Different

Different
Liontin Slytherin



Keesokan harinya, Charles sengaja memesan tempat bermain untuk mereka bertiga gunakan. Di sana mereka benar-benar bermain sampai puas karena tak terhalang waktu dan antrian.


Sampai tak terasa waktu berjalan dengan cepat, hari sudah gelap dan ini waktunya mereka untuk pulang beristirahat.


Pagi harinya, Sisy bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan untuk kedua kakaknya itu.


"Sisy?" Shopia datang sambil mengucek matanya. Dia terbangun karena mendengar suara berisik dari dapur.


"Maaf karena membangunkanmu, Shopia. Aku sengaja bangun lebih awal supaya bisa menyiapkan sarapan untuk kalian berdua," jawab Sisy.


"Padahal kamu tak perlu melakukan itu, Sisy," ucapnya.


"Tidak apa-apa," balas Sisy.


"Kalau begitu aku akan membangunkan Charles dan kita makan bersama ya," kata Shopia.


Sisy mengangguk. Shopia langsung pergi ke kamarnya dan membangunkan suaminya yang masih tertidur pulas.


Setelah Charles bangun, mereka bertiga mulai makan bersama dan berbincang santai.


"Sisy, ayo kita ke tempat makan yang di ujung kota. Aku dengar makanan di sana sangat enak dan tempatnya juga cantik," ajak Shopia.


"Shopia, aku harus pergi," tutur Sisy dengan suara lembut.


Shopia melupakan hal itu. "Ah iya, aku lupa."


"Kita pergi lain kali ya?" tawar Sisy.


"Lain kali itu kapan?" tanyanya.


"Setelah semuanya selesai," jawab Sisy.


"Kamu janji, kan?" tanya Shopia.


Ada perasaan berat di hatinya tapi Sisy berusaha untuk mengangguk. "Aku janji, Shopia."


Saat ini dia harus menenangkan hati ibu hamil yang satu itu. Mereka melanjutkan makanannya. Selesai makan, Sisy mulai bersiap-siap untuk pergi.


"Jaga dirimu baik-baik," ucap Charles.


"Kalian juga. Jaga kesehatan dan untuk Shopia jangan memikirkan hal lain. Fokus saja pada kehamilanmu itu!" peringat Sisy.


"Kamu pasti akan pulang, kan?" tanya Shopia untuk yang kesekian kalinya.


"Iya Shopia. Aku akan pulang dan melihat keponakanku yang menggemaskan," jawabnya.


Sisy pun memeluk kedua kakaknya itu dan pergi.


Tak membutuhkan waktu yang lama, Sisy sampai di Hogwarts. Teman-temannya terlihat sudah menunggunya.


Sisy segera menghampiri mereka dan tiba-tiba saja Harry mengelus kepalanya. "Kita akan menyelesaikan ini secepatnya agar kamu bisa melihat keponakanmu sebelum dia lahir."


Sisy mengangguk.


"Nona Garcia," panggil seseorang.


Sisy menoleh ke sumber suara. Dia sangat terkejut ketika melihat Queenie, Jacob, Tina, dan Joan datang.


"Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Sisy.


"Kami dengar anda akan pergi jadi kami datang ke sini," jawab Tina.


Joan memegang tangannya. "Sisy mau pergi kemana? Joan boleh ikut tidak?"


"Aku harus pergi ke tempat yang jauh dan Joan tidak boleh ikut," jawab Sisy.


Anak kecil itu menunjukkan raut wajah kecewa. "Yah kenapa? Joan bisa menjaga Sisy nanti."


Sisy tersenyum dan mengelus kepala anak kecil itu. "Lain kali ya? Saat Sisy pulang, ayo kita jalan-jalan ke tempat yang indah."


Joan mengangguk. "Sisy janji ya?"


"Janji."


"Saya harap anda selalu baik-baik saja dimanapun anda berada, nona Garcia," ujar Jacob.


"Sayang, jaga dirimu baik-baik di luar sana ya," timpal Queenie.


"Iya. Terima kasih tuan dan nyonya Kowalski," jawab Sisy.


"Anda akan datang di pernikahan saya nanti, kan?" tanya Tina menatap harap ke Sisy.


