnya dengan tatapan tak percaya.


"Lo ngajak gue kesini cuma buat ngelihatin lo yang cuma diem aja dari tadi,sambil menikmati udara yang panasnya bisa membakar kulit gini?!"tanya Syila dengan nada yang sedikit meninggi.


Devan menoleh sekilas ke arah Syila,lalu kembali menghadap ke depan.


"Iya,gue cuma lagi pingin berduaan aja sama lo"jawabnya dengan nada santai.


Duarr


Syila berdehem,ia kembali mengatur raut wajahnya agar tak terlihat senang.


"Maksud lo apa? Dengan nyuruh gue nemenin elo panas-panasan disini gitu?"tanya Syila dengan nada menyindir,"Cih,gak ada romantis-romantisnya"lanjutnya menggerutu dengan suara pelan,berharap agar Devan tak mendengarnya.


Tapi karena Devan tepat berada disampingnya,ia masih bisa mendengar jelas ucapan Syila yang terakhir.


Ia menengok kearah Syila yang sedang menatap lurus kedepan,Syila seolah-olah tak pernah mengatakan hal tadi.


Devan menghela nafas kasar.


"Lo kenapa?"tanyanya. Syila melirik sekilas.


"Nggak kenapa-kenapa"jawabnya.


"Cewek kalo bilang 'gak kenapa-kenapa' pasti ada apa-apa"ucap Devan dengan nada datar.


"Sok tau,kayak lo yang paling ngertiin cewek aja"saut Syila dengan nada menyindir. Devan menatap dalam-dalam manik mata Syila. Lalu mengarahkan tangannya untuk menyenderkan kepala Syila di pundaknya.


"Apaan sih?!"Syila sedikit memberontak,namun telapak tangan Devan masih di samping kepalanya,menahan agar tak menjauh.


"Diem"ucap Devan datar dan tegas,Syila langsung menurut.


"Lo kalo ada masalah cerita sama gue"ucap Devan setelah merasa Syila sudah tidak memberontak.


"Dibilangin gak ada apa-apa kok!"jawab Syila ketus.


"Gak. Lo kalo kayak gini,pasti ada apa-apa"ucap Devan yang masih keukeuh dengan pertanyaannya.


Syila berdecak malas,"Ck,pikir aja sendiri"


Lagi-lagi Devan menghela nafasnya kasar.


"Gue bukan cenayang Syila. Kalo gak bilang,gue mana bisa tau"


Syila segera duduk tegak dari posisi menyendernya tadi. Ia menatap Devan dengan tatapan sinis.


"Lo nya aja yang gak peka. Kalo lo  cowok lain pasti langsung tau apa yang gue permasalahin" setelah mengucapkan kata-kata tersebut,Syila segera beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Devan yang sedang memikirkan perkataan Syila tadi.


Setelah tersadar dari lamunannya,Devan segera berlari menyusul Syila yang masih berada di pintu keluar.


"Tunggu" Devan kembali mencekal pergelangan tangan Syila,yang membuat Syila menghempaskannya dengan kasar.


"Syila!!"Devan membentak,dan itu membuat Syila tersentak. Sebelumnya...Devan tau kalau Syila itu tidak bisa dibentak. Tetapi karena sudah terbawa emosi,lupa sudah semua hal itu. Syila sedikit gemetaran,tapi tak ayal tetap membalas tatapan tajam milik Devan.


"Lo apa-apaan sih?! Tolong dewasa dikit! Jangan bertingkah kekanak-kanakan. Masalah kecil aja lo besar-besarin! "ucap Devan dengan nada yang masih membentak.


"Lo yang apa-apaan!!"Balas Syila dengan nada tak kalah tinggi.


"Ini emang masalah kecil buat lo,tapi nggak buat gue. Lo mending mulai sekarang jauh-jauh deh dari gue. Eneg gue liat muka lo"lanjut Syila dengan nada sinis. Devan ingin menjawab,tapi Syila langsung buru-buru menyela.


"Dan apa tadi lo bilang? Gue kekanak-kanakkan? Heehh" Syila terkekeh sinis.


"Gue ingetin sekali lagi ya sama lo. Gue. Bukan. Syifa" ucap Syila dengan penekanan di kalimat terakhir.


"Kok malah ke Syifa sih?!"


"Ya karna lo ngomong kayak gitu!! Seolah olah lo itu banding-bandingin gue sama dia,Devan!!" Nafas Syila memburu,karena ia juga sudah terbawa emosi.


"Lo itu seolah-olah bandingin gue yang kekanak-kanakkan ini,sama Syifa yang selalu bersikap dewasa Devan! Dan gue gak suka itu!!!"setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Syila segera bergegas menuruni tangga dengan langkah yang terburu buru. Rasa-rasannya...ia ingin menangis saat itu juga. Karena sakit sekali,jika seseorang yang kita sayangi dan percaya,membanding-bandingkan kita dengan orang lain. Apa lagi di kasus ini,orang lain tersebut adalah kembarannya,orang yang juga sama-sama menyukai satu orang yang sama.


Tidak cukupkah papanya saja yang selalu membanding-bandingkannya dengan Syifa. Mengapa harus satu-satunya orang yang ia sayangi juga ikut membanding-bandingkan mereka.


~XXX~