Different

Different
Bab 5



Author POV


"Ke-te-mu"


Jederrr!!


Seperti ada petir yang sedang menyambar disiang bolong. Syila mati kutu,dan hanya menunjukkan ekspresi tersenyum bodoh.


"E-eh...Devan. Apa kabar?"


Apa-apaan sih lo Syil,gaje banget rutuk Syila dalam hati,masih dengan senyum anehnya. Devan mengangkat sebelah alisnya,lalu ia kebali berdiri tegap dan membantu Syila keluar dari kolong meja.


"Hehehe...makasih ya Dev,udah mau bantuin"dan hanya diangguki oleh Devan.


"Kenapa ngumpet?"


"Hah? Apa?" Devan memutar bola matanya malas. Sudah hafal tabiat Syila yang pura-pura tidak kedengeran saat ia introgasi.


"Lu tadi kenapa ngumpet dikolong mejanya bu Gina?"


Apa tadi?Satu,dua,tiga,empat,lima,enam,tuj-


Wow! Syila seharusnya mengabadikan momen ini,karena ini terjadi sangat-sangat langka. Devan tidak biasanya berbicara lebih dari 3 kata. Itu sungguh sebuah keajaiban seorang Devan. Sayang,saat ini momen nya sungguh sangat tidak pas,untuk hal-hal tersebut.


Syila malah bengong.


"Hei!"panggil Devan sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Syila.


"Eh,iya.Jadi tadi tuh ada cowok gila yang ngejar-ngejar gue gitu. Hehehe...Biasa...orang cantik mah banyak yang ngejar-ngejar" Syila pura-pura tersenyum bangga sambil menyibakkan rambut panjangnya ke belakang. Padahal didalam hati ia malunya setengah hidup.


"Hmmm....Cowok gila ya?"tanya Devan sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Syila.


"Ha-iyha..."Syila berusaha mendorong dada Devan,agar wajah Devan menjauh dari wajahnya.


Wangi mint bercampur dengan harum vanilla, menguar di indra penciuman Syila,yang entah sejak kapan membuatnya nyaman. Tanpa sadar ia memejamkan matanya menghirup dalam dalam aroma tersebut.


Kesadarannya kembali saat ada suara memergoki mereka.


"Ekhem!!" suara bass itu membuat mereka kembali ke posisi semula. Syila mati-matian menahan malu,karena entah sejak kapan semua guru disana memperhatikan mereka berdua.


"Kalo mau pacaran jangan diruang guru,gak elit banget sih"


"E-eh...bapak,maaf pak. Saya pamit keluar dulu" Tanpa menunggu jawaban,Syila segera keluar dari ruang guru tersebut,dan memilih pergi menuju kelasnya. Mengabaikan ledekkan dan siulan para guru yang sedang menggodanya. Ingin sekali rasanya ia mengubur dirinya hidup-hidup sekarang saking malunya.


Mukanya merah merona,karena malu. Ia berjalan menunduk hingga menabrak beberapa orang yang sedang berada di koridor. Tanpa meminta maaf,ia tetap melanjutkan acara berjalan terburu-burunya.


***


Saat ini Syila sedang berada di kelas. Duduk di kursinya sambil menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Tika dan Sera yang memperhatikannya sejak tadi, saling berpandangan,saling bertanya ada apa dengan Syila. Karena sejak bel masuk berdering,Syila masih setia di posisi tersebut, 30 menit ia habiskan hanya untuk menutupi wajahnya. Untung saja saat ini kelas mereka sedang class free.


"Eh munyuk,muka lo ngapain di tutupin begitu dari tadi,hah?"tanya Tika sambil menoyor kepala Syila.


Masih dengan tangan yang menutupi wajahnya Syila menjawab,"Gak kenapa-kenapa"ucapnya dengan suara teredam di telapak tangan.


"Kalo gak kenapa-kenapa,tuh muka lu tutupin? Gak pengap apa?"Tangan Tika bergerak untuk membuka tangan Syila yang menutupi wajahnya.


"Tuh kan...merah semua muka lu"Syila menyengir.


"Lu sakit?"tanya Sera dan dijawab gelengan oleh Syila.


"Lha terus?"


Syila tersenyum kikuk. Ia lantas memutar otaknya untuk memberikan alasan,karena tak mungkin ia memberi tahu kejadian sebenarnya.


"Mungkin ini gara-gara gue tutupin terus kali tadi. Cuacanya kan panas"jawabnya sambil menunjukkan cengiran khasnya,Syila berterima kasih terhadap bakat akting nya yang mungkin sudah menjadi bakat alami sejak lahir.


