Different

Different
Bab 3



Tepat setelah kejadian tersebut usai. Bel masuk berbunyi nyaring,yang membuat para siswa siswi tadi yang berkumpul,bubar seketika.


Maura dan kacung-kacungnya juga sudah pergi sedari tadi. Tinggal Devan dkk yang masih berada di kelas Syila.


"Loh Van? Lu gak ke kelas?"tanya Syila yang menyadari bahwa Devan masih duduk disampingnya. Masalahnya teman sebangku Syila ingin duduk juga,dan sekarang dia sedang berdiri di samping meja belakangnya,menunggu Devan beranjak


"Nggak"jawabnya singkat. Syila melirik Mocca--teman sebangkunya--yang sedang berdiri dengan gelisah,takut-takut gurunya masuk cepat dan dia masih berdiri. Karena pak Tyo--guru mapel sekarang--kalau masih melihat anak didiknya yang masih berdiri atau berkeliaran,tak segan segan menghukumnya dan mengurangi nilai tugasnya,tak peduli apapun itu alasannya.


"Lu mendingan keluar deh"bujuk Syila,tetapi Devan malah memainkan hpnya. Syila menggaruk kepalanya bingung,ia melirik Agil yang berdiri di sampingnya.


"Gil,ajak bos lu keluar sana! Tuh temen gue mau duduk"bisik Syila kepada Agil. Tapi karena Devan duduk tepat di sebelah Syila,jadi ia masih bisa mendengar bisikkan Syila kepada Agil.


"Gak berani gue Syil"bisik Agil sambil meringis,karena takut mendapat tatapan tajam dari Devan.


"Duhhh..."Syila menengok ke arah Devan."Van,nanti istirahat lo kesini lagi deh. Janji gue bakal temenin lo istirahat. Tapi sekarang lo cabut dulu. Takut pak Tyo liat lu disini dan elu malah dihukum"bujuk Syila dan akhirnya Devan mengangguk. Syila pun bernafas lega.


"Tapi pulang bareng"ucapnya sebelum beranjak keluar.


****** gue...


***


Teet...teet...teet...


Bel berbunyi 3 kali menandakan waktu istirahat telah tiba. Syila segera membereskan buku-bukunya yang berserakan di atas meja,lalu segera menghampiri kedua temannya.


"Kantin kuy"


Tika dan Sera menoleh sekilas,lalu kembali membereskan buku-buku mereka.


"Lu gak inget?"tanya Tika tanpa mengalihkan pandangannya.


Syila mengerutkan dahinya,"Inget apa?"


"Ck,katanya tadi ngajak Devan istirahat bareng" dan Syila langsung membelalakan matanya.


"Oh iya!" Syila terlihat berfikir sejenak."Gak usah lah,sama kalian aja. Males gue kalo sama Devan,gue doang yang ngoceh. Sedangkan dia cuma ngerespon 'hm','iya','nggak' atau angguk angguk doang sama geleng geleng. Ngerasa kayak orang **** gue kalo ngomong sama dia"lanjut Syila sambil bersedekap dada.


"Ha ha ha...gitu ya?"Tika tertawa garing,dan Syila menganggung angguk membenarkan.


"Mending lo ngomong sama orangnya langsung aja ya Syil. Bye bye,take care!" Syila menepuk pundak Syila dua kali lalu berjalan melewati Syila,begitu juga dengan Sera yang mengikuti Tika di belakangnya.


Syila mengrenyit,"Kok gue ditinggal? Terus tadi maksudnya gue ngomong sama orangnya langsung,gimana? orangnya disini aja nggak" Sambil berfikir Syila membalikkan tubuhnya,lalu jidatnya langsung menabrak sesuatu yang cukup keras.


"Kok ada tembok disi-" ucapan Syila terhenti setelah membuka matanya yang tadi otomatis tertutup saat menabrak sesuatu.


"Kok tembok ada kainnya?"tangannya meraba-raba tubuh bidang seseorang."Tapi sejak kapan tembok dibangun disini? Tadi perasaan gue kesini belom ada" Syila mendongak,matanya bersitubruk dengan sorot mata yang tajam dan dalam.


