
"Sisy," panggil seseorang.
Sisy menoleh ke arah sumber suara. "Draco? Kenapa kamu ada di sini?"
"Aku menunggumu. Ada hal yang ingin aku bicarakan," kata Draco sambil menggenggam tangan Sisy.
Harry melepaskan tangan Draco dari tangan Sisy. "Jangan sekarang, Malfoy. Sisy butuh istirahat."
Mendengar itu, raut wajah Draco nampak kecewa. "Ah iya, aku lupa. Kalau begitu nanti saja kita bicaranya."
"Tidak. Kita bicara sekarang," ucap Sisy.
"Tapi Si—"
"Aku dan Draco hanya mengobrol, Harry. Kamu kembalilah duluan ke asrama, aku akan menyusul," potong Sisy.
"Bagaimana kalau Hermione dan Ron bertanya?" tanya Harry.
"Jawab saja kalau aku masih berbicara dengan profesor Dumbledore," jawab Sisy.
"Kamu tidak ingat yang profesor Dumbledore katakan tadi?" Harry masih berusaha untuk melarang Sisy.
Draco juga mencoba membujuk Sisy agar dia mau kembali ke asramanya dan beristirahat. "Tidak apa-apa, Sisy. Kita bicarakan lain kali."
"Tidak, Draco. Kita harus bicara sekarang. Lagi pula ada yang harus aku bicarakan juga denganmu," ucap Sisy.
"Jangan keras kepala, Sisy!" tegas Harry.
"Kumohon, Harry. Hanya sebentar," pinta Sisy dengan mata memelas.
Kalau Sisy sudah seperti ini, Harry tidak bisa menolaknya lagi. "Baiklah, tapi hanya sebentar oke?"
Sisy mengangguk cepat. "Iya. Terima kasih, Harry."
"Jaga Sisy baik-baik, Malfoy!" perintah Harry pada Draco.
"Pasti, Potter!" jawab Draco tegas.
Harry pun kembali ke asrama duluan.
"Ayo kita ke danau," ajak Sisy.
Sisy menggenggam tangan Draco dan membawanya pergi ke danau.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan, Draco?"
"Kamu dulu."
"Iya?"
"Tadi kamu bilang kalau ada hal yang ingin kamu bicarakan juga."
"Maaf..." lirih Sisy.
Dahi Draco mengkerut saat mendengar permintaan maafnya.
"Maaf karena membuatmu khawatir. Saat aku keluar, aku melihat raut wajahmu yang sangat khawatir," sambungnya.
Draco diam.
"Maaf juga karena aku menolak saat kamu ingin menggendongku," ucap Sisy lagi.
Draco terkekeh. "Itu tidak masalah. Lagi pula kamu juga menolak Potter dan Weasley."
Sisy langsung menatap ke arah Draco. "Jadi kamu tidak marah soal aku menolak untuk digendong?"
"Iya sayang," jawab Draco sambil tersenyum manis.
Rona merah timbul di wajahnya saat Draco memanggilnya sayang
"Jadi kali ini bagaimana caranya kamu tau kalau Harry dan yang lainnya dalam bahaya?" tanya Draco.
Sisy mencoba menghindarinya. "Bisakah aku tidak menjawabnya?"
"Tentu, kalau kamu ingin tidak bicara lagi denganku," jawabnya.
Mata Sisy mendelik. "Kok gitu?!"
"Kamu tidak ingin menceritakannya karena kamu tidak mempercayaiku, kan? Lalu untuk apa kita berbicara lagi kalau kamu tidak percaya denganku," balas Draco.
"Bukan gitu," cicit Sisy.
"Aku tau kalau kamu pasti berpikir aku adalah pemaksa tapi aku mengkhawatirkanmu. Aku harus tau bagaimana kamu bisa mengetahui hal itu. Belum lagi kamu bertemu dengan pangeran kegelapan saat menyelamatkan mereka semua. Sekarang kamu selamat tapi bagaimana lain kali?"
"Aku pasti juga se—"
"Kita tidak bisa memastikan itu."
Draco menggenggam tangan Sisy dan menatapnya. "Aku tidak mau melihatmu dalam bahaya lagi. Kalau kamu memang tidak ingin memberitahuku darimana kamu mengetahuinya, setidaknya tolong beritahu aku kalau ada hal bahaya yang terjadi lagi."