Sangat sulit menjawab pertanyaan yang satu ini tapi Sisy tetap mengangguk. "Iya, nona Tina."


"Anda sudah berjanji ya? Tidak boleh diingkari!" peringat Tina.


"Iya," jawab Sisy.


"Semoga kalian semua berhasil. Maaf karena aku ti—"


Sisy langsung memotong ucapan Newt yang selalu diucapkan itu. "Saya mengerti, anda harus tetap berada di sini karena itulah saya meminta anda yang mengurus horcrux yang ada di sini."


"Saya akan menemukannya dan menghancurkannya," ucap Newt.


"Saya percayakan pada anda," balas Sisy.


"Maaf karena memberikan tugas berat ini pada anda, nona Garcia," tutur profesor Dumbledore merasa bersalah.


"Tidak masalah. Lagi pula hanya saya yang mengetahui bentuk horcrux itu," jawab Sisy.


Profesor Dumbledore menatap mereka bertiga. "Jaga diri kalian, anak-anak."


Sisy dan yang lainnya pun pergi dan memulai perjalanan mencari horcrux. Tujuan pertama mereka adalah pergi ke Kementerian Sihir untuk mengambil liontin Slytherin yang berada pada profesor Umbridge.


Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka sampai di Kementerian Sihir. Tempat dimana profesor Umbridge berada.


"Sekarang ayo minum ramuan yang diberikan oleh tuan Scamander ini." Sisy memberikan ramuan itu kepada Harry, Hermione, dan Ron.


Mereka berempat pun meminumnya.


"Ramuan apa ini?! Sama saja tidak enak," keluh Ron.


"Setidaknya ini lebih baik daripada ramuan yang Hermione buat," sahut Harry.


"Jangan menghina ramuan milikku!" ketus Hermione.


Wajah mereka berdua pun mulai berubah menjadi seperti karyawan yang bekerja di Kementerian Sihir.


"Ayo kita masuk dan cari profesor Umbridge," ajak Sisy.


Mereka masuk dan berjalan selayaknya orang yang bekerja di sana.


"Omong-omong, ayah dan ibu menitipkan surat untukmu padaku," ucap Ron sambil memberikan surat pada Sisy.


Sisy menerima surat itu dan memasukkannya ke dalam kantongnya. "Terima kasih."


"Kenapa paman Arthur dan bibi Molly tak datang tadi?" tanya Harry.


"Mereka harus menahan George dan Fred yang sedang mengamuk," jawab Ron.


"George dan Fred mengamuk?! Ada apa?" tanya Hermione terkejut.


Ron mengangguk. "Saat mendengar kalau Sisy menjadi anggota orde phoenix dan menjalankan misi berbahaya ini, mereka berdua seperti orang kerasukan. Padahal aku juga ikut menjalankan misi ini tapi mereka tak mempedulikannya." Dia menghela nafasnya. "Semuanya memang lebih sayang pada Sisy dibandingkan aku."


Sisy tertawa mendengarnya. "Hahaha jangan berkecil hati Ron. Aku menyayangimu lebih dari siapapun."


"Benarkah?!" tanya Ron dengan mata berbinar.


"Bohong. Tentu saja aku paling sayang pada ayah dan ibuku," jawab Sisy.


"Setelah itu aku?" tanya Ron lagi.


Sisy menggeleng. "Tidak. Setelah itu Charles dan Shopia."


"Habis mereka aku?" tanyanya lagi.


Sisy berpikir sejenak lalu menjawabnya. "Hmm Hermione dan Ginny."


"Entahlah," jawab Sisy santai.


"Menyebalkan!" kesal Ron.


Mereka mengobrol sampai lupa tujuan awal mereka datang ke sini, mencari profesor Umbridge.


"Berhenti mengobrol. Kita harus mencari profesor Umbridge!" peringat Hermione.


Mereka mulai fokus lagi mencari keberadaan profesor Umbridge. Saat profesor Umbridge ketemu, mereka menjalankan rencana yang sudah dibuat sebelumnya.