"****, orang cuacanya mendung gini"


"Justru mendung yang membuat udaranya panas"


"Iyain"


"Dih,emang bener kok"


Tika yang mengerti sutuasinya langsung mengalihkan pembicaraan.


"Ja-jangan dulu deh,dirumah gue lagi ada acara. Kapan-kapan ya"


"Yah...alesan mulu lu. Dari dulu ada....aja alesannya"Tika menyilangkan kedua tangannya di depan dada,sambil membuang pandangannya.


"Bukan alesan Tika ku sayang...emang sekarang lagi ada acara. Lagian...emang lu mau ketemu sama Syifa?"


Tika tampak berfikir,"Oke,gue gak bakal kerumah lo"ucapnya pada akhirnya,yang membuat Syila lega. Gampang sekali membujuk Tika ini,pikir Syila.


"Tapi..." Tika menatap Syila dengan mata menyipit.


"Tapi apa?"


"Tapi...weekend kita jalan jalan!!" Senyum Syila mengembang.


"Setuju"


***


Syila POV


Bel pulang sudah berdering. Aku cepat-cepat membereskan barang-barangku yang berada di atas meja.


"Girls,gue duluan ya!"pamit ku dan langsung berlari keluar,tanpa mendengar jawaban Tika dan Sera.


Dukk


"Aduhhh jidat guee!" Aku mengelus-elus keningku karena rasanya lumayan sakit. Bagaimana tidak sakit,kalau yang ku tabrak itu sesuatu yang cukup keras.


"Mau kemana?" Aku mendongak. Ternyata yang ku tabrak tadi adalah lengan Devan yang menghalangi pintu kelas.


"Devan! Minggir! Gue mau balik"


Aku berusaha mendorong lengan Devan yang menghalangi jalan keluar ku agar tidak bisa keluar.


"Gak. Lo ikut gue"ucapnya tegas. Aku kembali teringat akan ucapan Syifa.


"Gu-gue disuruh pulang cepet Dev"


"Yaudah,gue anterin"


"Ga-gak usah lah...gue mau mampir ke toko buku sebentar"


"Gue anterin" Nih anak keukeuh banget sih mau nganterin gue balik. Nanti kalo Syifa tau gimana dong. Gue berusaha memutar otak agar menemukan jawaban yang masuk akal.


"Gak usah Devan...Gue lagi pingin pulang sendiri"ucapku yang masih bersabar.


"Atau lu ngehindari gue ya?"tanyanya dengan tatapan menyelidik. Aku gelagapan,tau saja si Devan ini jika aku sedang menghindarinya.


"Ng-nggak kok,emang beneran"


"Pokoknya gue anterin"


"GUE BILANG NGGAK,YA NGGAK,DEVAN!!"


Eh,kenapa aku membentaknya? Sungguh aku tak sengaja membentaknya,aku hanya kesal saja karena dia keras kepala sekali. Gak papa lah,itung-itung itu salah satu cara ku untuk move on darinya. Lagi pula aku lagi malas berdebat dengan Syifa untuk masalah seperti ini.


Kelihatannya lengan Devan yang menghalangi ku melemah. Tanpa mau membuang kesempatan,aku segera menubruk lengannya yang melemah dan segera berlari kencang tanpa menoleh kebelakang,melewati beberapa koridor agar bisa keluar sekolah.


Saat sampai di halte,aku memesan taksi online. Selang beberapa menit,taksi yang ku pesan pun datang. Dengan cepat taksi tersebut ku masuki dan meminta pak supirnya agar segera berjalan.


Aku sampai rumah. Tapi...entah kenapa perasaan ku tak enak.


"Assalamualaikum" tak ada jawaban seperti biasanya. Kaki ku melangkan menuju kamar ku. Tapi karena hal tersebut lah,yang membuatku melewati ruang tamu. Disana ada Syifa yang sedang bergelayut manja di lengan papa,dan papa yang tersenyum lembut kepada Syifa.


Dari dulu...aku memang tidak percaya kalau Syifa itu diperalat oleh papa. Karena apa? Karena papa masih selalu membiarkan Syifa bermanja-manja dengannya,masih menuruti apa perkatannya dan masih suka membela nya. Itu kah yang disebut diperalat?


Tentu bukan.


Syifa hanya iri saja jika aku memiliki kebebasan. Iya,kebebasan. Kebebasan,yang bahkan jika aku pulang sudah tak bernyawa pun papa tetap tak pernah sudi memelukku,tak pernah sudi tersenyum lembut kepadaku, bahkan melirikku saja seakan akan itu dapat membuatnya buta.


~XXX~