
Setelah terlempar sangat jauh, Sisy langsung berusaha bangun. Tubuhnya terasa sakit.
"Hebat juga hewan kecilmu ini," ucap Bellatrix sambil memperlihatkan swooping evil yang telah mati.
Sisy terkejut melihat hewan itu mati. Bellatrix tertawa dan melempar swooping evil ke arahnya. Sisy segera mengambil swooping evil dan memeluknya. "Maafkan aku."
"Untuk apa menangisi hewan kecil itu?" tanya Bellatrix.
"Kamu tidak akan mengerti walaupun aku beritahu karena kalian para anggota death eater tidak punya hati nurani!" bentak Sisy.
"Yah lagi pula aku juga tidak peduli," ujar Bellatrix acuh.
"Hebat juga kamu bisa membebaskan anak-anak itu dari sini. Bagaimana caramu mengeluarkan mereka?" tanya Voldemort yang baru saja datang.
Bellatrix langsung membungkukkan tubuhnya. "Maaf tuanku, saya hanya berhasil menahan nona ini."
Voldemort mendekati Sisy yang terus menjauh darinya. "Jangan takut."
"Sebenarnya apa yang anda inginkan?!" tanya Sisy.
"Aku? Aku menginginkan keabadian," jawabnya.
Sisy mengernyitkan dahinya. "Apa hubungannya keabadian dengan Harry? Kenapa anda sangat ingin membunuh Harry?"
"Karena waktu kita masih panjang sepertinya tidak apa-apa kalau aku menceritakannya. Jadi, aku pernah mendengar rama—"
"Jadi anda sangat ingin membunuh Harry hanya karena sebuah ramalan?!" potong Sisy.
"Tidak sopan!" Bellatrix mengarahkan tongkat sihirnya ke arah Sisy tapi
Voldemort memerintahkan dia untuk menurunkan tongkat sihirnya.
"Benar. Tetapi kamu pasti tau kalau ramalan profesor Hogwarts tidak pernah salah," jawabnya.
Ya, Sisy pernah mendengar hal itu. Yang diramalkan oleh profesor Hogwarts tidak pernah salah.
"Ramalan apa yang sebenarnya pernah anda dengar sampai mengincar Harry seperti ini?" tanya Sisy.
"Kejatuhanku akan terjadi karena seorang bayi yang lahir di bulan Juli dari orang tua yang pernah menolakku tiga kali dan orang itu adalah Potter. Karena itulah aku harus membunuhnya," jawab Voldemort.
"Kalau begitu kenapa anda tidak membunuhnya sejak bayi saja?" tanyanya lagi.
"Aku tidak bisa. Orang tuanya melindungi dia. Bahkan saat orang tuanya sudah mati, bayi itu tetap terlindungi karena itulah aku menunggunya sampai sedikit lebih besar," jelas Voldemort.
"Itu tidak adil. Dia tidak tau apa-apa tentang kejatuhan anda," tutur Sisy.
Voldemort menatap tajam ke arah Sisy. "Itu juga tidak adil bagiku, nona. Keabadian yang selalu aku jaga akan hancur karena bocah itu."
Rasa takut mulai terlukis di wajah Sisy. "I-itu artinya anda tidak ditakdirkan untuk abadi. Kenapa anda sangat terobsesi dengan keabadian?"
Voldemort mendekati Sisy dan mengelus wajah cantiknya. "Dengan keabadian, aku bisa menguasai seluruh dunia. Aku akan membunuh semua muggle dan mudblood agar hanya pureblood yang tersisa di dunia ini. Dengan bantuan para pengikutku, tidak ada satupun muggle dan mudblood yang akan tersisa."
Sisy terkejut dengan perkataannya. Sekarang dia paham kenapa dirinya harus tetap hidup karena dunia membutuhkannya untuk mengalahkan orang gila seperti Voldemort dan pengikutnya. Perasaan marah memenuhi dirinya. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Aku akan menghentikan anda supaya tidak bisa melakukan itu!"
"Hahaha bagaimana caramu menghentikanku?" tanyanya remeh.
Sisy meletakkan swooping evil di tanah.
Dia bangkit dan mendekat ke arah Voldemort. "Ingin tau bagaimana caraku menghentikan anda?"
"Menjauh dari tuanku!" bentak Bellatrix.
Voldemort mengangkat tangannya yang artinya Bellatrix harus berhenti bicara. "Iya, aku ingin tau."
Sisy menunjukkan senyuman liciknya. "Anda yang menginginkannya."
Dia mulai menyerang Voldemort secara terus menerus. Bellatrix yang ingin membantu Voldemort pun dihentikan oleh hewan magis yang telah dikeluarkan oleh Sisy dari koper milik Newt.
"Sialan, hewan apalagi ini?!" tanya Bellatrix kesal sambil menyingkirkan hewan itu.