Tak butuh waktu yang lama, mereka berhasil mendapatkan liontin Slytherin itu. Sisy, Harry, Hermione, dan Ron bergegas keluar dari sana sebelum ada masalah lain yang terjadi.


Mereka pergi ke arah hutan untuk beristirahat. Di sana Harry dan Ron membangun tenda untuk mereka bermalam. Sedangkan Sisy dan Hermione sedang duduk dan memikirkan bagaimana cara menghancurkan liontin Slytherin itu.


"Bagaimana cara menghancurkannya? Kita sudah mencobanya dengan sihir tapi liontin ini tak kunjung hancur," ujar Hermione.


Ya, sebelumnya mereka semua sudah mencoba menghancurkan liontin Slytherin itu dengan sihir bahkan Sisy sendiri turun tangan untuk mencoba menghancurkan liontin itu dengan sihirnya tapi masih tak hancur juga.


"Istirahatlah dulu. Nanti kita pikirkan lagi bersama-sama," ucap Harry.


Sisy mengangguk. Dia juga sudah lelah sekarang.


"Sini aku yang simpan liontinnya," pinta Ron.


Sisy memberikan liontinnya pada Ron. Dengan senang hati, Ron menerimanya dan memakainya. "Cantik juga liontin Slytherin ini."


"Kalian masuklah ke tenda. Tempat tidurnya sudah kami siapkan," kata Harry.


"Lalu bagaimana dengan kita, Harry?" tanya Ron.


"Kita harus berjaga. Tidak mungkin kita juga tidur di saat mereka tidur," jawab Harry.


Mata Ron membelalak tak percaya. Bisa-bisanya Harry tak memikirkan nasib mereka berdua.


"Terima kasih, Harry," ucap Sisy.


"Hei aku juga bermalam bersamanya," tutur Ron tak terima karena tidak mendapatkan ucapan terima kasih juga.


Sisy hanya berdehem menyahutnya. Sisy dan Hermione masuk ke tenda dan tidur untuk memulihkan tenaga.


Sekitar jam 2 pagi, terdengar suara berisik dari luar tenda. Sisy dan Hermione sampai terbangun dan keluar dari tenda untuk melihat suara berisik apa yang menganggu waktu tidur mereka. Betapa terkejutnya mereka berdua saat melihat Ron sedang menghajar Harry. Mereka langsung lari ke arah Harry dan Ron.


"Bajingan!" Ron terus memukul Harry sambil mengeluarkan kata-kata kasar.


"Hentikan Ron!" teriak Hermione melindungi Harry.


"Hey! What's wrong with you?!" tanya Sisy sambil menahan Ron yang hendak menghajar Harry lagi.


"Dia benar-benar pria tak tau malu!" hinanya.


"Apa maksudmu?" tanya Sisy tak mengerti.


"Tidak hanya melakukan itu dengan Hermione, dia juga melakukannya denganmu Sisy," jawab Ron dengan nafas terengah-engah.


"Melakukan apa? Aku tidak mengerti," tanya Sisy lagi.


"Berciuman," jawab Ron singkat.


"Jangan bicara sembarangan, Ron. Aku dan Harry tidak mungkin melakukan itu," sanggah Hermione.


"Jangan berbohong Hermione. Aku melihatnya sendiri," balas Ron.


"Kami dari tadi tidur di dalam tenda dan kamu bersamanya terus," sambung Hermione.


"Jangan terus mengelaknya. Oh jangan-jangan kamu sendiri juga mau melakukannya ya? Dasar gadis murahan!" hina Ron pada Hermione.


Hermione menangis saat mendengar hinaan yang sangat menyakitkan itu.


Melihat Hermione yang menangis karena ucapan temannya itu, Sisy pun mencekram kerah bajunya. "Cukup bodoh!Berani-beraninya kamu berkata kasar seperti itu pada Hermione?!"


"Jangan sentuh aku!" ucap Ron sambil menampar pipi Sisy.


Harry dan Hermione sangat terkejut melihat perbuatan Ron pada Sisy.


Sisy memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh teman sejak kecilnya itu. "Kamu gila?! Berani-beraninya kamu menampar pipiku!"


