Different

Different
Dihukum



Sesampainya di depan asrama, Sisy tidak langsung masuk karena melihat seseorang yang sepertinya sedang dirundung. Sisy mencoba mendekati dan melihat keadaannya. Dia tidak mau tiba-tiba menghampiri mereka lalu marah-marah. Saat sudah lebih dekat, barulah dia bisa mendengarnya. Sisy bersembunyi di balik dinding untuk mendengarkan pembicaraan mereka.


"Wah wah lihat siapa ini," ucap salah satu gadis.


"Bukankah ini si nona aneh itu," jawab temannya itu.


"Kenapa nona aneh ada di sini? Dimana temanmu?" tanya satu gadis lainnya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu saja dia tidak mempunyai teman karena dia aneh," jawab gadis dengan riasan sangat tebal itu.


Mereka berempat tertawa.


Gadis yang sedang dirundung itu membela diri. "Aku tidak aneh. Kalian yang aneh!"


"Apa?!" kesal salah satu dari mereka.


"Jelaskan kenapa kamu memanggil kita aneh?" tanya gadis yang riasannya tebal itu.


Gadis yang sedang dirundung itu menjawab, "Kalian merundung tapi ramai-ramai. Kalau mau merundung seseorang tuh sendiri, jangan bawa teman. Apakah kalian tidak berani? Mental dibagi-bagi ya?"


Keempat gadis itu terlihat marah saat dia mengatakan hal seperti itu. Salah satu dari mereka menarik rambut pirang gadis itu. "Berani kamu berbicara seperti itu?!"


"Beranilah. Untuk apa aku takut? Aku tidak seperti kalian yang harus beramai-ramai baru berani," jawab gadis yang rambutnya ditarik.


"Teman-teman, beri gadis manis ini pelajaran!" perintah gadis dengan riasan tebal itu.


Mereka berempat mulai melakukan kekerasan pada gadis berambut pirang itu. Sisy pun langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan menolong gadis itu. "Hei lepaskan dia!"


Mereka menoleh ke arah Sisy.


"Wah siapa ini?" tanya gadis yang sedang menarik rambut pirang itu.


"Bukankah dia adalah nona Garcia," jawab temannya.


"Nona Garcia? Yang sedang dibicarakan orang-orang itu?" tanyanya lagi.


"Iya," jawab temannya.


"Jadi ada apa gadis sok polos itu ada di sini?" tanya gadis yang riasannya tebal.


"Sepertinya dia ingin menambah panggilan baru menjadi gadis pahlawan hahaha," jawab salah satu dari mereka.


Salah satu dari keempat gadis itu mendekati Sisy. "Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Lepaskan gadis itu!" perintah Sisy.


"Kalau aku tidak mau?" tanyanya.


"Maka aku akan menariknya paksa dari sini." Sisy menghampiri gadis berambut pirang itu dan menarik tangannya tapi mereka menahan Sisy dan gadis itu.


"Siapa yang bilang kalau kamu bisa membawanya?" tanyanya pada Sisy.


"Sudah dibilang kalau aku akan membawanya secara paksa kalau kalian tidak ingin melepaskannya," jawab Sisy.


Gadis itu menatap tajam ke arah Sisy. "Sepertinya backinganmu kuat ya. Karena kamu berani menantang kami."


"Untuk apa juga aku takut? Seperti kata gadis ini, kalian aneh karena merundung seseorang beramai-ramai," balas Sisy.


"Beraninya kamu!" Gadis itu langsung menarik rambut Sisy dan melemparnya sampai tubuhnya menabrak dinding. Gadis yang lainnya menahan Sisy agar tidak bisa kabur atau melawan.


"Dengar baik-baik ya, aku adalah Riana, anak dari pengusaha terkenal. Ayahku memiliki banyak koneksi!" sombongnya.


Sisy menatap remeh padanya. "Lalu?"


Gadis itu geram mendengar respon singkat Sisy. "Aku bisa dengan mudah membuat hidupmu menderita!"


"Hidupku sudah menderita tanpa harus kamu buat menderita," balas Sisy santai.


"Maka aku akan membuatmu lebih menderita sampai merasa lebih baik untuk mati," ucapnya.


"Ya ya ya," jawab Sisy terkesan menyebalkan.


Karena sudah sangat kesal, gadis itu menampar pipi Sisy sangat keras. Tamparan itu meninggalkan bekas merah di pipi mulus Sisy. Tidak hanya itu, gadis yang bernama Riana itu menarik rambut Sisy lagi sampai kepala Sisy mengadah ke atas. "Minta ampun sekarang atau aku akan melakukan hal yang lebih jauh dari ini!"


"Minta ampun? Aku tidak sudi!" Sisy melepaskan diri dengan mudah dari orang-orang yang menahan tangannya.


Dia mulai membalas perbuatan Riana. Mereka pun terus bertengkar. Gadis berambut pirang yang dibelanya tadi mencoba untuk membantunya tapi secara tidak sengaja dia terkena pukulan Riana.


Mereka terus saling melayangkan pukulan sampai sebuah suara menginterupsi mereka semua. "Berhenti!"


Mereka menoleh ke arah sumber suara dan melihat profesor McGonagall dengan ekspresi marahnya. "Apa yang kalian lakukan?! Kalian sangat tidak mencerminkan seorang gadis!" ucap profesor McGonagall marah.