Sisy mengangguk.
Draco melepaskan genggamannya dan memeluk Sisy.
Setelah beberapa lama memeluk Sisy, Draco pun melepaskan pelukannya.
"Ayo kita kembali ke asrama. Aku akan mengantarkanmu," ajak Draco.
"Sebentar lagi, please , pinta Sisy.
"Tidak, Sisy. Ingat kata Potter tadi? Hanya sebentar dan kamu menyetujui itu," tolaknya.
"Aku masih ingin mengobrol denganmu," ucap Sisy.
"Masih ada hari esok, sayang," balas Draco.
Sisy menundukkan kepalanya dan memainkan jari-jari tangannya. "Aku akan sibuk setelah pemulihanku selesai."
Draco mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"
"Aku ada kelas tambahan," jawab Sisy.
"Bukankah nilaimu selalu bagus?" tanyanya heran.
Sisy diam.
Draco mengganti pertanyaannya karena nampaknya Sisy tak mau menjawabnya. "Oke kamu tidak perlu menjawabnya. Jadi berapa lama kelas tambahan itu?"
"Aku tidak tau," jawab Sisy.
Draco mengangguk. "Kalau begitu kita masih bisa bermain saat liburan."
Hening. Tidak ada percakapan lagi di antara mereka berdua.
"Ayo kita kembali ke asrama," ucap Draco memutus keheningan.
"Ta—"
"Aku tidak ingin membuat kesan yang buruk dengan temanmu," potong Draco.
Sisy menatap sendu ke arah Draco. "Maaf."
"Tidak apa-apa. Kita bisa bermain setelah kelas tambahanmu selesai," jawabnya sambil tersenyum.
Draco pun mengantarkan Sisy ke asramanya.
Setelah pemulihan selesai, Sisy mulai belajar dengan profesor Dumbledore. Setiap kelas selesai, dia akan langsung ke ruangan profesor Dumbledore untuk melakukan kelas tambahan itu. Terkadang Harry, Hermione, dan Ron ikut menemaninya.
Tak terasa waktu pun cepat berlalu, sudah waktunya bagi para murid Hogwarts untuk kembali ke rumah masing-masing karena libur telah tiba.
"Kamu benar-benar tidak akan pulang ke rumah?" tanya Hermione.
"Iya," jawab Sisy.
Harry ikut bertanya, "Bukankah profesor Dumbledore mengizinkanmu untuk pulang?"
Sisy mengangguk dan menjawab, "Iya tapi aku ingin cepat-cepat selesai. Jadi aku sengaja tidak pulang."
"Charles dan Shopia akan khawatir," ucap Ron.
"Aku sudah mengirim surat pada mereka. Mereka pasti mengerti karena aku bilang ada kelas tambahan," balas Sisy.
"Pulanglah walaupun hanya satu hari, Sisy." Harry masih berusaha untuk membujuk Sisy agar dia pulang ke rumah.
Namjn Sisy tetap menolaknya. "Tidak, Harry. Setelah melihat Charles dan Shopia, aku akan malas untuk kembali ke Hogwarts."
"Tidak masalah. Profesor Dumbledore juga tidak keberatan," tutur Ron.
"Aku yang keberatan, Ron," jawab Sisy.
"Si—"
"Aku harus bisa mengendalikan emosiku secepatnya, teman-teman. Kita tidak tau kapan pangeran kegelapan akan datang lagi dan aku belum melihat masa depan lagi akhir-akhir ini," potong Sisy.
Hermione pun memeluk Sisy. "Kirimkan kami surat juga."
Sisy membalas pelukan Hermione. "Pasti."
Mereka berempat pun berpelukan sampai seseorang merecoknya.
"Ada apa bocah Slytherin ke sini?" ketus Ron.
"Ron!" tegur Sisy.
Sisy pun bertanya pada Draco. "Ada apa, Draco?"
"Kita belum mengumpulkan niffler, Sisy." kata Draco.
Sisy menepuk dahinya. "Astaga, aku lupa."
"Kamu belum mengumpulkan niffler itu, Sisy?" tanya Hermione.
"Belum. Aku benar-benar lupa, Hermione." jawab Sisy.