"Eh bukan tembok ternyata" Syila menyengir bodoh,lalu mundur selangkah bersiap-siap ingin berlari. Tapi belum ada 3 langkah ia berlari,tangannya sudah dicekal oleh pemilik dada bidang tersebut.


"Mau kemana?"tanyanya dengan nada datar. Syila menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.


"Hehehe...mau nyusul Tika sama Sera"jawabnya sambil cengengesan. Dan tentu hanya dibalas tatapan datar oleh orang tersebut.


"Ing-inget kok,cuma mau duluan aja. Hehehe...niatnya mesenin makanan duluan gitu loh... Baik kan gue?" Syila merutuki kemampuan berakting nya yang the best itu hilang kemana,karena entah mengapa selalu tidak berfungsi saat berada berdua dengan Devan. Ya,orang tersebut adalah Devan.


"Gak usah,bareng aja"ucapnya masih dengan nada datar. Lalu menggandeng tangan Syila dan menariknya keluar kelas.


Di koridor,banyak yang menatap mereka. Tidak lebih tepatnya menatap wajah tampan Devan. Dan,tak sedikit pula yang menatap Syila sinis.


"Gak usah dilihatin balik" Syila menoleh ke arah Devan,lalu berucap,"Nggak. Gue bakal berusaha punya telinga kayak punya Sera" Devan melirik Syila sekilas,ia sedikit bingung maksud ucapan Syila tadi.


***


Saat ini Syila dan Devan berada di parkiran sekolahnya. Devan menyodorkan helm satunya lagi untuk dipakai Syila. Syila menerimanya dengan kepala yang terus menolah-noleh,entah apa yang ia takutkan.


"Kenapa?"tanya Devan yang sudah tak bisa memendam untuk tidak bertanya.


Syila menoleh,"Hah? Apa?"


"Kenapa?"Devan mengulangi pertanyaanya.


"Kenapa?"dan Syila malah bertanya balik. Devan berdecak.


"Kenapa tengak-tengok?"tanyanya lebih jelas. Dan Syila mengangguk mengerti.


"Nggak,cuma...itu...cuma...ngelihat,si Tika sama Sera udah pada balik apa belom"jawabnya dengan setengah berfikir lalu segera memakai helmnya. Dan Devan percaya begitu saja. Ia menyalakan mesin motornya lalu mengintrupsi agar Syila segera menaik.


Mereka segera melaju meninggalkan parkiran yang hanya tinggal beberapa motor saja yang masih terparkir.


Syila dan Devan tidak tau,kalau sedari tadi ada yang memperhatikan mereka dengan tangan terkepal.


Sesampainya dirumah,Syila segera turun dan memberikan kembali helmnya,tak lupa juga berterima kasih.


"Thanks ya Van,udah mau antar jemput gue. Berasa jadi ngojek gratis gue"Syila terkekeh.


"Gue balik"ucap Devan tanpa merespos ucapan Syila.


"Hati-hati!!"ucap Syila sedikit berteriak karena Devan sudah melaju beberapa meter.


Senyumannya berubah menjadi raut wajah datar,tangannya bergerak untuk membuka slot gerbang,lalu memasukinya,tak lupa ia menutupnya kembali. Ia melangkah dengan sedikit tergesa gesa. Ia berencana memasuki kamarnya secepatnya.


Saat ingin membuka handle pintu kamarnya,ada suara yang mengintrupsinya,menyuruhnya agar berbalik.


"Syifa? Ada apa?"tanya ku ramah,sambil kembali menarik kedua sudut bibirku keatas. Tentu saja tak dia dibalas,malah memasang muka jutek dan datar.


"Lo pulang bareng Devan?"tanyanya dan Syila mengangguk.


"Gue udah bilang. Jangan pernah deket-deket sama Devan!!"bentaknya yang membuatku memejamkan mata. Jangan berfikir kalau aku akan membalas perkataannya,seperti halnya aku membalas perkataan Maura. Tidak,aku tak mau menambah masalah yang sudah menumpuk di kepala ku.


"Lu tuh emang anak yang gak tau diri ya?"


~XXX~