Ron mendorong Sisy sampai dia terjatuh ke tanah. Harry dan Hermione langsung menghampiri Sisy dan membantunya berdiri.


"Dimana aku? Kenapa Hermione menangis dan...Sisy?! Apa yang terjadi dengan pipimu? Siapa yang berani menamparmu?" tanya Ron yang tiba-tiba saja berubah dari yang tadi.


Harry menatap ke arahnya aneh. "Ron?"


"Apa?" tanya Ron menatap Harry.


"Ini benar kamu?" tanya Harry.


"Iya. Ini aku, Ron Weasley," jawab Ron.


Sisy melihat benda yang ada di tangannya itu. Ternyata liontin Slytherin yang dipakai oleh Ron tak sengaja terlepas.


"Sepertinya liontin ini mengendalikan Ron. Itulah mengapa dia bersikap sangat menyebalkan tadi," ucap Sisy sambil menunjukkan liontin Slytherin yang terlepas itu.


"Apa? Aku dikendalikan oleh liontin itu?" tanya Ron.


"Iya. Kamu membuat Hermione menangis karena ucapanmu," jawab Harry.


Ron segera mendekati Hermione dan memegang tangannya. "Aku benar-benar tidak tau Hermione. Maafkan aku."


"Aku tidak masalah tapi kamu menampar Sisy dan mendorongnya hingga jatuh, Ron," ucap Hermione.


Ron langsung beralih ke Sisy dan memeluknya. "Sisy, maafkan aku. Padahal aku sudah berjanji akan menjagamu tapi aku malah menyakitimu."


Sisy melepaskan pelukan Ron. "Sudahlah. Kau itu memang bodoh jadi mudah dikendalikan oleh sesuatu."


Ron merebut liontin Slytherin itu dari tangan Sisy. "Gara-gara liontin ini, aku menyakiti dua gadis yang aku sayangi."


Ron mengambil pedang Gryffindor dan memukulnya ke liontin Slytherin itu. Liontin itu pun hancur dengan sekali pukulan pedang. Sisy dan Hermione terkejut karena ternyata liontin itu bisa hancur dengan pedang Gryffindor.


"Akhirnya bertambah satu lagi horcrux yang hancur," ucap Harry lega.


"Yah tidak sia-sia pipiku ditampar olehnya," kata Sisy sambil memegang pipinya yang berdenyut.


Ron merasa sangat bersalah. "Maaf Sisy."


"Aku memaafkanmu kali ini tapi kalau kau berani menamparku lain kali, maka aku tidak akan memaafkanmu. Lalu jangan berani-beraninya kamu mengatakan hal kasar pada Hermione lagi!" peringat Sisy.


Ron mengangguk cepat. "Iya. Aku janji."


Sisy pun tersenyum. Harry yang melihatnya tersenyum juga ikut tersenyum. "Aku senang kita kembali lagi seperti dulu."


"Aku memang sangat kecewa pada kalian tapi rasa sayangku pada kalian lebih besar dari kekecewaan itu," kata Sisy sambil tersenyum ke mereka semua.


Hermione menatap sendu ke arah Sisy dan memeluknya. "Maaf."


Sisy mengelus punggung Hermione. "Tidak apa-apa. Aku mengerti kalian seperti itu karena terlalu mengkhawatirkanku."


"Akhirnya kamu sadar juga," celetuk Ron.


"Tapi perbuatanmu saat itu benar-benar menyebalkan. Bisa-bisanya kamu memaksanya untuk memutuskan aku!" ketus Sisy.


"Ta—"


"Cukup Ron. Saat itu kamu memang salah. Tidak sepantasnya kamu berbuat hal seperti itu," potong Harry.


Ron pun menunduk. "Iya iya, aku tau kalau itu salah. Maaf."


Sisy mengangguk. "Kalau begitu ayo kita lanjut jalan."


"Kamu tidak lanjut tidur? Masih ada beberapa jam lagi sampai matahari terbit," tanya Harry.


"Tidak. Aku sudah tidak lelah," jawabnya.


"Baiklah. Ayo kita rapikan dulu tendanya," ucap Harry.


Mereka bekerja sama merapikan tenda dan lanjut jalan mencari horcrux lainnya.