"Kalau begitu cepatlah kumpulkan niffler itu," ucap Harry.
Sisy mengangguk.
"Ayo kita ke tuan Scamander sekarang." Sisy dan Draco pergi ke ruangan Newt. Mereka memberikan niffler yang telah mereka rawat selama 3 bulan ini.
"Niffler milik kalian sangat sehat. Sepertinya kalian merawatnya dengan sangat baik. Bagus nona Garcia dan Draco. Saya beri 100 poin untuk kalian," puji Newt.
"Terima kasih, tuan Scamander," ucap mereka berdua.
"Umm tuan Scamander, saya penasaran dengan niffler milik kelompok Harry dan Hermione. Bolehkah saya melihatnya?" tanya Sisy.
"Niffler milik mereka benar-benar kacau," ucap Newt sambil memijat pelipisnya.
Sisy mengernyitkan keningnya. "Ada apa?"
Newt memperlihatkan niffler milik kelompok Harry dan Hermione. Seperti yang dikatakan oleh Newt, niffler milik kelompok Harry dan Hermione sangatlah kacau.
"Kenapa niffler milik mereka seperti ini?!" tanya Sisy terkejut saat melihat niffler itu.
"Untuk niffler milik kelompok Harry, Harry mengatakan kalau dia kadang lupa memberinya makan tapi saya yakin kalau itu bukanlah kadang-kadang," jawab Newt.
Sisy mengangguk paham. "Ah ya saya bisa mengerti. Harry memang tidak cocok memiliki hewan peliharaan seperti ini karena dia suka lupa memberinya makanan. Hedwig saja suka lupa diberi makanan olehnya. Lalu bagaimana dengan niffler milik kelompok Hermione? Kenapa miliknya juga separah ini?"
"Saya juga tidak tau kenapa niffler milik nona Granger dan nona Parkison separah ini. Padahal saya kira mereka bisa mendapatkan poin 100 di tugas kali ini."
"Sepertinya Pansy melakukan sesuatu pada niffler ini," celetuk Draco.
"Kamu tidak boleh berprasangka buruk pada nona Parkison, Draco. Walaupun aku yakin kalau ini bukanlah salah Hermione tapi tetap saja kita tidak boleh berpikiran buruk pada nona Parkison," bela Sisy.
"Pansy tidak menyukai hewan kecil seperti ini, Sisy. Dia menganggap kalau hewan kecil itu merepotkan jadi...tidak sekali atau dua kali Pansy menyiksa hewan-hewan kecil," tutur Draco.
"Apakah niffler-niffler ini bisa disembuhkan, tuan Scamander?" tanya Sisy sambil menatap hewan itu dengan iba.
"Tentu saja. Walaupun akan sedikit sulit mengingat keadaan niffler-niffler ini cukup parah tapi saya akan mengusahakan yang terbaik," jawab Newt.
Mendengar jawaban dari Newt, Sisy merasa lega. "Syukurlah."
"Omong-omong kenapa anda tidak bertanya tentang niffler milik Ron? Bukankah kalian berteman?" tanya Newt pada Sisy.
"Ah saya sudah tau keadaan niffler milik Ron. Pasti lebih parah dari milik Harry dan Hermione," jawab Sisy acuh.
"Anda salah besar nona Garcia. Justru niffler milik kelompok Ron lebih baik dari Harry dan nona Granger. Walaupun niffler miliknya juga sakit." Newt menunjukkan niffler milik kelompok Ron.
"Huh? Bagaimana bisa niffler milik kelompok Ron lebih baik daripada niffler milik kelompok Hermione?" tanya Sisy heran.
"Saya juga tidak tau," jawab Newt.
"Jarang sekali anak itu merawat hewan peliharaan dengan baik," gumam Sisy.
Newt mengangguk setuju. "Maka dari itu saya sangat terkejut. Mungkin Ron merawatnya dengan sepenuh hati ya walaupun niffler ini tidak sehat sepenuhnya."
"Kalau begitu saya dan Sisy pamit keluar," ucap Draco.
"Ah iya silakan. Sekali lagi kerja bagus, anak-anak dan selamat menikmati liburan kalian," balas Newt.
Sisy dan Draco keluar dari ruangan Newt.