Voldemort melawan balik serangan itu. Sisy mulai terluka tapi dia terus menyerang Voldemort tanpa henti. Sampai akhirnya kekuatan pangeran kegelapan mulai melemah dan dia memutuskan untuk pergi. Bellatrix juga pergi mengikuti tuannya itu.
"Jangan lari kau!" teriak Sisy.
Gadis itu langsung menghirup nafas dalam-dalam. Tubuhnya terasa sakit, nafasnya sangat sesak. Sisy tidak bisa mengendalikan emosinya sekarang. Rasanya dia ingin membunuh Voldemort dan para pengikutnya sekarang juga.
"Sisy."
"Nona Garcia."
Tiba-tiba telinganya berdengung, kepalanya berputar-putar sampai membuatnya merasa pusing. Sisy mendengar orang-orang memanggil namanya. Siapa? Siapa yang memanggilnya?
"Teman-teman?!" Sisy baru ingat kalau dia harus keluar dari sini atau teman-temannya akan marah.
Dia pun mencoba membuat lingkaran sihir lagi dengan sisa kekuatannya. Lingkaran sihir mulai terbentuk. Sisy mengambil koper Newt dan memasukkan semua hewan magis yang dia keluarkan tapi ada satu hewan yang tidak ingin masuk yaitu zouwu.
"Ayo kucing manis, kamu harus masuk ke dalam koper ini," bujuk Sisy.
Bukannya masuk ke dalam koper, hewan itu malah mengeluskan kepalanya ke tubuh Sisy dan menatapnya dengan tatapan memelas.
"Kamu tidak ingin masuk ke koper ini? Baiklah, kita masuk ke lingkaran sihir ini bersama-sama."
Setelah lingkaran sihir terbentuk sempurna, Sisy masuk ke lingkaran sihir itu bersama zouwu.
Hal pertama yang dilihat olehnya adalah ekspresi wajah terkejut dari mereka semua.
"Aku kembali," ucap Sisy sambil tersenyum.
Sedetik kemudian Sisy muntah darah dan dia merasa tubuhnya melemah. Dengan cepat, Draco menangkap tubuh Sisy sebelum gadis itu jatuh ke tanah.
"Sisy?!"
"Aku baik-baik saja," jawabnya.
"Tubuh anda banyak sekali luka, nona Garcia," ucap profesor McGonagall.
Profesor Dumbledore mulai memberikan perintah. "Para penonton silakan bubar dan kembali ke asrama masing-masing. Profesor McGonagall, tolong bawa para peserta dan nona Garcia ke rumah sakit. Dan profesor Snape, selidiki kasus hari ini."
Draco bersiap menggendong Sisy tapi Sisy menahannya. "Aku bisa jalan sendiri, Draco."
Harry dan Ron yang bersiap untuk menggendong Sisy juga langsung dilarang olehnya. "Aku bisa berjalan dengan kedua kakiku. Jangan ada yang coba-coba menggendongku."
Kedua laki-laki itu pun mengurungkan niatnya.
"Biarkan aku membantumu berjalan, Sisy," ucap Hermione.
Sisy mengangguk.
Harry dan Ron yang merasa tidak terima pun protes pada Sisy. "Kenapa Hermione boleh membantumu sedangkan kami tidak?"
"Karena Hermione berniat membantuku berjalan bukan menggendongku," jawab Sisy.
"Kenapa tidak bilang sih?!" tanya Harry dan Ron.
"Kalian saja yang tidak berpikir ke sana," jawab Sisy acuh.
Hermione membantu Sisy berjalan dengan memapahnya.
Sesampainya di rumah sakit, Hermione membantu Sisy untuk duduk di tempat tidur.
"Banyak sekali pasien hari ini," ujar madam Pomfrey.
"Begitulah, madam Pomfrey," balas Ron.
"Loh? Kenapa nona Garcia juga terluka? Apakah nona Garcia juga peserta turnamen?" tanya madam Pomfrey.
"Banyak yang terjadi, madam Pomfrey," jawab Hermione.
"Kemarin nona Garcia terluka dan sekarang terluka lagi. Sepertinya turnamen sihir Triwizard itu perlu dihilangkan," omel madam Pomfrey.
"Sudahlah madam Pomfrey, jangan mengomel terus. Lebih baik anda obati mereka," balas Ron.
"Hei, tidak sopan!" kesal madam Pomfrey.
Madam Pomfrey mulai mengobati Sisy karena dialah yang paling parah.
"Astaga sayang, banyak sekali luka di tubuhmu," kata madam Pomfrey meringis.
Sisy hanya tersenyum.
Setelah mengobati Sisy, madam Pomfrey beralih ke Harry dan yang lainnya.
"Ingat, lukanya jangan sampai terkena air!" peringat madam Pomfrey.
"Baik, madam Pomfrey," jawab mereka serempak.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Madam Pomfrey pun pergi.