"Kalian semua ke ruangan saya, sekarang!" perintah profesor McGonagall.


Mereka mengikuti profesor McGonagall ke ruangannya.


"Sekarang saya minta salah satu dari kalian untuk menjelaskan apa yang telah terjadi!" perintahnya.


Dengan cepat, Riana mengangkat tangannya.


Profesor McGonagall mempersilakan Riana untuk menjelaskannya. "Baiklah, nona Riana. Silakan."


Riana mulai menjelaskan, "Saya dan teman-teman saya ingin mengajak nona Lovegood bermain tapi nona Garcia tiba-tiba saja datang dan menarik rambut saya."


"Apa?! Itu tidak benar, profesor McGonagall!" sanggah Sisy dengan cepat.


"Saya belum mengizinkan anda untuk bicara, nona Garcia," ucap profesor McGonagall.


Sisy mendengus kesal.


"Lanjutkan!" perintah profesor McGonagall pada Riana.


Riana mulai melanjutkan cerita karangannya itu. "Saat saya bertanya pada nona Garcia kenapa dia tiba-tiba menarik rambut saya, nona Garcia malah menampar pipi saya. Teman-teman saya berusaha menolong tapi mereka juga ikut kena."


"Baiklah. Sekarang saya akan bertanya pada nona Lovegood. Apakah yang dikatakan oleh nona Riana itu benar?" tanya profesor McGonagall pada Luna.


Dia menggeleng.


"Bisa tolong ceritakan," pinta profesor McGonagall.


Luna mengangguk dan mulai menceritakannya, "Mereka berempat tiba-tiba menarik saya ke tempat sepi dan merundung saya di sana. Untunglah nona Garcia datang dan menolong saya. Nona Garcia bertengkar dengan mereka berempat untuk menolong saya jadi nona Garcia tidak bersalah, profesor McGonagall."


"Yang memutuskan nona Garcia bersalah atau tidak adalah saya, nona Lovegood. Sekarang saya beri kesempatan pada nona Garcia untuk menceritakan dalam sudut pandang nona Garcia," ujar profesor McGonagall.


Sisy mulai menceritakannya menurut sudut pandangnya. "Tadi saya ingin masuk ke asrama tapi secara tidak sengaja saya mendengar suara ribut dan menghampirinya. Saya melihat keempat gadis itu merundung nona Lovegood. Mereka menghina nona Lovegood dan melakukan kekerasan padanya. Saya berusaha menolong nona Lovegood tapi keempat gadis itu malah menyerang saya dan yah seperti yang profesor McGonagall lihat tadi. Kami bertengkar."


Profesor McGonagall menggelengkan kepala dan memijat pelipisnya. "Kalian sudah besar tapi tidak bisa menyelesaikan masalah tanpa bertengkar seperti tadi. Nona Riana bukankah anda tau kalau perundungan di sekolah ini sangat dilarang dan hukumannya akan sangat berat."


"Maaf, profesor McGonagall," ucap Riana.


"Beruntung nona Garcia menghentikan anda sebelum anda bertindak lebih jauh tapi cara nona Garcia menghentikan anda juga salah," sambung profesor McGonagall.


"Nona Garcia hanya melindungi diri, profesor McGonagall," bela Luna.


Profesor McGonagall menatap tajam ke arah Luna. "Saya tidak mengizinkan siapapun untuk bicara, nona Lovegood."


"Maaf..." lirih Luna.


"Nona Lovegood, anda kembalilah ke asrama!" perintah profesor McGonagall.


"Bagaimana dengan nona Garcia?" tanya Luna.


"Nona Garcia harus di sini bersama yang lain. Saya akan memikirkan hukuman yang tepat untuk mereka," jawab profesor McGonagall.


"Ta—"


"Tidak boleh membantah, nona Lovegood!" potong profesor McGonagall.


"Baik, profesor McGonagall." Gadis berambut pirang itu pun pergi. Sebelum pergi, dia menatap Sisy dengan perasaan bersalah. Sisy yang menyadari tatapan gadis itu pun tersenyum padanya seakan berkata kalau dia baik-baik saja.


"Sekarang kalian bersihkan kamar mandi wanita!" perintah profesor McGonagall.


"Kamar mandi wanita?! Yang ada hantu gadis berkacamata itu? Saya tidak mau," tolak Riana.


"Anda tidak bisa menolak. Ini adalah hukuman!" tegas profesor McGonagall.


"Hantu itu sangat menyebalkan, profesor." Riana masih terus menolaknya.


"Saya sudah mencoba meringankan hukuman bagi anda. Jadi lebih baik anda patuhi itu atau saya terpaksa memanggil kedua orang tua anda," ancam profesor McGonagall.


"Ja-jangan panggil orang tua saya." Mendengar ancaman dari profesor McGonagall, membuat Riana takut.


"Kalau begitu selesaikan dengan baik," ucap profesor McGonagall.


"Iya, profesor McGonagall," jawab mereka.


"Jangan coba-coba untuk tidak mengerjakannya karena saya bisa melihatnya dari bola sihir!" peringat profesor McGonagall.


Mereka pun pergi ke kamar mandi wanita untuk mengerjakan hukuman mereka.